Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Dongeng Sebelum Tidur



“Ah... kakiku pegal.” Viona berselonjor kaki di sofa seusai membasuh diri. Setelah berjalan-jalan menyusuri tepi pantai dalam jarak yang lumayan jauh tadi sore kakinya kini terasa pegal.


Bima menyusul duduk dan memindahkan kedua kaki Viona ke atas pangkuannya. Memijatnya lembut berangsur dari telapak kaki hingga lutut secara berulang.


“Gimana? Enak?” tanya Bima sambil tetap meneruskan gerakan tangannya.


Anggukan dan senyum senang Viona sebagai tanggapan sudah menjelaskan tentang rasa pijatannya. “Selain menjadi Pak Tani, apakah Mas juga hendak merangkap menjadi tukang pijat?” goda Viona sembari menyipitkan mata.


Bima tergelak mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir ranum istrinya. “Aku rela menjadi petani juga tukang pijat pribadimu seumur hidupku, ekslusif berkualitas premium hanya untukmu seorang.”


Suara tawa Viona berderai renyah. Ia lalu menatap Bima berlumur bahagia, merasa begitu dicintai juga disanjung.


“Mas, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?"


"Tentu saja boleh, mau bertanya tentang apa? Apakah jenis pertanyaan tentang gaya pijat selanjutnya, hmm?" Bima menaikkan sebelah alisnya penuh arti.


"Hei... bukan itu." Viona mengibaskan tangan. "Aku hanya ingin tahu, seperti apa kehidupan Mas saat berada di balik jeruji besi?” Tiba-tiba saja Viona bertanya tentang hal yang selama ini tak pernah dibahasnya. Bima tertegun, gerakan tangannya terhenti, kemudian sorot matanya berubah sendu.


Viona menyadari perubahan air muka lelakinya. Ia beringsut, mengeser duduknya lebih dekat dan meraih tangan Bima untuk digenggam.


“Sepanjang beberapa tahun itu, Aku kerap kali khawatir. Mengingat Mas begitu pemilih dalam hal makanan juga penggila kebersihan. Aku kadang sulit menelan kala mendapati makanan favorit Mas tersaji di hadapanku,” desah Viona seraya menatap dalam ke manik hitam Bima.


“Kamu bahkan masih merasa khawatir padaku padahal aku telah melempar sikap tega juga tak berperasaan terhadapmu?” Bima balik bertanya.


“Bagaimanapun juga kita pernah berbagi hidup bersama hingga hadirlah Nara di antara kita sebelum kejadian buruk itu meledak ke permukaan. Kita sempat medayung biduk yang sama kendati kemudian badai dan gelombang besar menerjang kapal kita hingga hancur lebur kala itu. Semua kebersamaan kita tak bisa kulupakan dan terhapus begitu saja dengan mudahnya, apalagi Mas berbuat begitu lantaran diperbudak si barang haram. Aku masih percaya bahwa dirimu yang sebenarnya tak mungkin setega itu padaku, walaupun tetap saja pada akhirnya aku merasa terluka dan berduka. Dari sana aku menyadari satu hal, aku begitu terluka olehmu itu karena aku sangat mencintaimu.”


“Maaf.” Bima menjawab lirih dengan genangan yang mulai berkumpul di pelupuk, hingga saking penuh sesaknya air bening itupun luruh tak mampu lagi bertahan.


Bima tersenyum getir dihiasi tatapan nanar. “Tak ada yang patut diceritakan, sayang. Segala rasa sakitku di dalam sana takkan sebanding dengan luka yang kamu tanggung akibat perbuatanku. Tapi satu hal yang pasti, aku merindukanmu juga Nara hingga hampir gila rasanya. Setelah sekitar satu tahun aku menjalani rehab, barulah nalarku bisa kugenggam utuh setahap demi setahap. Dan hal yang selalu terbayang adalah wajahmu yang menangis pilu saat aku mengoyak ikatan suci kita tanpa perasaan. Rasa bersalah juga rinduku merasuk menghantui setiap malam, hingga diri ini tak mampu memejamkan mata dengan benar. Juga membayangkan bahwa kamu pasti membenciku membuatku merasa sesak tak berujung, juga tersiksa hingga ke dasar akibat kekeliruanku sendiri."


Bima sejenak menjeda ucapannya, menarik napas dalam hingga bahunya ikut bergerak naik lalu turun kembali kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Beberapa kali aku meminta papa untuk menyampaikan keinginanku bertemu denganmu juga Nara. Tapi papa tak bersedia mengabulkannya dan mengatakan bahwa rasa rindu juga rasa bersalah yang menyiksaku adalah hukumanku karena pernah tak menghargai dan mencampakkan hal yang paling berharga dalam hidupku."


Mata Viona ikut menyendu. Ia membuka kedua tangannya dan mengundang suaminya untuk masuk ke dalam dekapannya. Bima menelusup memeluk tubuh mungil istrinya serapat mungkin. Merasakan irama merdu detak jantung belahan jiwanya, memastikan semuanya benar-benar nyata bahwa ia dan Viona kini telah kembali bersama. Bima takut, semua hadiah indah ini hanyalah mimpi.


“Kita sama-sama tersika dan menderita. Kala itu setiap hari aku menggaungkan di kepalaku akan terus membenci dan takkan pernah mengampuni perbuatan Mas yang tak termaafkan. Hanya saja dalam ruang kalbuku yang telah hancur berantakan penuh luka juga berdarah-darah, denyut rasa cinta juga serpihan rindu untukmu selalu saja hadir meski berbalut perih. Tetap setia berdiam di sana tak mau bergeser apalagi pergi meski sudah kuusir sekuat tenaga.” Viona mendesahkan napasnya rendah.


“Maaf, atas semua perih yang kutorehkan di hatimu. Juga terima kasih, telah sudi memberi cinta juga kesempatan sekali lagi untuk manusia tercela dan penuh dosa ini, istriku," ucapnya serak karena tenggorokannya tercekat, penuh sesak seperti gerombolan batu yang menyumbat, sakit dan berat.


Bima makin menenggelamkan diri di pelukan Viona, dan Viona balas memeluk lalu membelai rambut Bima penuh sayang disusul kecupan di puncak kepala suaminya itu. Ia mengelus pelan punggung Bima yang berguncang karena isakan.


“Jangan menangis suamiku sayang, hmm?” Viona menempelkan pipinya di atas kepala Bima.


“Aku menangis karena bersyukur, bahwa kini kamu bukanlah ilusi semata. Bukan seperti dulu, yang hanya muncul dalam mimpiku kemudian pergi ketika mataku membuka saat aku masih berada di balik dingin dan kelamnya ruang sempit penjara.”


“Aku nyata, bukan hanya hayalanmu,” ujar Viona menenangkan sang suami. Ia mengurai pelukan, menangkup kedua sisi wajah Bima, melabuhkan bibir merahnya di celah bibir hangat lelakinya, mengecup dan menyesapnya penuh perasaan sayang. Bima meresapi setiap tetesan cinta yang Viona berikan, matanya memejam dan membiarkan dirinya dibanjiri ketulusan serta kasih sayang.


Setelah beberapa saat Viona menyudahi dan melepas pagutannya. “Bukankah Mas juga bisa merasakannya? Aku benar-benar nyata, ada bersamamu, di sisimu.”


Bima mengangguk dan kembali memeluk Viona dengan erat. “Jangan pernah bosan berada di sampingku. Menualah bersamaku. Aku membutuhkanmu, istriku. Sangat."