Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Pesta



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Mereka datang ke pesta yang bertempat di restoran mewah yang berada di sebuah hotel bintang lima. Sudah lama sekali Viona tak menghadiri acara semacam ini, jujur dia sedikit gugup, cemas jika ada yang menyapa dan memberondongnya dengan pertanyaan seputar kehidupan pribadinya terutama yang berkaitan dengan mantan suaminya.


Berbeda dengan acara perluncuran produk rancangannya yang biasanya dia lebih banyak berada di belakang panggung dan hanya muncul sekilas untuk memberikan sambutan dan saat acara penutupan, sementara untuk ramah tamah biasanya diwakilkan kepada Sita manajernya dan juga para pekerjanya.


Viona tampak meremas tas tangan berwarna gold yang berada di genggamannya. Matanya menjelajah resah saat tahu ternyata pestanya cukup besar, bukan hanya sekedar pesta makan malam sederhana. Beberapa pengusaha terkemuka di kota Bandung juga tampak menghadiri.


“Ayo.” Juna menghela Viona masuk ke dalam restoran.


Juna menyapa si pemilik pesta yang ternyata adalah rekan Bima, Viona pernah bertemu dengannya dulu ketika Bima membawanya untuk menghadiri pesta pernikahan orang tersebut. “Senang berjumpa dengan Anda,” sapa si pemilik pesta. “Tak menyangka bisa bertemu lagi.”


“Kabar saya baik, selamat atas pembukaan perusahaan barunya.” Viona mengulurkan tangan memberi selamat dan mereka pun bersalaman.


Melihat bahasa tubuh Juna yang begitu posesif pada Viona, si lelaki tersebut mengulas senyum penuh arti. “Jadi, dia pasangannmu malam ini?” tanyanya pada Juna.


“Mungkin bukan hanya malam ini, do’akan saja supaya kedepannya dan seterusnya selalu begini,” sahut Juna ambigu membuat lawan bicaranya terkekeh kecil.


“Wow, kemajuan besar. Pak Juna yang biasanya datang sendiri kini membawa gandengan, kupikir kamu penyuka sesama jenis,” godanya sengaja.


“Aku masih normal!” sergah Juna seraya memutar bola matanya malas.


“Kutunggu kabar baiknya, silakan nikmati pestanya,” ucapnya ramah kemudian berlalu dari sana menyapa para tamu lain yang berdatangan.


“Vi, mau gabung menyapa atau mau duduk menunggu?” tanya Juna.


“Kamu yakin gak apa-apa kutinggal sendiri?”


“Nggak lah, emangnya aku anak kecil!” Viona mendengus sebal.


“Baiklah, aku ke sana dulu.” Juna menujuk kumpulan orang-orang yang kerkerumun di meja besar di tengah ruangan membentuk sebuah kelompok.


“Hemm.” Viona mengangguk dan segera menuju meja yang berada di pojok bercahayakan lampu temaram, ia sengaja memilih meja tersebut lantaran tak ingin menjadi sorotan.


Viona bernapas lega bisa sejenak menghindar dari riuhnya pesta, menaruh tasnya di meja dan meminta pelayan membawakannya jus jeruk. Namun, kedamaiannya tak berlangsung lama, seorang wanita bergaun ketat warna silver duduk menyilangkan kaki dihadapannya.


“Viona… benar kamu Viona kan?” Wanita berlipstik merah menyala itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan tanpa permisi.


“Benar. Maaf, anda siapa?” ujar Viona tetap sopan meskipun yang bertanya berwajah sinis.


“Aku rekan kerjanya Juna. Kulihat tadi kamu datang bersamanya, tak kusangka ternyata selera pemilik perusahaan besar sangatlah rendah. Janda dari seorang narapidana!” cibirnya diiringi tawa meremehkan.


Viona memundurkan punggungnya bersandar di kursi, melipat kedua tangannya di dada dan ikut menyilangkan kaki dengan gaya elegan.


"Aku tersanjung, ternyata sejak tadi ada seseorang yang memperhatikanku. Apakah aku seterkenal itu? akh... seharusnya dandananku lebih dari ini, siapa tahu besok lusa fotoku muncul di halaman gosip, bagaimapun juga aku ingin tetap terlihat cantik meskipun dihujat,” sahutnya tenang membuat lawan bicaranya geram.


“Kamu!” serunya kesal akan respon Viona yang malah memasang senyum manis.


“Pasti kamu yang menggoda Juna lebih dulu, atau jangan-jangan kamu sudah menyodorkan tubuh bekas pakaimu itu untuk menjeratnya iya kan?” tuduh si wanita itu dengan suara meninggi.


Jujur, hatinya tergores dituduh seperti itu. Tangannya mengepal samar, tetapi Viona harus tetap tenang dan kuat, dia benci menjadi lemah. Saat mulutnya hendak terbuka, dari arah belakangnya muncul seseorang yang secepat kilat menyiramkan segelas jus dengan kencang ke wajah si wanita itu.


Byurrr….