Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Makan bersama Nara



“Om Beruang lagi apa di sini? apa Om Beruang ini Ayah temanya Nara?” tanya bocah itu dengan tatapan mata polosnya.


Bima dan Viona terdiam mendengar pertanyaan sang anak. Bima menggaruk rambutnya tak gatal sedangkan Viona menggigit bibirnya gusar lantaran bingung dengan pertanyaan buah hatinya.


“Ah, begini. Om sengaja parkir di sini, karena… karena mau makan di sana,” tunjuknya ke arah restoran cepat saji yang letaknya tak jauh dari gerbang sekolah Nara. Ia mencari alasan yang logis agar Viona tak murka padanya.


“Jadi Nara sekolah di sini?” tanyanya pada sang anak.


“Iya, ini sekolah Nara. Bagus kan sekolahnya? Catnya warna merah jambu favorit Nara,” celotehnya menggemaskan. “Mmm … jadi Om mau makan di sana ya? Wah pasti enak.” Gadis kecil itu memilin ujung roknya dengan wajah muram sambil menatap restoran yang dimaksud.


“Nara mau makan di sana? Gimana kalau kita makan bersama,” ajak Bima antusias.


“Tapi kata Bunda, Nara nggak boleh sering-sering makan di sana, nggak sehat buat anak kecil katanya,” keluhnya yang kemudian menunduk.


Bima menoleh pada Viona yang sejak tadi berdiri dekat mobilnya dengan tangan terlipat di dada disertai tatapan tajam.


“Vi, please,” pinta Bima.


Viona menghela napas. Ingin rasanya dia pergi saja dari sana dengan membawa paksa Nara, tapi ia tak ingin psikis anaknya terguncang jika dirinya tiba-tiba bersikap keras tanpa alasan yang kuat. Viona juga pusing memikirkannya, ayah dan anak itu baru bertemu kemarin, tetapi kenapa bisa langsung akrab begitu saja, mungkin ibarat pepatah yang berbunyi bahwa darah lebih kental daripada air.


Nara menatap takut-takut pada Viona, mengharap sang bunda mengizinkan. “Bunda?” cicitnya pelan.


“Ya sudah, kita makan di sana. Tapi hanya kali ini saja, oke,” sahut Viona yang akhirnya melunak oleh sang anak. Lagipula tidak ada salahnya bukan membiarkan Nara makan bersama dengan ayah kandungnya.


“Horeee, makasih Bunda.” Nara berjingkrak senang. “Ayo Om, Nara udah laper.”


Bocah lucu itu menggamit tangan Bima setengah menariknya dengan tak sabaran. Bima tersenyum lebar, sungguh bahagia hatinya. Dengan langkah tak menentu Viona mengekor di belakang, sedangkan Bik Yati pamit pulang terlebih dulu.


Bima menggendong sang anak agar Nara bisa memilih menu yang diinginkannya sedangkan Viona berdiri di belakang mereka. Ketiganya bak pasangan keluarga bahagia jika dilihat sekilas, padahal sesungguhnya mereka adalah keluarga yang tercerai berai.


“Boleh, pesan sesuka hati Nara,” sahut Bima yang secara refleks mengecup pipi Nara penuh sayang sedangkan bocah itu fokus pada berbagai mainan yang tersedia di menu anak-anak yang disajikan di sana.


“Kamu mau pesan apa, Vi?” tanya Bima.


“Aku nggak lapar,” jawabnya datar. “Mas jangan salah paham, aku mengizinkan Nara makan denganmu karena tak ingin membuatnya sedih,” bisik Viona yang berdiri di belakang Bima seraya menekankan setiap kata-katanya.


“Hmm… aku tahu. Tapi setidaknya pesanlah sesuatu, agar kita bisa makan bersama menemani Nara.”


“Terserah padamu lah, Mas. Aku tak berselera. Lebih baik aku cari tempat duduk,” ketusnya yang kemudian beranjak mencari meja kosong.


*****


Sedan hitam dan BMW kuning itu melaju beriringan hingga sampai di depan kediaman Viona. Viona sempat kesal karena Bima bersikeras ingin ikut mengantar padahal mereka membawa mobil masing-masing. Namun, Bima tak menyerah, dia mengekor mengikuti hingga sampai di depan rumah mantan istrinya.


Nara tertidur di perjalanan pulang tadi hingga sampai di rumah. Viona membuka pintu mobil BMW-nya dan hendak menggendong Nara. Ia sedikit kesusahan, karena Nara sekarang semakin bertambah berat.


Bima turun dari mobilnya dan menghampiri. “Biar aku aja yang gendong.”


“Nggak usah!” sahut Viona. Ia berusaha mengangkat Nara meskipun kesulitan. Bima mengulum senyumnya, Viona yang keras kepala terlihat semakin cantik berkali-kali lipat.


“Sama aku aja ya, nanti Nara malah kebangun.” Bima menyela. Walaupun gengsi Viona akirnya membiarkan Bima yang membawa anaknya.


Pintu rumah sudah terbuka, rupanya ada Abdul juga Rima di dalamnya. Bima yang menggendong Nara terkesiap begitu juga Abdul. Tatapan tajam langsung menghunus seketika kala melihat mantan menantunya muncul di hadapannya.


“Kamu!” seru Abdul dengan mata membeliak murka.