Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Murka



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Sesilia terhenyak, membeku, mulutnya sedikit menganga, lalu mengerjapkan mata dan otaknya berusaha menyangkal informasi yang baru saja bertiup di telinganya. Ia menelan ludahnya sarat akan kecemasan, meremas ujung roknya dengan tangan gemetaran karena kebohongannya telah terkuak muncul ke permukaan.


"Bim, aku tidak berbohong... aku benar-benar sedang hamil," sanggahnya.


"Temanku ini adalah seorang Dokter kandungan, dan dia sudah memeriksamu saat kamu belum sadar tadi. Pantas saja tempo hari dirimu beralasan sakit perut ketika aku membawa temanku ikut serta, ternyata kamu hanyalah manusia picik yang menjadikan kehamilan palsu sebagai alasan untuk memeras uangku. Benar begitu bukan? jawab aku!" bentak Bima penuh emosi.


"Bisa saja temanmu ini bukan Dokter yang handal dan tidak becus dalam memeriksa kondisi tubuhku," cibir Sesil tak menyerah.


Si dokter temannya Bima hanya menggaruk ujung hidungnya mendengar cibiran Sesil kepadanya, menepuk-nepuk bahu Bima kemudian memberi isyarat hendak menunggu di luar saja. "Selesaikan urusanmu, agar kita bisa segera pulang," ucapnya kemudian melangkah ke luar rumah.


"Mainkan saja terus dramanya hingga kamu puas! Tapi sayang, sandiwaramu harus berakhir di sini. Lancangnya kamu berbohong padaku." Bima mengayunkan tinjunya dengan kencang memukul meja bundar terbuat dari kaca yang terdapat di sisi sofa. Kacanya pecah dan tangannya terluka.


Prang ....


Sesil terkejut bukan kepalang. Ia meraih tangan Bima yang terluka, tetapi ditepiskan oleh si empunya.


"Bim, ka-kamu terluka." Terselip nada kecemasan meskipun dirinya kini tengah panik akan nasibnya sendiri.


"Kemasi barang-barangmu dan segera pergi dari sini! Aku sudah tidak punya tanggung jawab apapun lagi terhadapmu. Kuberi waktu hingga besok untuk mengosongkan rumah ini."


Si dokter terkejut dengan kondisi punggung tangan Bima yang berdarah, tetapi dia lebih memilih diam tak bersuara dan akan membahasnya nanti saja ketika mereka sudah tiba di pusat kota. Melihat raut wajah Bima yang masih diliputi amarah ia enggan berkomentar serta bertanya.


*****


"Mas, kok pulangnya malem banget," cicit Viona manja setengah merengek.


Pukul sepuluh malam Bima baru sampai di rumahnya. Ia tertawa lebar dan langsung merengkuh istrinya yang menyambut kedatangannya di depan pintu. "Ada beberapa pekerjaan tambahan yang harus kuselesaikan, maaf."


"Tangan Mas kenapa?" Viona meraih tangan Bima yang terbungkus perban dan menatapnya khawatir.


"Tadi saat di kantor aku kurang berhati-hati. Ini bukan apa-apa, hanya luka kecil." Bima memberi alasan dan mengusap kepala Viona menenangkan.


Viona mengangguk meskipun inginnya bertanya lebih lanjut, tetapi suaminya terlihat lelah saat ini sehingga ia mengurungkan niatnya. Viona membalas pelukan Bima dan mereka melangkah masuk menuju kamar utama sambil tetap bergandengan mesra.


Setelah membasuh tubuhnya, Bima melihat Viona yang tengah duduk ditepi ranjang sedang menyusui si kecil Nara yang terbangun di tengah-tengah tidur lelapnya. Ia duduk di samping Viona dan merapatkan tubuhnya memeluk istri dan anaknya dari belakang.


"Halo Anak Ayah," sapa Bima lembut seraya membelai pipi gembul Nara yang tengah menghisap sumber makanannya.


Seberkas kelegaan tersirat di wajah lelah Bima, setidaknya ia telah berhasil terbebas dari jeratan Sesil yang merantainya, meskipun satu bom waktu lagi masih menjadi ancaman.


"Tidurlah, Mas terlihat lelah," kata Viona sembari mengulas senyum cantiknya.


"Nanti saja, aku ingin melepas rinduku denganmu dan juga Nara," bisiknya penuh sayang disusul kecupan di pelipis Viona juga si buah hati.