Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Papi Juna



Empat tahun kemudian.


“Nara, cepat habiskan sarapannya terus minum susunya,” ucap Viona yang tengah berkutat di dapur menyiapkan makanan ke dalam kotak bekal. Rambutnya yang kini panjang sepinggang dijepit ke atas sedikit amburadul, memakai daster rumahan yang sedikit miring di bahunya juga celemek yang tengahnya basah akibat cipratan saat mencuci piring di westafel tadi.


“Bunda, susunya pengen yang coklat, aku nggak mau susu murni ini,” rengek Nara dari meja makan dengan mulut penuh tengah mengunyah sandwich. Nara sudah rapi dengan seragam TK-Nya, rambutnya yang agak ikal dikuncir dua, begitu lucu dan menggemaskan


“No, no, no. tidak boleh terus-menerus rasa coklat, nanti gigimu rusak,” tegas Viona yang memasukkan kotak makanan berwarna pink ke dalam tas Nara.


Seorang lelaki berpakaian rapi dengan senyum paling menawan datang dan duduk di samping Nara, meminum susu murni di atas meja hingga tandas. Nara cekikikan dan mereka melakukan hi five. “Thank you, Papi,” bisiknya pelan.


“Kalau nggak diminum sampai habis nanti Bunda ngomel-ngomel,” sahut lelaki itu yang juga berbisik.


Viona yang sedang dalam posisi membelakangi meja makan belum menyadari kedatangan lelaki tersebut hingga akhirnya suara deheman jantan terdengar di telinganya. “Ehm… tolong pesan sandwichnya satu porsi Nyonya.”


Viona berbalik badan dan mendapati Juna yang sudah duduk di samping anaknya tersenyum menjengkelkan ke arahnya. “Dih, ngagetin aja. Kamu kok masuk ke rumah nggak ada suaranya sih? kayak jin,” gerutu Viona sembari membawa sepiring sandwich ke meja makan.


“Wah, anak Bunda hebat. Susunya udah abis.” Viona tersenyum senang melihat gelas besar itu kosong, sedangkan dua orang dihadapannya hanya cengengesan.


“Ngapain pagi-pagi kamu ke sini?” Viona membuka celemeknya dan menarik kursi, lalu meminum tehnya dan menyodorkan sandwich ke hadapan Juna.


“Sejak kemarin aku sudah janjian dengan Nara mau mnegantarnya ke sekolah,” jawab Juna yang kemudian mengambil sandwich di piring dan menggigitnya.


“Oh ya? Kenapa Nara nggak kasih tahu Bunda, memangnya ada apa sampai minta dianter Uncle Juna,” tanya Viona kepada sang anak.


“Uncle, Nara,” seru Viona.


“Nggak mau, pokoknya aku mau manggilnya Papi Juna,” sahut Nara keras kepala.


“Nara! Nggak boleh nggak sopan kayak gitu.”


“Vi, aku sama sekali nggak keberatan tentang panggilan juga permintaan Nara padaku. Dia cuma anak kecil, kamu harus lebih bersabar. Lagipula apakah kamu masih belum berminat mempertimbangkan tawaranku? Pikirkanlah Nara, aku sungguh-sungguh.” Juna menyela dan berucap dengan nada lembut.


Juna melihat jam tangannya dan langsung meraup Nara ke dalam gendongannya. “Ayo kita berangkat, nanti kesiangan.”


Nara berjingkrak senang dan langsung memeluk leher Juna. “Salim dulu sama Bunda,” ujar Juna.


“Takut,” bisik Nara. “Bundanya lagi marah.”


“Vi.” Juna beralih menatap Viona yang masih berekspresi datar.


Melihat bola mata Nara yang berkilauan menatapnya takut-takut membuat kemarahan Viona menguap sudah. Dia mendekat, mengusap sayang kepala anaknya dan mengecup pipi menggemaskan Nara. “Anak Bunda jangan nakal di sekolah ya.”


“Okey, Bunda,” sahut Nara riang gembira yang kemudian meraih tangan Viona dan mencium punggung tangannya.


Viona mengantar hingga ke depan pintu. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nara dan Juna melambai dan ia pun melakukan hal serupa. Viona menghela napasnya berat, kemudian terngiang kembali perkataan Juna saat di meja makan tadi. Haruskah dia menerima tawaran itu?