
Di apartemen Yoga, sesiangan ini dia baru terbangun. Di sebelahnya tergolek seorang wanita tanpa busana yang disewanya semalam untuk melampiaskan kegundahan dengan cara menyalurkan nafsu bejatnya.
Botol-botol minuman beralkohol berserak di lantai, putung-putung rokok ikut bertebaran di mana-mana. Bau minuman beralkohol bercampur asap rokok membuat suasana di dalamnya begitu pengap, beum lagi gorden warna abu-abu tua yang belum disibak semakin menambah kesan muram di dalamnya.
Yoga terduduk, memijat pelipis dan menyandarkan tubuhnya. Jam weker di sebelahnya menunjukkan pukul sebelas siang. Perihal pembatalan kemitraan Sinar Abadi Grup dengan perusahaannya merupakan berita buruk. Dia dibuat kalang kabut, karena nama besar perusahaan tersebut sangat berpengaruh besar pada nasib Homeshopping ke depannya.
Banyak perusahaan yang mengajukan pemintaan kerja sama setelah dia berhasil menggaet nama besar Sinar Abadi Grup sebagai mitra. Padahal dulu, Yoga cukup kesulitan mencari perusahaan besar untuk bermitra, paling hanya retail, industri menengah ke bawah dan perusahaan berskala kecil, mengingat dia masih baru berkecimpung di bidang situs aplikasi penjualan online.
Banyak yang berbondong-bondong ingin menjadi mitra Homeshopping dan memercayakan produk terbaik mereka untuk dipasarkan. Mereka tertarik saat sekelas perusahaan besar seperti Sinar Abadi Grup yang penjualannya menembus pasar internasional dengan produk premium memutuskan bermitra, sudah pasti prospek bisnis serta kinerja Homeshopping sangatlah kompeten dan terpercaya.
Yoga merasa di atas angin, membuatnya makin besar kepala. Dalam waktu singkat perusahaannya meroket, nama Homeshopping menjadi buah bibir dan popularitasnya menjulang pesat. Kucuran dana dari bank pun digelontorkan tak tanggung-tanggung oleh pihak bank ketika dia mengajukan pinjaman, adanya nama besar Sinar Abadi Grup dan beberapa perusahaan lainnya yang menjadi mitra bisnisnya, menjadikan pihak Bank sangat yakin prospek perusahaan itu ke depannya yang diprediksi akan semakin cemerlang.
Namun kini, Yoga merasa berada di ujung tanduk. Apalagi dana yang dihamburkannya untuk berlibur ke luar negeri selama hampir sebulan berasal dari uang pinjaman bank juga dana dari para investor yang diperuntukkan untuk memeperluas jaringan perusahaan.
Sebelumnya Yoga menyakini, dalam beberapa waktu ke depan akan semakin banyak perusahaan yang ingin bergabung dengannya. Jadi akan lebih banyak uang yang mengalir, dan dana yang dipakainya berlibur akan terganti dengan cepat tertutup dari investor yang lainnya.
Hanya saja jika mitra lain mengetahui Sinar Abadi Grup memutus kerja sama dan tak meletakkan kepercayaan lagi pada homeshopping, maka sudah dipastikan yang lainnya akan mengikuti jejak dan menarik produk mereka.
Semua kucuran dana juga uang dari para investor hampir ludes. Yoga berlibur ke beberapa tempat terkenal di dunia. Menyewa jalang juga mengumbar nafsu bermain di meja judi di casino-casino terkenal yang ada di negeri orang.
Teleponnya berdering. Tertera nama sekretarisnya yang menghubungi.
“Pak, kenapa Anda belum datang ke kantor? Ada beberapa mitra yang menghubungi dan menanyakan perihal raibnya produk Sinar Abadi Grup di situs penjualan kita, sepertinya mereka baru menyadari. Bagaimana saya harus menjawabnya?”
Yoga berdecak kesal. Ia hendak menyemburkan amarahnya pada si sekertaris, tetapi kemudian mengurungkannya saat jalang di sebelahnya terbangun dan mulai menggerayanginya lagi kemudian membenamkan wajah di balik selimut tepat di pusat tubuhnya.
“Katakan saja pada mereka, bahwa produk Sinar Abadi Grup sedang ditarik sementara karena akan berganti kemasan baru. Aku sedang menunggu kabar dari sekertaris Pak Malik, akan kugunakan cara apapun agar mereka mau kembali bermitra. Bagaimanapun juga nama besar Sinar Abadi Grup sangat berpengaruh pada kesuksesan bisnis kita. Jangan lupa usahakan agar para mitra kita yang masih menjalin kerjasama untuk menambah dana investasi, tak peduli bagaimana cara yang kamu gunakan. Dana kita menipis! Aku akan ke kantor tiga jam lagi, sekarang aku harus menyelesaikan urusan yang lebih mendesak."
Yoga melempar ponselnya dan menarik jalang yang sedang memancing bermain-main di pusat tubuhnya, lalu menindihnya untuk menuntaskan hasrat binatangnya sesegera mungkin.
*****
“Honey?”
“Ya, kenapa?” jawab Viona yang kini sedang sibuk membuka kotak-kotak makanan yang dipesan dari restoran jepang di meja depan sofa diruangan kantor Bima. hari ini mereka berdua hendak makan siang bersama, Viona datang ke kantor Bima setelah suaminya itu menelepon dan merengek ingin makan berdua dengannya.
“Dua hari lagi aku ada jadwal seminar bisnis di Bali.” Bima mengenyakkan diri di samping Viona. menggulung kemejanya sampai siku dan menerima sumpit yang diserahkan Viona.
“Bali? Berapa hari?” tanya Viona yang kini tengah menuang teh ocha khas jepang ke dalam gelas.
“Tiga hari.” Bima menghela napas panjang dengan wajah murung.
“Ada apa, Mas?”
“Aku malas pergi ke sana?” Bima mendesah resah, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Viona dan bersandar manja.
“Kenapa memangnya?”
“Nggak ada kamu, jadi aku malas pergi. Harus berjauhan denganmu membuatku tak semangat.”
Viona tergelak hingga bahunya berguncang dalam tawa. “Ya ampun, kenapa Mas sekarang jadi manja banget sih, perasaan dulu nggak gini deh.”
“Itu dulu. Sekarang beda lagi,” protesnya mulai cemberut.
“Tapi sebagai seorang pimpinan, Mas tetap harus pergi, seorang presdir harus tetap professional dan bertanggung jawab dalam mengemban tugasnya.”
“Kamu benar. Akh… aku akan merana selama tiga hari karena jauh darimu, aku akan merindukan istriku yang memakai lingerie seksi setiap kali hendak tidur,” keluhnya.
Viona terkikik geli “Cuma tiga hari, kita bisa video call setiap saat.”
“Mmm… bagaimana kalau kamu ikut. Temani aku pergi, anggap saja sekalian berbulan madu.” Bima menaikkan sebelah alisnya disertai tatapan penuh arti.
Viona tampak berpikir dan menimbang. “Sepertinya ide bagus. Baiklah, aku akan ikut.”
Viona mengiyakan, lagipula ia pun sejujurnya enggan berjauhan dengan Bima mengingat mereka baru kembali bersama. Akan tetapi sebagai seorang istri dia harus menyemangati bukan menyurutkan semangat sang suami dalam bekerja.
Bima tersenyum senang, kemudian mengecup mesra bibir Viona. “Makasih istriku, sudah mengerti aku.”
Dua sejoli yang dimabuk cinta itu saling berpandangan mesra satu sama lain.
“Sama-sama, suami manjaku.” Viona tersenyum merekah. Tak tahan dengan ranumnya bibir itu, Bima memagut dan menyesapnya beberapa saat hingga kini bibir keduanya sama-sama basah.
“Akh… kamu selalu membuatku lupa diri dan menginginkanmu di sini sekarang juga,” desah Bima parau sambil mengusap bibir basah Viona dengan ibu jarinya.
“ingat, Ini di kantor. Sekarang waktunya makan, Tuan. Ayo aaa…..”
Viona menyumpit potongan sushi dan menyuapkannya ke mulut Bima. ia cepat-cepat mengalihkan fokus suaminya, jika tidak bisa-bisa Bima akan menelanjanginya di dalam ruangan itu saat ini juga.
“Baiklah, kalau nggak boleh sekarang, nanti malam tambah satu ronde dari biasanya ya,” rengeknya seperti bocah yang menginginkan mainan di sela-sela kunyahnnya.
“Iya, iya suamiku. Sekarang lebih baik berhenti memikirkan itu dan kita fokus mengisi perut.”