Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Lepaskanlah Aku



Keesokan harinya selepas shalat subuh, Rima berpamitan pulang dan berjanji akan kembali lagi nanti siang. Abdul juga ikut berpamitan, hanya saja masih enggan menyapa Bima meski sudah tak menghunuskan kilat permusuhan lagi dari matanya, ia hanya berbicara pada Viona dan cucunya lalu keluar dari sana.


“Mas juga pulanglah, semalaman tak tidur untuk menjaga Nara. Kenapa tak membangunkanku untuk bergiliran?”


“Kamu tidur sangat nyenyak, aku tak sampai hati membangunkan.” Bima mengusap pipi Viona lembut. “Lihat, setelah istirahat dengan baik, sekarang wajahmu sudah tak sepucat kemarin. Aku akan pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Kuusahakan cepat.”


“Tak usah terburu-buru, Mas. Demam Nara juga udah mulai turun, kita bisa lebih tenang, pergilah.” Viona mengulas senyum penuh syukur.


Sebelum beranjak pulang Bima mengecup Nara yang kini tengah tertidur pulas setelah semalam hampir tiga jam lamanya rewel dan gelisah. Bima dengan sabar menjaganya hingga kira-kira pukul empat pagi Nara kembali benar-benar terayu kantuk dan menyerah dalam lelap.


Pukul tujuh pagi Juna datang lagi ke rumah sakit bertepatan dengan Bima yang juga baru kembali setelah membersihkan diri di apartemen. Juna melempar tatapan penuh dengki kala mendapati Bima turun dari mobil, sedangkan Bima membalasnya dengan santai membuat Juna geram.


Keduanya sama-sama membawa paper bag di tangan berisi menu sarapan untuk Viona, sedangkan makanan untuk Nara sudah disediakan dari pihak rumah sakit di bawah pengawasan ahli gizi.


Juna masuk melesat lebih dulu tak mempedulikan Bima. Ia setengah berlari kemudian membuka pintu ruang perawatan Nara. Di dalam sana Viona tengah membujuk Nara yang rewel karena tak mau memakan sarapannya.


“Vi, ini sarapan buat kamu. Nasi uduk kesukaanmu.” Juna menaruh jinjingan yang dibawanya ke atas meja kayu dekat satu set sofa yang terdapat di dalam ruangan.


“Makasih,” jawab Viona singkat dan hanya melirik sekilas saat Juna datang. Ia kembali fokus pada anaknya yang tak berselera makan dan mulai menangis.


“Kan mau minum obat biar cepet sembuh, makan dulu ya, Nak.”


Nara mengatupkan mulutnya rapat sambil menggelengkan kepala menolak makanan yang disodorkan bundanya. Viona tak menyerah, kembali berbicara lembut dan membujuk agar sang anak mau makan.


Juna berinisiatif, menawarkan diri untuk menyuapi. Lagi-lagi Nara menggeleng dan kini malah semakin menangis. Efek dari tubuhnya yang tak nyaman karena sakit membuat bocah itu merajuk tak henti.


“Nggak mau… mau Ayah, mau Ayah….” rengeknya lagi. Memang sejak terbangun setengah jam yang lalu Nara terus bertanya di mana ayahnya kala tak mendapati Bima ketika ia membuka mata.


“Kan Papi juga sama bakal jadi Ayahnya Nara.” Juna mulai bersikukuh. “Yuk sama Papi aja. Juna membujuk setengah memaksa.”


“Juna!” sergah Viona dengan tatapan tak suka lantaran terkesan memaksa Nara. Inginnya mendebat, tetapi Viona tak mau merusak suasana pagi harinya terlebih lagi Nara ikut menyaksikan. Jika terlalu banyak perseteruan di depan Nara, ia takut berimbas buruk pada psikis si buah hati.


Tak berselang lama Bima menyusul masuk. Ia segera menghampiri anaknya yang merajuk dan menyela Juna yang berdiri di samping Viona dengan gerakan seolah tak sengaja sehingga tercipta jarak antara Viona dan Juna.


“Hei, Anak cantik Ayah udah bangun.” Bima mengusap-usap rambut Nara, membuat Juna semakin muak.


Bocah itu beringsut ingin berpindah ke pangkuan Bima dan langsung bergelung manja di lengan kekar sang Ayah.


“Ini, Nara nggak mau makan Mas,” keluh Viona yang mulai kewalahan.


“Makannya disuapin sama Ayah mau ya? Nanti bobonya dipeluk lagi.” Bima membujuk bocah yang merajuk di pangkuannya. Akhirnya Nara mengangguk dan mulai berhenti menangis.


Juna merasa posisinya makin tergeser ke tepian jurang, ia waspada dan berseru pada dirinya sendiri agar cepat mengambil tindakan.


“Vi, kita harus bicara!” ujar Juna dengan rahang mengetat karena tengah mati-matian menahan kobaran api di di kepalanya.


Bima mengerti bahwa Viona hendak menyelesaikan permasalahannya dengan Juna mumpung ada kesempatan, walaupun terselip rasa tak rela, tetapi sekarang bukan saatnya menjadi egois.


“Kalian berdua bicaralah, semoga kamu bisa bersikap dewasa, Juna,” tukas Bima.


“Cih, tak usah sok menggurui. lagipula untuk apa kamu minta izin segala sama dia, Vi? Dia bukan siapa-siapamu dan tak punya ikatan sah apapun denganmu!” Juna berseru diliputi emosi.


“Jaga sikpamu Juna, ada Nara di sini. Kamu juga sama, tak ada ikatan sah apapun di antara kita. Kita bicara di luar, sekarang!” Viona menekuk wajahnya dan segera pergi keluar.


Mereka pergi ke taman samping rumah sakit dan mencari tempat duduk. Juna mengenyakkan diri di samping Viona dan meraih tangannya.


“Maaf Vi, kamu marah ya atas sikapku tadi? Aku hanya sedang cemburu." Juna mulai menurunkan nada bicaranya, sepanjang langkah menuju taman Viona tak besuara ataupun menoleh padanya.


Dengan gerakan halus Viona menarik tangannya dari genggaman Juna, menggeser posisi duduk hingga tercipta jarak di antara mereka.


Viona menatap lurus pada Juna, raut wajahnya datar. “Kenapa kamu berbohong?” tanya Viona tiba-tiba tanpa berbasa basi.


“Ber-berbohong? Maksudnya gimana Vi?" Jujur saja Juna terkejut akan kalimat Viona yang menyembur begitu saja.


Viona mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan mulai memutar rekaman percakapan antara Juna dan Bima.


Juna membulatkan mata, ia hendak menyambar ponsel di tangan Viona, akan tetapi dengan cekatan wanita mungil itu berkelit dan kini berdiri semeter jauhnya di hadapan Juna.


“Kamu bilang padaku pergi ke luar kota? Tapi nyatanya kamu bersembunyi di apartemen! Kenapa menghindariku?"


“Berani-beraninya si mantan napi itu merekam pembicaraan tanpa izin!” Juna menggebrak kursi yang didudukinya dan ikut berdiri lebih dekat.


“Jangan merasa lebih suci, kamu juga mengirim orang untuk mengawasi dan membuntutiku tanpa seizinku? Secara tak langsung kamu sudah memenjarakanku tanpa borgol dan jeruji!” Amarah dalam diri Viona ikut tersulut, Juna bukannya mengaku tetapi malah menjadikan Bima sebagai kambing hitam.


“Dan juga tentang keputusan pertunangan itu, kenapa kamu tak mendiskusikannya dulu denganku dan malah langsung bicara pada ayahku? Apakah pendapatku sama sekali tak penting? Aku bukan benda yang bisa kau atur sesuka hatimu!" Viona setengah berteriak, mencoba meredam dadanya yang penuh sesak.


“Bu-bukan begitu Vi. Please jangan marah, aku melakukan semua itu karena sangat mencintaimu. Aku takut kelhilanganmu.” Juna kembali mencoba meraih tangan Viona, raut wajahnya begitu frustasi, nada bicaranya menghiba.


Memejamkan mata sejenak, Viona berusaha mengenyahkan berbagai macam luapan emosi yang berkecamuk di benaknya, Ia kembali menatap Juna dan kali ini membiarkan tangannya digenggam.


“Juna, Aku ingin minta maaf, mungkin ini menyakitkan, tapi aku tak bisa meneruskan lagi rencana pertunangan kita. Seperti yang kamu tahu, yang kucintai hanya Mas Bima, meskipun kamu sering mengataikau bodoh karena itu. Aku memilih jujur padamu lantaran tak ingin menjalani hidupku dalam kubangan dusta, yang aku dan Nara butuhkan adalah Mas Bima. Kuucapkan terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku dan Nara, aku takkan melupakan hal itu. Tapi masa depanmu bukan denganku Juna, rasa itu tak bisa dipaksakan. Maafkan aku.” Viona berusaha bicara dengan nada rendah dan lembut, berharap Juna bisa menerima dengan hati lapang.


Juna menggeleng pelan, deru napasnya tak beraturan, tak mau menerima kenyataan yang tersaji di hadapannya. “Jangan, jangan meminta maaf. Aku tak butuh maafmu, yang kuinginkan adalah dirimu Vi, bukan maafmu!” Juna berseru meninggi dibutakan obsesi.


“Juna.” Viona balas menggenggam tangan Juna dan meremasnya lembut.


"Kumohon Jun, relakan aku. Jangan seperti ini. lagipula ibumu tak menginginkanku menjadi bagian keluargamu. Tak ada lagi alasan untuk meneruskan semua ini, tolong mengertilah. Kamu orang baik, Aku percaya kebahagian lain menantimu tapi yang pasti bukan denganku. Lepaskkanlah aku, demi kebaikan kita bersama. Bersikaplah dewasa Juna. Maaf. “


Viona mengurai genggamannya, melangkah pergi dari sana, meninggalkan Juna yang masih mematung dengan tatapan nanar.