Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Hanya perisai



Ting tong ... ting tong ....


Berulang kali bel sebuah apartemen terus berbunyi, pelakunya adalah seorang wanita yang menyeret koper berwarna merah di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk memencet bel terus menerus menginterupsi penghuni di dalamnya.


"Siapa sih ganggu banget!" gerutu Reva yang sejak tadi masih bergelung selimut tebalnya.


Kondisi kamarnya luar biasa pengap, penuh sesak dengan aroma alkohol dan bakaran tembakau dilengkapi pemandangan puntung rokok serta botol minuman keras yang berserak di lantai. Cahaya matahari hanya bisa mengintip sedikit saja, terhalang gorden berwarna coklat tua yang semakin menambah kesan muram membaur ke seluruh penjuru ruangan.


Tidak hanya itu, ternyata di atas tempat tidur, seorang pria muda bertato tengah saling bergesekan kulit dengan Reva memeluknya tanpa sehelai benang pun. Jika diperhatikan, pemuda itu berusia lebih muda beberapa tahun dari Reva.


"Kenapa sepagi ini sudah ada tamu?" gumam si pemuda yang menengelamkan wajah di belahan gunung kembar Reva dengan mata terpejam.


"Gue juga nggak tahu. Kal, minggir dulu, gue mau buka pintu." Reva hendak bangun, tetapi pria muda bernama Haikal itu masih memerangkap tubuhnya.


"Udahlah nggak usah dibuka, ganggu kesenangan orang aja!" dengusnya kesal.


"Hei bocah, minggir gak? Atau jatah Lo hari ini gak bakalan gue kasih!" ancam Reva.


Pemuda itu memutar bola matanya malas dan melepaskan rengkuhannya. Reva segera turun dari tempat tidur, menjumput kemeja Haikal yang teronggok di lantai dan memakainya sembarang guna menutupi tubuh polosnya.


Pintu dibuka, menampakkan Sesil dengan wajah kusut serta koper yang diseretnya. Reva mengernyitkan dahi sambil mengucek matanya lalu menguap tanda kantuk masih mendera.


"Kamu ngapain pagi-pagi udah ke sini? Bawa koper lagi?" cecar Reva di ambang pintu.


"Kita harus bicara, biarkan aku masuk. Kakiku pegal luar biasa karena berdiri di sini sejak tadi," ucap Sesil yang kemudian menyela masuk melewati Reva yang masih berdiri menghalangi akses jalannya.


Tentu saja kakinya tersiksa, sepatu model high heels berwarna silver setinggi dua belas senti adalah alas kaki yang dipakainya. Sesil membanting bokongnya di sofa dan menyadarkan punggung di sana, matanya memejam dan jemarinya memijat-mijat kepalanya sendiri.


"Ada hal penting apa? Oh iya, akhir pekan ini mintalah uang lagi pada Bima, gunakan saja kehamilan palsumu untuk memerasnya lebih banyak. Bila perlu berkunjunglah membeli beberapa potong pakaian ke butik istrinya untuk menakut-nakutinya. Minta saja kira-kira lima milyar rupiah dan kita bagi rata. Aku butuh uang itu segera untuk membeli mobil sport yang diinginkan pacar berondongku," seloroh Reva tanpa jeda.


"Kenapa tidak kamu pakai saja uang satu juta dolar yang waktu itu? Bahkan sampai sekarang aku belum mendapatkan bagian yang kau janjikan. Aku ke sini untuk menagih hakku," tegas Sesil dengan dagu terangkat.


"Uang itu semuanya sudah kuinvestasikan di bisnis pacarku supaya tiga bulan ke depan jumlahnya makin berlipat. Setelah itu baru kubagi denganmu, lebih banyak lebih bagus bukan?" sahut Reva santai.


"Kenapa kamu tidak membicarakan dulu tentang investasi ini denganku? Bagaimanapun juga aku yang menjadi perisai untuk mendapatkan uang itu. Pokoknya aku meminta bagianku sekarang juga!" seru Sesil memaksa.


"Heh jangan belagu! Yang memberi ide dan fasilitas untuk memeras Bima itu adalah aku, jadi keputusan semuanya terserah padaku. Kamu tinggal minta lagi saja pada Bima jika butuh uang!" bentak Reva dengan dada membusung.