Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Pulang



Saat pagi hari masih belum sempurna menapak, Viona sudah dikejutkan dengan kondisi Bima. Semalam lelaki itu masih sehat dan berenergi saat menyemburkan kata-kata kasar padanya, tetapi sekarang suaminya itu tampak kesakitan luar biasa dengan wajah serta bibir yang makin memucat, bahkan keringat dingin ikut membanjiri pelipisnya hingga bercucuran tak terkendali.


"Mas, Mas Bima...."


Viona terus menepuk-nepuk pipi dan mengguncangkan tubuh Bima yang sejak tadi tak merespons pertanyaannya. "Mas Bima, jawab aku! Kamu kenapa Mas, apa yang sakit?"


"Diam! Sebaiknya kamu diam dan jangan banyak bertanya!" seru Bima dengan suara meninggi sementara tubuhnya semakin menggigil hebat.


"Aku khawatir padamu Mas! Aku hanya ingin membantu mengobati," tegas Viona dengan nada jengkel karena lelaki yang kesakitan itu masih tetap keras kepala.


"Kamu nggak akan bisa membantu. Nggak akan bisa!" teriak Bima putus asa menahan gejolak kecanduannya.


Viona mondar-mandir sembari menggigiti kukunya. Ia kebingungan, apa yang harus dilakukannya sekarang? lokasi ini jauh dari apotek apalagi rumah sakit. Jika memaksakan diri pergi ke apotek dia juga tak tahu harus membeli obat apa karena Bima tak mengatakan keluhan yang dirasakan tubuhnya.


Viona menimbang-nimbang untuk pulang saja ke Bandung agar Bima segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. Hanya saja bagaimana caranya? ia tak bisa mengemudi, sedangkan Bima tak memungkinkan untuk membawa kendaraan.


Di tengah-tengah kebingungan yang mengerubutinya terdengarlah ketukan di pintu belakang. Viona segera berlari untuk memeriksa siapa yang datang, berharap bisa meminta bantuan di tengah situasi sulit yang melandanya saat ini.


Viona mengintip Dari kaca samping pintu dengan sedikit menyibak gordennya untuk memastikan siapa tamu yang datang di pagi buta. Terlihatlah di luar sana pria dan wanita paruh baya yang datang berkunjung. Seingatnya mereka adalah pasangan pengurus villa yang pernah disebutkan Bima, Viona sempat melihat mereka sekilas saat beberapa hari yang lalu mengantar sayur-sayuran segar. Tak berlama-lama wanita cantik itu langsung memutar kenop dan membuka pintu.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa mereka berdua ramah dan sopan.


"Selamat pagi."


"Saya datang untuk mengantarkan sayur-sayuran pesanan Pak Bima kemarin siang, semoga sesuai dengan selera Anda." Si wanita paruh baya itu menyerahkan sekeranjang penuh sayur mayur yang baru dipetik kepada Viona


"Boleh. Ada apakah Nyonya?" jawab si lelaki yang rambutnya mulai memutih.


"Apakah di dekat sini ada apotek atau rumah sakit? pagi ini suami saya tiba-tiba menggigil kesakitan."


"Paling di dekat sini adanya puskesmas Nyonya, itupun harus menempuh setengah jam perjalanan. Tapi bukanya siang sekitar jam sembilan. Kalau mau ke apotek lebih jauh lagi, lokasinya kira-kira satu jam jarak tempuh dari sini."


"Jauh sekali...." keluhnya. Viona mengusap-usap tengkuknya gusar dan hampir menangis. Ia tampak berpikir sejenak sembari mengigit bibirnya.


"Begini Pak. Saya ingin membawa Mas Bima pulang saja ke Bandung dan segera membawanya berobat ke rumah sakit. Tapi saya tak bisa mengemudi, adakah sopir sewaan di daerah sini yang bisa mengantar kami pulang? saya takut kondisi Mas Bima semakin parah."


"Waduh agak susah Nyonya. Di sini yang bisa mengemudi memang ada beberapa, tapi kebanyakan tak mempunyai SIM," tutur si bapak menjawab pertanyaan Viona.


"Duuuh... bagaimana ini." Viona makin kebingungan sehingga otaknya menjadi buntu.


Si ibu paruh baya itu menarik suaminya mendekat dan berbisik. "Pak, bagaimana kalau minta tolong pada anak kita saja. Dia kan punya surat izin mengemudi lengkap."


"Tapi sebentar lagi dia harus berangkat kerja ke penggilingan beras," sahut si bapak pelan


"Minta dia untuk izin tidak masuk sehari ini saja. Lihatlah, kasihan Nyonya Bima nampak kebingungan, ibu tak tega melihatnya," bujuk si ibu.


Lelaki tua itu tampak melirik Viona dengan sudut matanya kemudian akhirnya mengangguk mengiyakan istrinya dan kembali menghampiri Viona. "Nyonya, bagaimana jika putra kami yang mengantar? saya akan memintanya untuk datang sekarang juga jika Anda setuju," tawarnya.


Viona seperti mendapatkan angin segar, tanpa berlama-lama ia langsung mengangguk dengan semangat. "Tentu... tentu saja saya setuju. Terima kasih, terima kasih banyak atas bantuannya Pak."