
Aura sukacita menguar begitu kentara dari kamar perawatan Viona. Kedua keluarga datang secepatnya setelah mendengarkan kelahiran cucu kedua mereka.
"Bim, kenapa nggak ngabarin dari sebelumnya? Tahu-tahu cucu ganteng kami udah lahir aja." Annisa sang mama sedikit melayangkan protes lantaran tak ikut menunggui kelahiran cucu keduanya.
"Kontraksinya mendadak, Ma. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari acara pernikahan Adrian. Aku pun panik, dan juga begitu sampai tak berselang lama pembukaan jalan lahir sudah lengkap. Jadi aku tak ingat untuk bertukar kabar dengan Mama juga Ibu. Maaf," jelas Bima dengan suara rendah.
"Bu Annisa, bagaimana kalau kita lihat cucu kita. Biarkan Bima beristirahat sambil menunggui Viona. Saya sudah tak sabar ingin melihatnya," ajak Rima pada besannya. Bayi yang baru lahir masih ditempatkan di ruang bayi untuk dilakukan observasi beberapa waktu ke depan kendati tidak ada yang patut dikhawatirkan karena anak kedua Bima dan Viona lahir dalam keadaan sehat dengan bobot dan panjang tubuh ideal.
"Oh iya. Di mana Ayah dan Papa?" Bima celingukan mencari-cari sosok Malik juga Abdul, seingatnya tadi ia sempat melihat sesaat sebelum membersihkan diri alakadarnya dan berganti pakaian.
"Mereka berdua langsung ke ruang bayi bersama Nara. Makanya Mama juga pengin cepet-cepet lihat ke sana."
Rima mendekati ranjang dan mengecup kening Viona begitu juga dengan Annisa. "Istirahatlah, Nak. Kami mau melihat jagoan dulu. Ini semua jangan lupa dimakan." Rima menunjuk ke arah meja samping ranjang yang sudah dipenuhi makanan penuh gizi pemulih stamina.
"Iya, Sayang. Supaya lekas pulih dan juga biar ASI-nya cepet keluar dengan subur." Annisa menimpali sambil mengusap kepala Viona yang berbaring masih tampak pucat. "Mama sama Ibumu mau ke ruang bayi dulu."
Viona mengangguk sembari mengulas senyum. "Iya, Bu, Ma. Pegilah. Kalian harus segera melihat anak keduaku, dia sangat tampan, aku pun tak sabar itu ingin segera memeluknya lagi," ucap Viona dengan mata berbinar bahagia.
"Untuk sekarang pulihkan kondisimu dulu, Nak. Kami pergi dulu. Bim, pastikan Viona makan dan beristirahat."
Setelah berpesan pada Bima, para wanita paruh baya itu keluar dari ruangan dengan penuh semangat, meninggalkan Bima dan Viona berdua saja di dalam sana.
"Mas, aku ingin duduk bersandar," ucap Viona seraya mengangkat kedua tangannya.
Dengan sigap, Bima membantu Viona untuk duduk dan mengatur ranjang agar sandarannya lebih naik.
"Bagaimana, segini cukup?" tanya Bima setelah memastikan sang istri bersandar senyaman mungkin.
"Hei, Bundanya anak-anak manja banget sih." Bima terkekeh dan segera duduk di sisi ranjang, merangkul Viona ke dalam dekapan. "Kenapa? Ada apa hmm?"
"Terima kasih."
"Untuk?" kening Bima berkerut samar.
"Terima kasih, sudah mencintaiku. Terima kasih sudah menjadi suami dan Ayah yang kuharapkan untuk anak-anakku. Terima kasih sudah memperjuangkanku kembali, aku sangat bahagia kini." Kata-kata Viona sedikit tercekat, ia menenggelamkan wajah di dada Bima dan terisak di sana.
"Kamu adalah anugerah untukku. Tak sepatutnya kamu berterima kasih, karena justru aku lah yang sangat bersyukur, ditakdirkan berjodoh denganmu. Kenapa tiba-tiba jadi melow?" tanya Bima yang kemudian mengecup kening Viona dan menghapus buliran bening di pelupuk.
"Aku hanya sedang memastikan, bahwa kebahagiaanku bersamamu sekarang bukanlah ilusi semata. Rasa tak percaya kadang masih menghampiriku. Tapi merasakan Mas memelukku, itu sudah meyakinkanku bahwa rasa bahagiaku nyata adanya."
"Semua ini nyata, Sayang." Bima sedikit mengurai dekapan dan meraba sisi wajah Viona mesra. "Kupastikan selama sisa hidupku hanya akan kupersembahkan untuk mencintaimu juga anak-anak kita. Dan untuk kali ini aku ingin kamu yang memberi nama pada putra kita. Nama untuk putri cantik kita aku lah yang memberikannya, tapi untuk jagoanku aku ingin Bundanya yang memberi nama."
Bima merapikan rambut Viona dan menatap bola mata indah itu penuh pemujaan.
"Tugas memberi nama adalah kewajiban seorang Ayah. Tapi kalau boleh aku pun ingin mengusulkan satu nama." Viona tampak bersemangat.
"Katakan padaku, apa nama yang cocok?" tanya Bima antusias.
"Bisma. Bisma Putra Prasetyo. Bisma artinya luar biasa. Karena saat melahirkannya dia begitu istimewa dan luar biasa seolah mendobrak sendiri pintu keluarnya. Juga dia adalah anugerah luar biasa berikutnya dalam hidupku setelah Mas dan Nara. Bagaimana? Apa Mas setuju?"
"Nama yang bagus. Aku suka. Bisma Putra Prasetyo."