
Nara tertidur pulas siang itu sambil memeluk si keluarga beruang. Ia bahkan tersenyum senang dalam tidurnya. Viona keluar dari kamar Nara lalu mendudukkan diri di samping Juna yang sejak tadi menekuk wajahnya sambil memindah-mindahkan channel televisi, entah apa tayangan yang sedang dicarinya.
“Jun, kamu kok belum pulang?”
Juna biasanya hanya mampir sebentar, ikut makan bersama dan segera pulang karena Viona sering mengatakan tak enak dengan tetangga jika Juna terlalu lama berkunjung, takut akan tanggapan miring orang-orang lantaran status jandanya.
“Jadi kamu ngusir aku?” jawab Juna ketus. “Kamu tadi bahkan meminta si brengsek itu untuk minum dulu di sini, tapi sekarang kamu malah menyuruhku pulang!” Juna berdecak kesal.
“Kamu kok jadi sensitif gini sih?” balas Viona sewot. “Itu hanya adab terhadap tamu, lagipula bagaimanapun juga dia itu ayahnya Nara.”
“Tapi sudah ada aku bukan, apakah itu tak cukup? Aku pun mampu menjadi ayahnya Nara. Dan juga bukankah sekarang kita sedang menjalin hubungan yang lebih serius? Seharusnya kamu menjaga jarak dengan mantan suamimu!”
Juna adalah tipe pencemburu posesif, dulu Viona belum mengetahuinya karena Juna belum menunjukkannya saat Viona belum memutuskan menerima. Tetapi sekarang situasinya berbeda, Juna mulai serakah lantaran takut wanita idamannya kembali pada mantan suaminya.
“Tadi itu situasi tak terduga. Aku pun tak menyangka bertemu dengannya secara tiba-tiba dengan Nara di tengah-tengah kami,” jelas Viona.
Viona mendadak merasa tak nyaman dengan sikap Juna, namun ia juga tak tega jika terlalau keras pada lelaki ini, selama ini Juna sudah banyak membantunya, walaupun sejujurnya ia memutuskan menerima Juna bukan karena rasa cinta, melainkan karena hutang budi juga kedekatan lelaki itu dengan Nara.
Juna mematikan televisi lalu menatap Viona lekat-lekat. “Aku hanya takut, takut kamu goyah dan kembali lagi padanya,” ucap Juna dengan nada putus asa.
“Bukankah kita sedang mencoba? Kamu juga sudah setuju untuk memulai hubungan ini secara perlahan, kan?” imbuh Viona.
“Kalau begitu segeralah menikah denganku. Kita juga bisa mencobanya perlahan meskipun sudah menikah bukan?” usul Juna dengan nada menuntut.
Juna tahu Viona sedang berusaha terbebas dari pelukannya. Dia tak membiarkan itu terjadi dan malah menarik Viona semakin merapat kepadanya. Juna tahu ini salah, mereka belumlah sah, tetapi rasa cemburu tengah menguasainya, ia memagut bibur ranum Viona penuh kecemburuan, seolah ingin mematenkan kepemilikannya.
Wanita mungil itu memukul-mukul dada Juna, tentu saja itu tak berhasil karena tenaganya tak sebanding. Ditambah Juna yang mengunci pergerakkannya membuat Viona sulit mengelak. Ia kewalahan, melawan lelaki yang dibakar api cemburu bukanlah hal mudah.
Pria tampan berambut lurus itu merasakan rontaan Viona mengendur, ia semakin menanamkan bibirnya dalam-dalam meskipun pagutannya tak berbalas. Akhirnya lama kelamaan Viona mencoba menikmati cumbuan Juna di bibirnya, matanya memejam mencoba menelaah dan mencoba membangun rasa itu agar berdesir, namun justru yang memenuhi kepalanya kemudian hanyalah Bima, dan memang selalu begitu.
Dengan kuat Viona mendorong Juna dan segera bangkit dari duduknya. “Pulanglah! Hari ini kamu melewati batas!” ujarnya yang kemudian masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu dan mengunci diri di sana.
*****
Halo my beloved readers.
Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.
Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021
dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya.
Regards
Senjahari_ID24