
Viona mematut dirinya di depan cermin, ia berdandan begitu cantik sebelum berangkat berjalan-jalan ke pantai. Lima belas menit yang lalu Bima mengirim pesan text bahwa dia sedang dalam perjalan kembali ke hotel dan meminta untuk bertemu di lobi saja agar tidak membuang waktu.
Sore ini Viona memakai atasan berlengan panjang dipadu celana jeans. Atasan berwarna kuning tua itu begitu pas melekat. Sangat cocok dan sesuai dengan warna kulitnya, membuatnya tampak luar biasa memukau juga bersinar. Rambutnya digulung cepol ke atas dengan rapi. Membingkai indah wajah cantiknya dan menampakkan leher jenjangnya.
Diliriknya jam tangan mewah yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Viona menyambar tasnya, bersegera keluar dari kamar hotel dan berlari-lari kecil ke arah lift. Memencet tombol menuju lantai dasar, membiarkan benda kotak berlapis besi itu membawanya turun.
Tak ubahnya seperti para pasangan muda yang hendak bertemu janji dengan gebetannya, Viona begitu antusias sambil sesekali memeriksa riasannya. Khawatir ada yang tak rapi ataupun belepotan, ingin terlihat sempurna tanpa cela di hadapan lelakinya.
Lift berdenting. Begitu pintunya terbuka Viona bergegas melangkah keluar. Ia sampai di lobi bertepatan dengan Bima yang baru saja turun dari mobil, Viona mempercepat langkah dan menghambur pada Bima.
Dirangkul dan dikecupnya sang istri tercinta. Viona tersenyum merekah dan mulai terbiasa akan perlakuan mesra Bima padanya yang kini tak sungkan menunjukkan kemesraan di manapun berada, seolah mematenkan bahwa Viona adalah miliknya seutuhnya.
“Kenapa kamu sangat cantik? Membuatku tak semangat berjalan-jalan dan ingin mengurung diri denganmu di dalam kamar.” Bima mengeratkan rangkulannya dan berdecak malas.
Viona mencubit perut berotot lelakinya sembari memasang wajah cemberut. “Pokoknya sore ini jadwal berjalan-jalan, berhenti memikirkan kegiatan bercocok tanam, Pak Tani!” ujarnya galak.
Bima terbahak melepaskan tawa. Viona yang bersungut-sungut dengan wajah cemberut malah tampak lucu di matanya.
“Baiklah, Bu Tani. Pak Tani ini akan mengheningkan cipta sejenak dari keinginan menabur benih walaupun itu rasanya sulit jika ladangnya secantik dan seseksi ini.” Bima berbisik mesum dalam sisa-sisa tawanya.
“Ayo kita pergi sekarang, Mas. Aku sudah tak sabar.”
Wanita cantik itu setengah menyeret Bima. Keduanya bergandengan tangan dengan mesranya dan berjalan-jalan bertelanjang kaki menyusuri tepi pantai, meresapi rasa damai yang menjalar saat telapak kaki memijak bersentuhan langsung dengan butiran pasir putih yang halus. Dilengkapi rasa segar saat ombak menerjang lembut membasahi kaki, membiarkan alam memadu kasih dengan raga mereka, diiringi simfoni syahdu nan merdu dari suara kicau burung di sore hari.
Banyak pasangan yang juga melakukan kegiatan serupa. Viona tak menyiakan kesempatan, mengambil banyak gambar menggunakan Kamera Canon yang tergantung di lehernya. Begitu antusias mengabadikan setiap sudut dalam tangkapan gambar. Viona juga meminta tolong pada pengunjung lain untuk membidikkan kamera berpose berdua dengan Bima.
Sudah menjadi rahasia umun, bagi kebanyakan laki-laki memang tak terlalu menyukai berfoto begitupun dengan Bima. Namun, demi memenuhi keinginan wanita tercintanya Bima menyerah, membiarkan dirinya dipotret sebanyak yang Viona mau. Mereka berpose mesra, dan di beberapa foto terakhir Bima sengaja mengecup pipi Viona tanpa aba-aba.
Senyuman merekah terukir di wajah cantik Viona, tak surut meski kakinya mulai lelah dan kulit telapaknya berkerut, lantaran terus menerus tersiram dan terendam air laut lebih dari satu jam lamanya. Mereka menyudahi kegiatan menyusuri pantai, memutuskan beristirahat di tempat yang telah disediakan di sepanjang pantai, tempat untuk menikmati indahnya matahari terbenam berpadu lengkungan indah cakrawala serta awan keemasan yang berpendar menakjubkan.
Viona dan bima duduk bersisian. Mereka memesan dua porsi air kelapa muda demi meredakan dahaga, membasuh tenggorokan yang kehausan imbas dari acara berjalan-jalannya tadi. Selagi menunggu sunset Viona memeriksa hasil foto di kameranya. Ia terkikik-kikik geli, karena mimik wajah suaminya lebih banyak kaku dan canggung. Kecuali di tiga foto terakhir, sebuah tangkapan gambar yang terkunci di sana mampu membuat Viona merona seketika, saat Bima mengecup mesra pipinya tanpa pemberitahuan.
“Mas memang tak berbakat jadi foto model,” ledek Viona sambil tetap fokus melihat-lihat hasil bidikan kamera.
Tawa renyah berderai begitu saja, Viona menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan Bima yang sekarang.
Dulu Bima adalah sosok yang jauh dari kata hangat, emosinya sering tidak stabil dan kadang meluap meledak-ledak tak terkendali. Sedangkan Bima yang sekarang adalah sosok yang lebih tenang, punya kendali kontrol yang baik. Hanya saja berubah menjadi mesum dan suka menggodanya dengan kalimat vulgar, tetapi kalimat-kalimat tersebut hanya dilontarkan khusus untuknya.
“Haish... dasar mesum!” decak Viona seraya meninju lengan Bima
“Tapi aku suka berkata-kata vulgar denganmu, honey.” Bima berbisik sambil meniup telinga Viona sehingga istrinya itu berjengit kegelian.
“Hobi yang aneh.”
“Tapi kamu suka kan, hmm?” goda Bima lalu merangkul Viona agar duduk semakin merapat dengannya.
“Entah virus apa yang Mas berikan padaku, sehingga membuatku tak benci saat mulutmu berucap semacam itu.” Viona menyumpal sedotan ke dalam mulutnya dan meneguk air kelapa muda yang langsung disajikan dari buahnya.
“Kamu sudah sepenuhnya terkontaminasi, dan penawarnya hanya ada padaku," bisiknya lagi.
Viona terkekeh-kekeh, menyandarkan dirinya di dada Bima lalu keduanya memaku pandangan ke angkasa.
Kebersamaan mereka di Bali kini tercecap lebih manis dan berkesan dari acara bulan madunya dulu sewaktu ke Maldives. Ternyata bukan tempatnya yang membuat suasana terasa luar biasa indah, akan tetapi dengan siapa kita pergi dan berdampingan dalam debaran rasa yang sama.
Mereka tergelak. Menikmati kebersamaan yang tersimpul indah, setapak demi setapak menutupi lubang kenangan yang menganga di mana-mana menggunakan setumpuk cinta yang membuncah tumpah ruah.
Keduanya kini merajut asa dengan benang yang lebih kuat. Terbuat dari serat maaf dan pintalan keikhlasan, juga jahitan cinta tulus disertai kasih sayang, menyatukan kembali serapi mungkin ikatan yang pernah terkoyak.
Bekasnya mungkin akan tetap ada serupa luka di kulit luar kita, akan tetapi saat hati memutuskan untuk memohon maaf dan memaafkan, maka bekas itu akan menjadi penguat yang menjadikannya tak mudah goyah.
Membuang ego memberanikan diri untuk memohon maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat adalah perbuatan terpuji, tetapi orang yang memaafkan jauh lebih mulia di atasnya. Kenapa? Karena yang memaafkan bukan hanya sekadar membuang ego. Namun juga berusaha mengenyahkan sakit hati serta rasa kecewa agar tak mengendap menjadi dendam dalam dada, yang bisa mengakibatkan hati menghitam mengajak tunduk pada amarah.
Matahari mulai terbenam, binarnya berpendar indah menghiasi cakrawala, melambaikan sulur cahayanya serupa ucapan salam sampai berjumpa lagi, dalam tarian gemulai sebelum berlalu pergi.