Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Si Cupu



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Juna duduk menunggu di ruang tamu sementara menunggu Viona dipanggil. Tak lama dari arah samping muncullah sosok yang dinantikannya dengan bayi cantik dan lucu digendongannya. Terakhir kali mereka bertemu saat Viona ulang tahun ketika Nara belum lahir.


Juna tersenyum merekah, tetapi sesaat kemudian tatapannya meredup kala mendapati Viona yang terlihat begitu kurus. Viona memakai terusan selutut berlengan panjang dengan model kerah sabrina, sehingga cekungan di pundaknya terlihat jelas. Ingin sekali rasanya ia melompat dan merengkuh wanita pujaannya yang tampak rapuh dan lemah.


“Hai Jun, gimana kabarmu?” sapa Viona yang kemudian duduk berhadapan sembari mengulas senyum tipis.


“Aku kemarin ketemu Ibel di bandara dan mengatakan kalau suamimu_” Ucapan Juna terhenti, dia enggan meneruskan. “Aku turut prihatin,” sambungnya lagi.


“Makasih banyak," jawab Viona sendu.


“Anakmu cantik,” ujar Juna. Namun, matanya sesekali mencuri-curi pandang menatap lekat wajah sendu Viona. Inginnya dia membelai wajah itu, menghiburnya, mengecupnya dan memeluknya ke dalam dekapannya.


“Tentu saja Anakku cantik sepertiku, buah tak jatuh jauh dari pohonnya bukan?” jawab Viona sembari terkekeh membuat Juna tergelak renyah.


“Dasar! Percaya dirimu over dosis,” balas Juna yang hanya ditanggapi Viona dengan menaikkan alisnya masa bodo.


“Oh iya, apa itu untukku?” Viona menunjuk ke arah buket mawar putih juga parsel buah di atas meja.


Juna mengangguk. “Hmm… semoga kamu suka. Maaf, hanya membawakanmu ini, aku tadi terburu-buru datang ke sini.”


“Suka sih… tapi Pak Bos ini pelit banget, cuma bawa bunga sama buah. Kuenya mana?” ledek Viona. Jujur saja kedatangan Juna cukup membuatnya terhibur. Juna sangat paham segala sesuatu tentangnya, bahkan buah dan bunga yang dipilih semuanya adalah jenis favoritnya.


“Ingatanmu memang luar biasa, Tuan.” Viona tersenyum senang.


Ditengah-tengah mereka berbincang, datanglah Rima yang baru pulang dari swalayan. Dia tidak mengenali lelaki perlente yang sedang bercakap-cakap dengan putrinya. Diperhatikannya Viona yang tersenyum lebar dan tertawa lepas. Semua itu menular pada Rima yang ikut tersenyum lega, setelah beberapa waktu terakhir hanya guratan pilu serta air mata yang menghiasi wajah cantik sang anak.


Rima segera bergerak menghampiri kemudian menyapa, “Eh, ada tamu. Siapa ya?” tanyanya penasaran. Rima sama sekali tak mengenali Juna yang sekarang.


“Apa kabar Tante. Saya Arjuna, teman SMA Viona. Tante masih ingat?” sahut Juna sopan.


“Arjuna?” Rima tampak berpikir. ”Tunggu... ini… Arjuna yang dulu cupu itu?” Rima membekap mulutnya sendiri karena secara refleks menyebutkan kata ‘cupu’.


Juna tersenyum lebar menampakkan deretan rapi gigi putihnya dan mengangguk mengiyakan. “Iya Tante, saya Arjuna yang itu,” ujarnya.


“Ya ampun, Juna. Kamu bener-bener manglingin. Nggak nyangka bisa ketemu lagi. Gimana kabar orang tuamu?” Rima menepuk-nepuk pundak Juna.


“Alhamdulillah, kabar mereka baik.”


“Syukurlah. Oh iya, kamu jangan pulang dulu, makan dulu di sini, Tante akan buatkan menu spesial buat kamu. Lanjutkan mengobrolnya ya,” ucap Rima, kemudian segera berlalu ke belakang.


“Vi, kapan butik dibuka lagi? tadi aku sempat melewati geraimu dan banyak pelanggan yang kembali pulang saat mendapati tempatmu tutup. Sayang banget kan, kalau sampai pelangganmu beralih ke butik lain.” Juna bertanya sambil meminum tehnya.


Viona menghela napas dalam dan mengembuskannya perlahan. “Nggak tahu kapan. Aku belum siap,” jawabnya.


“Belum siap? kenapa?”


Semenjak kepulangannya dari rumah sakit, belum pernah sekalipun Viona keluar dari rumah. Ia masih belum siap bertemu orang-orang, takut dilontarkan pertanyaan yang memojokkan dan juga cibiran.


“Aku… sejujurnya aku belum siap menerima gunjingan di luar sana,” sahutnya seraya tertunduk dalam.