Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Demi Kamu dan Si Buah Hati



Seperti orang kesetanan, Yoga terus meninju membabi buta seraya tertawa licik. Melayangkan pukulan bertubi-tubi memanjakan nafsu amarahnya, bertindak layaknya pecundang seolah menjadi kesenangan baginya. Rasa malunya sudah luruh, dihanyutkan arus sungai hingga tercerai berai jauh ke samudera lepas. Jika ingin diambil dan disatukan kembali sungguh perkara mustahil.


Bima berusaha tidak mengerang dan menahan kuat rasa sakit di sekujur tubuhnya agar Viona tak khawatir padanya. Ia tetap membisu, serta menahan diri untuk tidak bergerak melawan demi keselamatan istri dan anaknya.


Hidung Bima mulai mengeluarkan darah, pelipisnya robek begitu pun ujung bibirnya. Viona meronta, menjerit-jerit histeris melihat lelaki tercintanya terus dihantam tinju tanpa ampun.


“Mas, melawanlah! Jangan terlalu patuh padanya!” jerit Viona pada Bima.


“Tutup mulutmu Nyonya Bima! Suamimu tetap diam demi dirimu! Jadi kalau terjadi sesuatu padanya itu bukan salahku, tapi salahmu!” timpal Yoga dibarengi tawa sarkasnya.


“Hentikan bajingan brengsek! Dasar pecundang biadab!” jerit Viona diiringi tangisan yang pecah. Ia tidak rela suaminya diperlakukan seperti itu.


“Sayang … diamlah!” Bima berseru rendah setengah menggeram. Bukannya tak mau melawan, tetapi saat ini Viona dan bayinya adalah prioritas utama.


Yoga bukannya berhenti, malah tampak menikmati raut kengerian yang menyeruak di wajah Viona. Tangan Viona yang terikat ke belakang mengepal sambil terus menjerit tanpa henti.


Nia yang berdiri di belakangnya makin gemetaran sehingga tangannya yang tengah menggenggam rambut Viona mengendur. Ia tidak tahu harus berbuat apa di situasi semacam ini, gadis rapuh itu didera kebingungan sekaligus ketakutan dengan atmosfer mencekam yang melingkupi ruangan itu. Di sisi lain jiwanya yang lelah dia ingin melawan, tetapi kebengisan Yoga terus menghantuinya berusaha melemahkan keinginan melawannya.


“Kenapa kamu tidak mengaduh kesakitan, Bima!” Yoga tampak jengkel karena Bima sejak tadi membisu, mengatupkan bibirnya rapat-rapat tak mengaduh satu kali pun meski dipukuli membabi buta membuat Yoga merasa kalah.


"Kau pikir pukulanmu sudah pantas untuk membuatku mengaduh?" Bima menyeringai miring dengan tatapan mengejek pada Yoga, membuat bajingan itu naik pitam.


“Heh dalam situasi terdesak pun masih tak tahu diri!" hardik Yoga berapi-api. "Nia, ambilkan pisau lipatku di kamar, cepat!” titah Yoga dengan suara meninggi.


“U-untuk apa, Pak?” tanya Nia tergeragap.


“Jangan banyak tanya! Tentu saja untuk membuatnya mengaduh kesakitan!” tunjuknya pada Bima. "Cepat ambil!"


“B-Baik, Pak.” Nia melangkah lunglai sementara otaknya berseru berkecamuk. Jika sampai ada yang terbunuh di sini karena ulah Yoga, sudah pasti dirinya akan ikut terseret dan lengkaplah sudah penderitaannya.


Mendengar kata pisau, kewarasan Viona seolah direnggut paksa. Ia takkan sanggup menanggung beban kenyataan jika terjadi sesuatu yang buruk pada Bima.


Yoga kembali memukuli Bima. Dalam terjangan kekalutan, Viona berusaha mengurai ikatan di tangannya yang tadi sempat dilonggarkan Nia diam-diam saat sedang berdua di dalam kamar. Akan tetapi karena Yoga kembali masuk ke kamar, Nia menghentikan kegiatannya yang tengah membantu agar tak menimbulkan kecurigaan dan mengusahakan situasi tetap tenang. Karena jika terlalu gegabah, Nia khawatir bukan hanya dirinya yang celaka, tetapi Viona juga bisa ikut terluka.


Viona tak menyerah kendati permukaan kulit lengannya terasa perih akibat pergesekan kulit dengan tali yang mengikatnya. Akhirnya ikatan di tangannya terlepas. Tanpa pikir panjang Viona berlari, menyambar vas bunga di atas meja dan melemparkannya tepat ke kepala Yoga. Ketiga laki-laki itu terperanjat kaget terutama Bima dan Yoga.


Yoga mengerang kesal sembari memegangi kepalanya. “Beraninya kau!” Yoga berbalik merangsek ke arah Viona. Bima tak membuang kesempatan, dengan cepat membanting preman yang memeganginya dan menubruk Yoga mundur sebelum dapat menjangkau Viona.


“Mas awas!” jeritnya sambil berlari.


Jeritan Viona mengalihkan fokus Bima, membuatnya sedikit lengah sehingga pukulan Yoga kembali mendarat. Matanya membola ketika melihat Viona dengan asbak di tangan hendak menghadang si preman yang mengangkat kursi.


Secepat kilat Bima meninju Yoga yang tengah mencengkeramnya sekuat tenaga. Lalu berlari dan menyambar tubuh Viona hingga terlingkupi sepenuhnya olehnya.


Tak ayal lagi kursi kayu reyot itu mendarat tepat di tubuh belakang Bima hingga menimbulkan bunyi berderak. Bima tak sempat menghindar demi melindungi Viona. Ia limbung tetapi tetap menyeimbangkan tubuhnya dan darah semakin mengucur dari luka di pelipisnya. Si preman gagap yang menghantamkan kursi malah gemetaran setelahnya akan ulahnya sendiri.


Nia yang baru keluar dari kamar dengan pisau lipat di tangan tercengang melihat kekacauan yang tersaji. Yoga yang sudah dirasuki iblis mengambil vas bunga lainnya hendak dilayangkan kepada Bima yang merengkuh erat Viona. Menyaksikan hal itu, entah mendapat keberanian dari mana, Nia berlari ke arah Yoga dan menancapkan pisau lipat tersebut tepat ke bahu kanan Yoga.


"Jalang sialan! Berani-beraninya kamu!" teriaknya berang. Tatapan Yoga menghunus tajam pada Nia yang gemetaran.


Yoga berteriak kesakitan, sementara Nia mundur beberapa langkah. Yoga mendorong dan menghempaskan Nia hingga membentur tembok, lalu kembali merangsek hendak menyerangnya bertepatan dengan pintu yang didobrak kencang diiringi satu letusan peluru.


“Angkat tangan! Menyerahlah! Kami polisi, tempat ini sudah dikepung. Kalian tak bisa lari ke mana-mana!"


Yoga menelan ludahnya susah payah. Ia bermaksud menyambar tubuh Nia untuk dijadikan tameng, akan tetapi kalah cepat dengan polisi yang dapat membaca niatannya dan segera bergerak menembak kaki kanannya. Yoga jatuh berlutut seketika saat timah panas bersarang di kakinya, meraung-raung dalam kesakitan dan ketakutan yang nyata.


Nia meluruh ke lantai dengan pisau dan percikan darah di tangan, sedangkan si preman bertubuh gempal terkencing-kencing di celana saat diringkus oleh polisi.


“Sayang, kamu nggak apa-apa kan?” Bima melonggarkan dekapan eratnya, berucap lirih dengan raut wajah lega karena polisi telah datang kini.


“A-aku ... baik-baik sa-saja,” sahut Viona terbata dalam isak tangisnya. “Kamu terluka, Mas.” Viona meraba pelipis Bima yang terluka dan berdarah, lalu netra basahnya menyusuri menatap wajah lebam Bima berbalur rasa cemas yang kental sambil bercucuran air mata.


“Jangan menangis, ini hanya luka kecil. Yang terpenting bagiku kamu dan bayi kita selamat.”


Bima yang memang sudah babak belur akibat pukulan Yoga tanpa perlawanan sebelumnya yang kemudian disusul kursi kayu menghantam tubuh belakangnya mengakibatkan keseimbangan tubuhnya terganggu. Menguatkan diri untuk tak menyerah pada tubuh limbungnya, ia mengusap lembut kepala Viona dan melabuhkan kecupannya di sana. Pandangannya berangsur berkunang-kunang, lalu di menit kemudian tubuh jangkungnya terkulai tak sadarkan diri di pundak Viona.


“Mas … kamu kenapa? Mas bangun!” jerit Viona merasakan tubuh suaminya ambruk di pelukannya . Adrian tiba bersama polisi lainya setelah selesai membekuk preman di basemen.


Viona menjerit-jerit histeris. “Pak polisi, Adrian! Tolong suamiku … tolong Mas Bima!" teriaknya tak terkendali dengan air mata yang semakin membanjiri.


Adrian terperanjat. Ia segera mengambil alih tubuh tinggi sang bos yang terkulai ke tubuh Viona. Ternyata sisi belakang kepala Bima juga ikut terluka dan mengucurkan darah, sepertinya akibat dari hantaman kursi tadi.


Bima segera dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans. Sepanjang perjalanan, Viona tak hentinya menangis sambil memegang erat tangan Bima. “Mas, kamu harus kuat. Aku dan anak-anak kita membutuhkanmu. Aku akan membencimu jika kamu berani pergi meninggalkanku tanpa seizinku!” seru Viona pilu di sela-sela isak tangisnya.