Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Secangkir Teh



Viona tersipu dan merona diperlakukan begitu manis oleh suaminya. Bima menuntunnya turun dari kursi yang dipijaknya kemudian menggeser kursi itu ke sudut dekat lemari, ia menggandeng Viona keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Mas, mau sarapan apa?" tanya Viona sementara tangannya sibuk mengaduk kopi di dalam cangkir.


"Apa saja, buat sarapan yang mudah, aku tidak ingin istriku kelelahan," sahutnya.


Seketika Viona berhenti menggerakkan sendok di tangannya, perkataan Bima barusan sukses membuatnya mematung.


Aku benar-benar tidak sedang bermimpi bukan? Laki-laki yang sedang bersamaku sekarang ini adalah Bima suamiku iyakan? sepertinya aku harus banyak-banyak bersyukur, mungkin perubahan suamiku adalah jawaban dari do'a do'aku, batin Viona.


Seiring usia kandungan Viona yang semakin hari semakin bertambah membuatnya menjadi lebih mudah lelah, jadi pagi ini Viona membuat sarapan yang simpel saja. Ia membuat dua porsi roti tawar yang di olesi selai coklat hazelnut beraroma lezat menggugah selera, tak lupa satu cangkir kopi hitam untuk Bima dan segelas susu ibu hamil untuknya.


Viona menaruh sajiannya ke atas meja dan Bima menarik kursi di sebelahnya untuk diduduki Viona, setelah sekian lama akhirnya mereka bisa sarapan bersama penuh kehangatan pagi ini layaknya sebuah keluarga pada umumnya, diselingi obrolan ringan di dalamnya sepanjang sarapan berlangsung.


*****


Bima mengantarkan Viona ke butik, dan setelah sampai di sana ia ikut turun membukakan pintu untuk istrinya, bahkan Bima menggandeng Viona hingga ke depan pintu butik.


"Segeralah berangkat, Mas. Nanti terlambat ke kantor, kabari aku kalau sudah sampai," ucap Viona.


Sudut bibir Bima tertarik ke atas, kemudian ia membungkukkan badannya, telapak tangannya yang besar mengelus perut Viona dengan lembut kemudian berbisik di sana.


"Jangan nakal di dalam sana ya, anak Ayah." Setelah selesai mengucapkan kata-katanya Bima mencium perut yang sudah nampak membuncit itu penuh kasih sayang.


Viona menundukkan pandangannya, matanya berbinar bahagia, kemudian Bima kembali berdiri tegak dan mengusap kepala Viona. "Aku berangkat dulu, ingat jangan bekerja terlalu lelah, nanti sore kita pulang bersama, aku tidak akan melupakan janjiku lagi kali ini,"pesan Bima kepada Viona.


Viona menganggukkan kepala. "Hati-hati di jalan, Mas," sahutnya.


Bima masuk kembali ke dalam mobilnya, ia melambaikan tangan dan berlalu pergi dari sana.


Viona melangkah ke dalam butik dengan senyuman yang tak henti-hentinya merekah di wajah cantiknya, langkahnya terasa begitu ringan, bahkan sesekali bersenandung kecil dengan riang hingga masuk ke dalam ruangannya.


*****


Beberapa bulan kemudian.


Kehamilan Viona sudah menginjak bulan ke delapan, ia mulai kesulitan untuk bergerak seperti berjongkok atau membungkuk karena perutnya semakin membuncit. Aktivitasnya sudah tidak segesit dulu, ia harus selalu berhati-hati karena ada nyawa lain yang juga harus dilindungi di dalam tubuhnya sekarang.


Semenjak hari itu Bima benar-benar menjadi suami siaga, dia selalu mengantar jemput Viona setiap hari, jika berhalangan untuk mengantar barulah Viona pergi bersama sopir. Sekarang Bima menjadi lebih bawel dari ibu-ibu komplek yang menawar harga sayuran di penjual sayur keliling, tak henti-hentinya selalu mengingatkan Mang Ujang agar berhati-hati ketika membawa kendaraan saat mengantarkan Viona.


Selepas makan malam Bima duduk bersantai di kursi taman yang terletak di samping rumah besarnya, sebuah kursi berbentuk memanjang yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran antik pada sandarannya.


Di sana juga terdapat sebuah kolam ikan kecil dengan beberapa lampu taman berbentuk bulat sebagai penerangan di sisi kolam, sebuah kolam yang didesain dengan air mancur di tengahnya, suara gemericik air mancur di kolam itu membuat suasana di sana mampu menenangkan tubuh juga pikiran yang lelah.


Bima tampak termenung, pikirannya melayang. Rasa jenuh mulai merayapinya akan ketergantungannya pada obat-obatan terlarang. Ia menghela napasnya dalam-dalam, kini Bima mempunyai keinginan untuk berhenti mengkonsumsi barang haram tersebut apalagi sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


Namun bagaimana caranya? Pikiran dan hatinya menginginkan untuk berhenti, tetapi tubuhnya yang sudah kecanduan berkata lain. Sungguh bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, karena jika memutuskan untuk berhenti maka Bima harus kembali melalui rasa sakit yang tak terperi seperti dulu lagi, bahkan mungkin rasa sakitnya kali ini bisa lebih parah dari sebelumnya.


Pergerakan di sebelahnya membuyarkan lamunan Bima. Ia menoleh dan ternyata istrinya sudah duduk di sampingnya.


Viona membawa nampan berisi dua cangkir teh yang masih mengepul, ia menyeduh tehnya dengan suhu yang tepat, sehingga menghasilkan aroma teh melati yang menguar harum memanjakan indera penciuman.


Viona menaruh nampan yang dipegangnya ke atas meja di depan kursi, dan mengambil satu cangkir lalu di berikannya pada Bima.


"Saat malam begini minum teh lebih ideal dari pada kopi karena kadar kafeinnya lebih rendah, sedangkan kopi bisa membuat Mas terjaga hingga larut. Aku nggak mau waktu tidur Mas menjadi tak teratur, itu akan berefek buruk pada kesehatan," tutur Viona.


Tangan kiri Bima merangkul pinggang Viona hingga tubuh mereka merapat, sedangkan tangan kanannya menerima cangkir yang diberikan istrinya itu lalu menyesapnya perlahan, menikmati setiap tegukan teh yang begitu nikmat membasahi kerongkongannya.


"Apakah istriku ini sangat mengkhawatirkan suaminya? Jangan terlalu banyak pikiran, aku hanya ingin kamu fokus pada kesehatanmu dan juga bayi kita," tukas Bima. Ia menaruh cangkir yang dipegangnya ke atas meja, tangannya bergerak merapikan anak rambut yang menutupi pelipis Viona.


"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, Mas. Kamu adalah suamiku. Sebagai seorang istri, aku ingin memastikan bahwa telah merawatmu dengan baik, sudah kewajibanku untuk memperhatikan kesehatanmu," sahut Viona.


Bima mengulas senyum, kemudian menepuk-nepuk kedua pahanya. "Duduklah di sini, aku ingin memeluk istri dan anakku," pinta Bima.


"Tapi, tubuhku sekarang berat lho, apa Mas yakin?" Viona memicingkan matanya.


Bima terkekeh dan mengulurkan tangannya. "Kemarilah." Bima kembali meminta.


Dengan ragu-ragu Viona berpindah duduk ke pangkuan suaminya, Bima langsung merengkuh Viona ke dalam dekapannya, ia memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Viona yang mampu menenangkan dan menyejukkan jiwanya.


Ia kemudian beralih mengelus-elus perut Viona. Si jabang bayi seolah tahu bahwa ayahnya sedang menyapanya, menendang-nendang di dalam sana menyambut usapan tangan sang ayah, hingga permukaan perut Viona kadang menonjol ke kanan dan kekiri membuat Bima begitu takjub.


"Wow, bukankah anakku seorang putri? Tapi kenapa tendangannya begitu kencang seperti jagoan?" Bima berucap tepat di depan perut Viona.


"Mungkin ia seorang putri yang tangguh," ujar Viona sambil membelai kepala Bima.


"Aku sudah tidak sabar menantikannya terlahir ke dunia." Bima menatap Viona dengan lembut.


"Aku pun ... aku pun sama, Mas." Viona menangkup sisi wajah Bima dan mengecup bibir suaminya dengan mesra.