
Mereka berdua kini sedang bersantap siang di area food court yang terdapat di sebuah mall, biasanya Bima tak menyukai tempat ramai dan bising, entah kenapa hari ini dia malah mengajak Viona makan di tempat semacam ini.
“Tumben, Mas ngajak aku makan di sini?” tanya Viona sembari menyendok lasagna casadella yang masih panas.
“Jujur saja ini adalah pertama kalinya aku makan di tempat ramai begini. Tapi aku ingin merasakan sensasi berkencan di mall seperti yang sering di lakukan pasangan anak muda, anggap saja ini kencan yang tertunda,” sahut Bima yang kemudian menyumpal potongan pizza marinara ke dalam mulutnya.
“Benar juga, lagipula aku tak pernah berkencan seumur hidupku,” ucap Viona terkikik ceria.
“Ternyata kita senasib, mungkin karena itulah kita berjodoh.” Bima mengambil potongan pizza dan menyodorkannya ke mulut Viona.
“Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Tuan. Ikatan kita masih belum sepenuhnya tersambung kembali.” Viona menggigit potongan pizza dengan senyum mengembang.
“Aku pastikan itu segera. Bahkan hari ini pun aku siap memintamu kembali pada ayahmu,” ujarnya mantap.
“Bersabarlah sebentar lagi. Kujamin buah kesabaran itu sangatlah manis.” Viona tersenyum cantik, membuat Bima ingin mengecup bibir ranum itu sekarang juga.
“Ayo cepat habiskan makananmu. Setelah ini aku ingin kita lanjut berkencan di tempat lain,” ucap Bima yang kemudian meneguk ocean blue yang dipesannya.
“Hei, tapi ini masih jam kantor. Memangnya Mas tak punya pekerjaan lain apa? Ini bos-nya malah asyik kencan di mall, bukannya kerja,” ledek Viona dengan mata memicing.
“Biarkan saja, ada Adrian yang menangani. Untuk hari ini biarkan aku menikamati masa mudaku yang terbuang tanpa makna.”
Selesai makan ternyata Bima mengajak Viona ke bioskop yang terdapat di lantai paling atas mall tersebut. Awalnya Bima ingin menonton film fantasi romance berjudul Twilight, tetapi Viona merengek dan ingin menonton film Jurassic World.
Mereka memilih kursi paling belakang sesuai rekomendasi agar mata juga posisi lebih nyaman saat menonton. Tak lupa minuman kaleng serta popcorn rasa keju mereka beli sebagai pelengkap.
"Ternyata seleramu film yang seperti ini. Apa kamu sangat menyukai hewan-hewan purba semacam Dinosaurus? Hei seperti anak SD saja.” Bima berdecak dan menggelengkan kepala seraya menyandarkan dirinya di kursi empuk berwarna merah itu.
Bima tergelak, bergerak merangkul Viona yang tengah cemberut karena tak terima dikatai seleranya seperti anak SD.
“Diem ah, jangan peluk-peluk,” ujarnya kesal sambil mengunyah popcornnya geram, akan tetapi Bima tidak peduli, terus saja melingkarkan lengannya pada wanita yang merajuk lucu.
Lampu dimatikan dan film pun mulai diputar. Sementara Viona asyik menonton film di depannya sambil mengunyah popcorn, lelaki di sebelahnya malah tak tertarik sama sekali melihat layar, Bima lebih suka memandangi wajah cantik di sampingnya yang terbias cahaya dari layar film.
Ketika adegan di layar menampilkan T-Rex yang sedang mengamuk membantai dinosaurus lainnya, Viona memekik kaget dan membenamkan wajah menubruk dada bidang Bima.
“Ya ampun, kaget banget. Iya kan Mas.” Viona mendongak sambil mengusap dada hingga mata mereka langsung bersirobok.
Viona tidak tahu sejak tadi Bima sama sekali tak tertarik memperhatikan film, karena wanita mungil nan cantik di sebelahnya lebih sedap dipandang mata. “Ke-kenapa Mas?”
Viona hendak menjauhkan diri dari pelukan Bima, tetapi ditahan lelaki itu, tak membiarkan Viona bergeser seinci pun menjauh darinya. Bima makin menunduk, dan sebuah kecupan pun berlabuh di bibir merah merona si pujaan hati.
“Akh… terlalu berdekatan denganmu aku selalu begini, kamu memang berbahaya,” ujar Bima sembari menggesekkan hidungnya ke hidung Viona gemas.
Detak jantung keduanya bergemuruh laksana angin ribut, film pun kini tak menarik lagi, keduanya saling memaku pandangan, larut dalam gejolak cinta membara di dalam dada.
Sepanjang sisa waktu film diputar, yang dilakukan keduanya kini hanya berpelukan atau kadang saling mengecup mesra, saling mendamba. Mereka menyudahinya kala nalar yang sempat menguap mengabur kembali menguasai. Sama-sama mengendalikan diri, meredam gairah, agar jangan sampai terjerumus lebih dalam lagi sebelum waktunya tiba.
*****
Sesorean ini Viona senyam senyum seperti anak remaja, suasana hatinya benar-benar berbunga-bunga. Ia bahkan turun dari mobilnya sambil bersenandung memasuki rumah, hingga akhirnya senyum itu surut begitu melihat kehadiran Abdul di ruang tamu rumahnya, duduk tegak tanpa senyuman.
“Ayah….”