
Taman belakang rumah Abdul sudah di tata rapi untuk acara makan malam kali ini. Viona datang bersama Nara sekitar pukul tujuh malam. Hidangan spesial menggugah selera berjejer di meja, juga aneka buah dan cake mahal menjadi hidangan penutup untuk acara makan malam kali ini.
“Bu, apa Ayah mengundang tamu penting? Ayah bilang Cuma pesta makan malam sederhana, tapi kenapa sampai memanggil koki dari restoran hotel bintang lima untuk memasak?” Viona mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mengamati.
“Sebenarnya yang mau datang itu Ju_”
Ucapan Rima terhenti, saat deru mesin mobil datang memasuki gerbang rumahnya. “Nah, tamunya sudah datang. Ayo sambut sana, biar Nara sama Ibu,” titahnya.
Masih dengan benak penuh tanya, Viona melangkahkan kaki menuju halaman depan rumah, di sana sudah ada sang ayah juga bersiap dengan senyuman di wajah.
“Selamat datang di rumah kami, Pak Surya,” sambut Abdul pada laki-laki paruh baya yang baru turun dari mobil Juna.
Surya Atmadja Syailendra adalah Ayah Arjuna. Walaupun sudah berumur, tetapi kharisma yang menguar masih begitu kuat. Lalu disusul Juna yang turun dari pintu kemudi, juga sudah tampak rapi dan tampan dalam balutan setelan mahalnya.
Situasi mulai terasa aneh bagi Viona, mengirimkan sinyal tak biasa yang membuatnya tidak nyaman. Selama ini Ayahnya Juna belum pernah berkunjung ke rumah orang tuanya apalagi dalam suasana resmi seperti malam ini. apakah ayahnya menjalin kerja sama perusahaan dengan Pak Surya? Pikirnya.
Viona sempat bertemu beberapa kali kala Pak Surya berkunjung ke perusahaan yang dikelola Juna, itupun Viona hanya bertemu sekilas dan tak sengaja ketika dia memesan pasokan kain untuk kebutuhan butiknya.
“Apa kabar Om,” sapa Viona sopan sambil tersenyum manis.
“Kabar baik, Nak,” sahutnya.
“Kapan tiba di Bandung?” Viona lanjut berbasa-basi.
“Kemarin malam. Om langsung terbang ke sini karena Juna mengatakan ingin segera meresmikan hubungan kalian. Juga Om sudah berbicara lewat telepon dengan Ayahmu mengenai ini,” jelasnya ramah.
“Apa Pak Abdul belum memberitahu Viona tentang hal ini?” tanya Surya pada Abdul yang tersenyum lebar sejak tadi.
“Saya ingin memberi kejutan untuk putri saya. Dia dan Arjuna sudah cocok dan saling mengenal satu sama lain, hanya saja kadang anak muda terlalu banyak menunda. Kami sudah memutuskan Vi, bulan depan kalian akan bertunangan, jadi malam ini Pak Surya datang untuk membicarakan hal penting ini.”
Viona mematung, tergugu setelah mendengar penjelasan sang ayah, kakinya seperti dipaku, dan dia mulai resah.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam Viona masih terjaga, pikirannya melalang buana entah ke mana. Hatinya berkecamuk caruk maruk. Kepalanya sungguh pusing tak menyangka ayahnya akan mengambil keputusan tanpa persetujuannya.
Bahkan kini perut nya bergemuruh meminta diisi, tetapi ***** makannya menguap entah kemana. Saat acara makan malam tadi Viona hanya memakan beberapa gigitan saja sajian steak saus mushroom kesukaanya. Dia lebih banyak diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bimbang, gundah gulana, berdatangan silih berganti. Sedikit rasa kecewa menyelinap di hati, ayahnya mengambil keputusan sepihak yang sulit ditolaknya. Apalagi ketika melihat kesungguhan dan wajah bahagia Juna mengajukan lamaran tadi malam membuatnya gamang. Mungkinkah ini memang takdirnya? harus menerima Juna sebagai teman hidupnya, walaupun hatinya tak sejalan.
Oh entahlah. Viona merasa pusing sendiri dengan kehidupannya yang kini semakin rumit. Ia berguling kesana kemari di atas ranjang besarnya mencoba meredam gundah di dada.
Mendudukkan diri bersandar di ranjang, dia mengutak-atik ponselnya. Nomor kontak yang sama terus digulirkan jemari lentiknya, dan tanpa sengaja dia malah memencet nomor tersebut yang tak lain adalah kontak Bima. Viona panik sendiri saat panggilannya tersambung, buru-buru dia memutus sambungan dan menaruh kembali poselnya di nakas.
“Duuhhh… kenapa dengan jariku sih!” gerutunya sambil menjitak kepalanya sendiri.
Tak lama ponselnya berdering, Bima balas menghubungi. Viona kini malah belingsatan, bingung entah apa yang harus dikatakannya.