
Dari arah dapur salah satu asisten rumah tangga menyajikan tiga cangkir teh di gelas antik mahal bermotif lukisan klasik. “Ini tehnya, Den Bima.”
“Makasih Bik.”
Bima meraih cangkir tersebut, teh produksi Sinar Abadi Grup memanglah yang terbaik, ia membaui aroma sedap yang menguar itu sebelum meneguk isinya sambil menunggu orang tuanya muncul.
Malik datang digandeng Annisa. Raut wajahnya kali ini tak sekeras beberapa waktu lalu. Biasanya setiap kali bertemu putranya dia hanya akan berekspresi datar dan dingin, sedang kali ini Malik tampak mengulas senyum tipis melihat kehadiran Bima.
Bima bangkit dari duduknya dan menghampiri Malik lebih dulu, mencium punggung tangan sang papa dan memeluknya. “Bagaimana kabar Papa? Maaf karena aku jarang berkunjung.”
“Kabar Papa baik. Mamamu mengatakan kamu ingin menyampaikan hal penting pada kami?” ucap Malik sambil mengulas senyum.
“Iya Pa. Tapi sebelumya, aku ingin Mama dan Papa duduk berdampingan di kursi panjang itu?”
Bima menggiring kedua orang tuanya agar duduk di sofa yang ukurannya lebih panjang. Malik dan Annisa saling berpandangan penuh tanya seraya mengikuti apa yang dikatakan Bima.
“Sebenarnya ada apa, Bim?” Annisa mulai keheranan.
“Tunggu sebentar, Ma, Pa.”
Bima beranjak ke arah dapur, dan tak lama muncul kembali membawa baskom plastik berisi air serta handuk bersih. Ia bersimpuh di lantai di hadapan kedua orang tuanya.
“Sebagai anak, yang pertama ingin kuucapkan adalah banyak-banyak terima kasih kepada Mama dan Papa yang telah merawatku, mendidikku, juga melimpahkan kasih sayang tanpa pamrih,” ucap Bima sambil menunduk.
Ia kemudian meraih kedua kaki Annisa ke dalam baskom berisi air tersebut dan mulai membasuhnya lembut.
“Mama. Terima kasih telah melahirkanku ke dunia, merawatku, menyayangiku, tak bosan menasehatiku kendati aku sering membangkang. Terima kasih karena Mama selalu menerimaku, merangkulku seperti apapun diriku meskipun aku telah banyak mengecewakan dan mencorengkan kotoran di wajahmu akibat perbuatan burukku.”
“Papa. Terima kasih padamu, atas tempaan dan didikanmu. Hanya saja mata hatiku buta, jiwaku tuli, tak mengindahkan kala Papa melarang keras saat aku salah memilih pergaulan, terlalu tergiur godaan syetan yang menyapa. Terima kasih padamu yang tak bosan membimbing dan mengarahkanku ke jalan yang benar, meski aku sudah menghancurkan dan mencoreng nama baikmu, tapi Papa tetap bersedia membimbingku kembali, mendukungku, memberiku kepercayaan dan membuatku kuat berdiri lagi di kakiku sendiri.”
Air mata yang bergerombol itu mulai memberi jejak basah di wajah tampannya. Suara isakan pun terdengar keluar dari mulutnya seiring dadanya yang kembang kempis sembari membasuh kaki sang papa.
“Selama ini aku lupa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Ditakdirkan lahir dari orang tua yang baik tanpa kekurangan kasih sayang dan materi, kemudian mencarikanku jodoh terbaik. Kesemuanya itu malah membuatku lalai, hingga akhirnya aku baru tersadar saat diri ini sudah berada di balik jeruji besi akibat terlalu patuh pada bujuk rayu syetan.”
Bima juga mengeringkan kaki Malik lalu menggeser baskom tersebut, ia bersimpuh semakin dekat, menggengam kedua tangan orang tuanya, menatap mereka satu persatu.
Malik tampak menahan desakan di bola matanya, sementara punggung Annisa sudah berguncang diiringi kristal bening yang mulai berjatuhan ke pangkuan. Bima menunduk membenamkan wajahnya di pangkuan kedua orang tuanya.
“Mung-mungkin ini sangatlah terlambat, tapi di hari ini aku ingin memohon ampun serta maaf pada kalian atas segala khilaf dan dosa-dosaku yang sebanyak buih di lautan, belum mampu menjadi anak yang berbakti. Yang kulakukan hanya memberi malu bukan rasa bangga. Ma, Pa, Maafkan Bima... ma-maaf telah menjadi putra yang buruk untuk kalian.” Bima berusaha berkata walaupun tersendat-sendat.
“Mama sudah memafkanmu, Nak. Mama sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta,” ucap Annisa di sela-sela isak tangisnya. Ia mengusap punggung putra semata wayangnya yang berguncang hebat. “Dan tak bosan berdo’a memohon pada yang kuasa agar kamu dibukakan dan ditunjukkan jalan yang lurus.”
Malik kini membelai lembut kepala putranya, ia juga mulai terisak. “Setiap kali kamu berbuat salah, Papa selalu mengutuk diri ini. Mungkinkah semua itu karena Papa yang tak mampu menjadi orang tua yang membimbingmu? Hanya saja asal kamu tahu, Nak, di balik sikap tegasku, kasih sayangku juga maafku untukmu seluas samudera meski tak pernah kuungkapkan. Dan tak pernah lelah berdo’a agar kamu menjadi insan yang lebih baik lagi, meninggalkan masa lalu, mengambil hikmah dari sana agar jangan sampai membuat kesalahan yang sama di masa depan.”
Bima sudah tak mampu lagi menahan rasa tercekat di tenggorokannya, begitu pula Annisa dan Malik, ketiganya dilanda hujan air mata di malam sunyi ini, kembali berdamai satu sama lain dalam haru biru yang melingkupi.
*****
Ya ampun otor termehek-mehek ini ngetiknya 🤧
Bagi yang aplikasinya sudah di update, vote sekarang bukan hanya memakai poin dan koin melalui kolom hadiah saja, juga bisa vote dengan kupon mingguan untuk mendukung cerita kesayanganmu. Jangan lupa berikan dukungan juga melalui like, komentar dan kolom hadiah dan vote kupon kalian untuk Mas Bima dan Viona, thank you all💕😘.