
"Aku akan memanggil dokter."
Dengan kaki lemas dan tak bertenaga, Viona melangkah gontai mencoba menjangkau gagang pintu yang tiba-tiba terasa bermil-mil jauhnya, padahal jaraknya hanya beberapa langkah saja. Sambil sesekali mengusap mata basahnya yang mengakibatkan pandangannya buram efek dari air mata yang mengucur tak terkendali.
Saat tangannya mencapai gagang pintu, kalimat dari lelaki yang terbaring di ranjang pesakitan menghentikan gerakannya yang hendak memutar kenop. Viona menoleh ke arah ranjang masih dalam isak tangisnya.
“Bundanya Nara, Ayah haus.”
Begitulah kalimat yang terdengar oleh Viona.
“A-apa?” Viona tergeragap akan ucapannya sendiri.
“Honey, aku ingin minum.”
Viona menelaah kalimat yang baru saja berembus masuk ke telinganya. Masih mencerna setiap kata demi kata yang terdengar di tengah kekalutan yang menerjangnya. Memastikan bahwa indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
“Sayang, kenapa masih di situ? Aku haus, bisa tolong ambilkan minum?”
Tangannya yang mencengkeram kenop pintu terurai perlahan. Di detik kemudian Viona berbalik badan, melangkah cepat meski terseok-seok lalu setengah menubruk sosok yang berada di atas tempat tidur dan memeluknya erat.
“Mas jahat!” seru Viona seraya menangis kencang. Ia mencengkeram baju Bima dan menumpahkan segala sesak di dada.
“Hei, Bidadariku. Jangan menangis.” Bima terkekeh pelan berbalut senyum di wajahnya yang masih pucat. “Aku hanya sedang mencoba membuat lelucon untuk menghiburmu, lagi pula tidak ada bidadari berwajah sembap.”
“Mas jahat! Mas Jahat!”
lagi-lagi hanya kata itulah yang keluar dari bibir ranum Viona. ia masih belum puas menyemburkan segala kesedihan dan juga keterkejutan yang baru saja menerjangnya ditambah ulah jahil Bima. “Itu nggak lucu!” gerutunya lagi masih dalam posisi memeluk Bima.
“Maaf. Tapi yang kukatakan tadi itu memang benar. Istriku memiliki bola mata cantik dan jernih. Bukan sembab dan basah” ujarnya lembut sambil tersenyum. “Maafkan aku, Sayang.”
Viona menangis sejadi-jadinya. Masih tersedu-sedu belum mampu berkata-kata lagi. Rasa lega, syukur, cemas juga rasa bersalah campur aduk di dalam kalbunya. Beberapa saat lalu ia sempat dilanda ketakutan yang teramat sangat ketika Bima berlagak tak mengenalinya, membuat dunianya seakan hancur dan runtuh seketika.
“Akhh….”
“Apa pelukanku terlalu kencang? Di sebelah mana yang sakit?” tanya Viona penuh kecemasan sembari memindai Bima dari kepala hingga kaki.
“Seluruh tubuhku terasa sakit. Tapi melihatmu baik-baik saja rasa sakitku langsung berkurang,” jawab Bima lembut penuh syukur. Matanya yang tadi sempat berekspresi datar kini kembali hangat seperti sedia kala, berlumur cinta menggebu hannya untuk Viona seorang.
“Maafkan aku karena menjadi istri yang tak patuh sehingga Mas berakhir di ranjang pesakitan ini.” Viona berkata terbata-bata dengan nada penuh sesal yang kental. “Bahkan bahu Mas patah sampai dilakukan proses pembedahan dan semua ini gara-gara aku.” Viona menunduk dalam dan menggigit bibirnya masih tak berhenti menangis.
“Jangan menyalahkan diri. Sudah kewajibanku sebagai seorang suami untuk memastikanmu dan bayi dalam kandunganmu selamat serta aman,” jawab Bima mencoba menenangkan istrinya yang terguncang.
"Kenapa Mas diam saja saat si brengsek itu memukul? Sampai mati pun aku tak rela lelaki yang kucinta direndahkan seperti itu!" seru Viona penuh emosi.
“Aku harus melakukannya, demi kamu dan anak kita. Aku hampir gila rasanya saat tahu bahwa Yoga menculikmu dan mengancam hendak mencelakaimu, jantungku seakan direnggut paksa saat itu juga, nyeri dan ngilu membayangkan jika hal buruk menimpamu," desah Bima pelan sambil menghela napas. Lalu ia meringis saat luka bekas operasi mulai terasa berdenyut.
"Pasti sakit sekali kan?" Viona yang melihat Bima meringis menyentuhkan telapak tangannya di bahu kiri Bima yang terbalut gips dan perban tebal. Air matanya kembali lolos berjatuhan.
"Jangan menangis lagi. Aku ingin melihat mata istriku yang berbinar indah bukan yang basah penuh air mata. Sekarang ini aku ingin sekali memeluk dan menciummu, Honey. Tapi sayang aku tak bisa begerak bebas.” Bima memelas setengah merengek pada ibu dari anak-anaknya.
Akhirnya Viona tersenyum mendengar rengekan Bima setelah tadi hanya air mata yang menghiasi rupa cantiknya. Tangisnya mulai mereda. Ia menangkupkan tangannya di kedua sisi wajah lelakinya lembut dan melabuhkan kecupan sayangnya di bibir Bima.
Memejamkan mata itulah yang dilakukan Bima saat bibir manis Viona mengecup lama penuh kelembutan, merasakan tusukan cinta juga semburan kasih sayang yang merasuk hebat ke dalam kalbunya.
Viona menarik bibirnya dari sana dan mengulum senyum.
“Untuk saat ini biarkan aku yang memeluk dan menciummu, suami manjaku," ujarnya disusul kekehan pelan.
Bima ikut tertawa kecil. "Aku ingin minum," ucapnya lagi.
"Ya ampun aku lupa. Maafkan aku, Mas. Tapi sebaiknya kuberitahu dokter dulu dan bertanya apakah Mas sudah diperbolehkan minum atau belum. Tunggu sebentar, aku takkan lama."
"Jangan lama-lama perginya. Aku masih kangen." Bima berujar dengan nada yang kembali memelas membuat Viona tak mampu menahan senyum lebarnya meskipun wajahnya sembap.
"Dasar manja!" sahut Viona yang berlalu keluar kamar bergegas memanggil dokter setelah sebelumnya tak lupa membangunkan ibu mertuanya.