Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Putus Ikatan



Abdul yang tengah terlelap, terbangun mendengar suara isakan anaknya. Dengan terkantuk-kantuk dia melangkah mendekati ranjang dan dilihatnya Viona sedang menangis menenggelamkan wajah di dada Juna. Abdul menyentuh lembut pundak Viona. “Vi, kamu kenapa? apa yang terjadi, Nak,” tanya Abdul dengan sorot mata nanar.


Viona mengangkat wajahnya yang basah. “Ayah,” lirihnya. “Aku harus bagaimana sekarang?”


Ia beralih memeluk ayahnya yang berada di sisi ranjang, kembali menangis tersedu tak tertahankan. Setelah lebih tenang, barulah Abdul bertanya lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi. Viona menuturkan semua yang dialaminya walupun dengan terbata-bata, Abdul luar biasa geram setelah mendengar kejadian sebenarnya.


“Kamu harus kuat Vi. Ikhlaskan saja. Lagipula apalagi yang kamu harapkan lagi dari dia? kamu dan Nara masih punya Ayah juga Ibu yang akan selalu berada di sisimu. Jangan cemaskan apapun lagi.”


“Ayah, bagiku pernikahan adalah ikatan sakral yang harus dijaga seumur hidup. Tapi kenapa… kenapa Mas Bima dengan mudahnya menghancurkan semua yang kupertahankan. Memupus semua harapanku agar bisa berkumpul kembali bersama sebagai keluarga yang utuh. Aku memberanikan diri melaporkannya pada polisi karena ingin dia menyadari kesalahannya dan juga ingin dia sembuh. Tapi sekarang semuanya jadi hancur berantakan.” Air matanya kembali tumpah, wajahnya makin sembap tak karuan.


“Maafkan Ayah Vi, maafkan Ayah. Telah menyeretmu dalam perjodohan yang berakhir duka seperti ini Nak.” Abdul ikut menangis, merasa luar biasa bersalah atas semua yang terjadi.


Juna yang menyaksikan semua itu hanya terdiam dan menunduk. Sejumput rasa ngilu menyelinap mencuri kesempatan menggelitiki hatinya. Ternyata sebegitu berartinya Bima bagi Viona. Sehingga menyebabkan Viona sehancur ini ketika ikatan mereka patah.


*****


Malik sungguh berang, Bima bukannya sadar dan berubah tapi malah semakin menjadi. Secercah harapan menjadi pegangannya kala Viona dengan tulus mengatakan apapun yang terjadi akan tetap mempertahankan rumah tangganya dan mengharapkan kesembuhan Bima. Namun, justru kini anaknya lah yang menenggelamkan biduk rumah tangganya sendiri hingga ke dasar samudera.


Dia menunda rapat, meninggalkan kantor dan menuju rutan. Sesampainya di sana, Bima menolak menemui sang ayah, dan juga petugas menginformasikan bahwa saat ini Bima tengah dilanda gejala kecanduan yang hebat. Dengan langkah gontai Malik memutuskan pulang ke rumahnya, hatinya hancur, bagaimanapun juga Bima adalah anaknya, anak yang disayanginya. Sepanjang perjalanan Malik hanya menunduk meratapi nasib anaknya yang hancur karena kelakuan Bima sendiri.


*****


Satu minggu terlewati kondisi Viona sudah mulai pulih. Beberapa hari sebelumnya demam tinggi sempat menjangkitinya, membuat Abdul dan Rima panik luar biasa. Dokter mengatakan semua itu efek dari jiwanya yang terguncang, bukan hanya hatinya yang tercabik, tapi juga tubuhnya ikut melemah.


Malik dan Annisa juga menjenguk, memohon maaf setulus hati. Akan tetapi akhirnya Viona bersuara, bahwa semua itu bukanlan salah para orang tua, melainkan semuanya bagian dari perjalanan hidup yang digariskan untuknya.


Setelah Viona dinyatakan pulih dan tak harus bolak balik lagi ke rumah sakit, Abdul memilih untuk membawanya ke rumahnya yang lain yang terletak di pinggiran kota Bandung, berharap di suasana yang lebih tenang anaknya bisa menenangkan diri juga menata hati serta hidupnya kembali.