
Pagi-pagi sekali Viona sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dia meminjam pakaian Ibel sedangkan Nara setelah dimandikan dipakaikan baju yang kemarin karena perlengkapan Nara tertinggal di vila. Setelah dari rumah sakit, Viona berencana akan pulang ke rumahnya.
Ibel mengosongkan jadwalnya demi mengantar sahabatnya hari ini, Ibel tak mungkin tega membiarkan Viona yang masih dalam kondisi terguncang bepergian seorang diri. Mereka sudah berada di depan pintu perawatan kamar Abdul, Viona menghentikan langkahnya terdiam di sana.
“Ayo Vi, kita masuk,” ajak Ibel.
Wanita bertubuh mungil yang menggendong bayi itu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memutar gagang pintu. Viona melangkah masuk diikuti Ibel di belakangnya. Rima yang tengah membereskan nampan bekas sarapan sang suami menoleh begitu mendengar bunyi deritan pintu.
Wanita paruh baya itu hampir menjatuhkan gelas yang dipegangnya, melihat reaksi istrinya yang tak biasa, Abdul mengkuti kemana arah pandang Rima tertuju.
“Ibu, Ayah.” Viona melirih memanggil kedua orang tuanya.
Seketika itu juga Rima menghambur memeluk sang anak. Dia menangis meraung-raung dan memeluk putri tercintanya dengan perasaan tercabik dan juga bersalah.
“Viona… Anakku sayang. Kemana saja kamu, Nak. Kami mencarimu yang tiba-tiba meghilang dan tak bisa dihubungi. Jangan pergi lagi Nak, maafkan kami… maafkan kami.” Rima tak mampu membendung segala sesak yang bercokol di dadanya. Merasa luar biasa kecewa pada keputusannya dulu, merasa sangat berdosa telah menjerumuskan putri berharga mereka dengan menjodohkannya pada seseorang seperti Bima.
“Viona.” Abdul yang tampak kurus memanggil putrinya. Rima mengambil Nara dari gendongan putrinya dan Viona segera menghampiri sang ayah yang terbaring lemah.
“Ayah… Ayah.” Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Viona, tenggorokannya tercekat hebat akibat dari caruk maruknya berbagai macam luapan rasa yang berkecamuk di kalbunya. Air matanya berderai membanjiri wajahnya yang memucat dan lelah.
“Ayah jangan bicara seperti itu, semua ini sudah takdir. Takdir perjalanan hidupku, bukan salah Ayah dan Ibu," sahutnya parau.
Ibel yang sejak tadi menyaksikan ikut merasakan kesedihan mendalam keluarga Viona, ia mengusap kasar air bening yang berderai tanpa di suruh dari sudut matanya.
Tiba-tiba pandangan Viona mengabur, kepalanya terasa berputar, perlahan kabut kelabu seolah menggelayut dan suara orang-orang di sekitarnya terdengar makin samar hinga akhirnya hanya gelap yang memeluknya seutuhnya.
Viona pingsan tak sadarkan diri. Rima menjerit histeris melihat putrinya lunglai kehilangan kesadarannya. Ibel dengan cepat memanggil dokter, tak lama kemudian dokter dan perawat berhamburan datang ke ruang perawatan Abdul.
Para perawat dengan sigap segera membopong tubuh Viona dan membaringkannya ke atas sofa panjang yang terdapat di ruangan tersebut. Dokter segera memeriksa kondisi Viona, sementara Rima semakin meraung menangis dengan Nara dalam gendongannya.
“Anakku kenapa Dokter. Ada apa dengan Viona?” Abdul yang masih terduduk lemah di ranjangnya bertanya tak sabaran berbalut kecemasan yang kental.
“Putri Anda kelelahan dan juga stress. Sebaiknya dirawat inap untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang kekurangan cairan serta nutrisi.”
Bagaimana tidak Viona tak kekurangan nutrisi, selama pelariannya yang dimakannya hanyalah makanan instant sementara dia harus berbagi nutrisi dengan Nara. Rima meminta agar Viona dirawat satu ruangan dengan suaminya. Kamar VVIP ini cukup besar dan masih bisa memuat satu ranjang lagi di sana, agar memudahkan Rima mengurus keduanya.
Dokter menyetujuinya, Viona segera ditangani dan ditempatkan satu ruangan dengan ayahnya sesuai permintaan Rima.