
“Viona?” Hana mengibaskan tangannya di depan wajah Viona.
“Ah iya, i-itu aku dateng sama… sama_”
Viona terlihat kikuk, dia seolah tak siap mengatakan jika dirinya datang bersama calon tunangannya.
“Sama siapa Vi? Ayahmu atau Juna?” Bima menimpali. Ia balas merangkulkan lengannya ke pinggang Hana, berusaha tetap tenang dan berakting senatural mungkin walaupun jantungnya berdegup liar.
“Sama Juna,” sahut Viona pelan sembari meremas kedua tangannya.
“Pacarmu ya?” goda Hana.
Viona menggigit bibir dan mengulas senyum tipis. “I-itu, dia… calon tunanganku.”
“Woah selamat, semoga segala sesuatunya berjalan lancar.” Hana menyahut dengan senyum cerianya seperti biasa, lalu ia berpura-pura melihat jam tangan saat merasakan telapak tangan Bima yang ada di pingganngnya gemetaran seperti gempa.
“Oh iya, kita mau main golf dulu ya, mumpung hari belum terlalu siang. Selamat menikmati hari minggumu, Viona. Yuk Mas aku udah nggak sabar,” ajak Hana setengah menyeret Bima.
“Aku tinggal dulu ya Vi.” Bima mengulas senyumnya sebelum beranjak diikuti para caddy.
“I-iya Mas, selamat bersenang-senang.”
Viona menghela napas, menatap punggung Bima dan Hana yang makin menjauh hingga naik ke dalam mobil khusus yang digunakan di area dalam lapangan golf. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Bima bergandengan cukup intim dengan wanita lain selain dirinya. Entah kenapa hatinya merasa tak rela ketika Bima merangkulkan lengannya di pinggang Hana.
Jiwanya meronta, matanya menjerit tak suka, inginnya ia menarik paksa wanita yang tengah menempeli mantan suaminya dan memisahkan jarak mereka sejauh mungkin, sejauh kutub selatan dengan utara.
Rasa hausnya kian menjadi, ia merasa suhu udara mendadak naik drastis berpadu dengan rasa lainnya yang seketika menyebar dan mulai merekah di dalam dada, rasa penasaran menyiksa lantaran ingin tahu tentang apa yang terjadi di antara Bima dan Hana.
Apa sebaiknya aku langsung bertanya saja eh? Tapi, apa hakku bertanya-tanya tentang hubungan mereka? Untuk apa aku mencampuri urusan Mas Bima, lagipula kami sudah tak mempunyai ikatan yang membuatku mempunyai wewenang untuk ikut campur dalam kehidupan pribadinya.
Viona memutuskan untuk ke restoran berjalan kaki saja karena lokasinya sudah dekat kira-kira sekitar seratus meter dari tempatnya sekarang. Ia memesan segelas besar jus buah dingin dengan ice cube extra, mencoba mendinginkan suasana hatinya yang tiba-tiba memanas.
Diminumnya jus tersebut hingga tandas, menyandarkan punggung kemudian menarik napas teratur. “Erghh… ini menyebalkan!” desahnya kesal.
“Sepertinya aku harus memukul bola agar otak dan tubuhku kembali normal, mungkin ini akibat jarang berolahraga akhir-akhir ini,” gumamnya sembari mencoba mengenyahkan bayang-bayang lengan Bima merangkul Hana yang sejak tadi berputar-putar mengganggu di benaknya.
Bima dan Hana turun dari mobil tak terlalu jauh dari lokasi restoran, lagipula mereka sama sekali bukan hendak bermain golf, mereka datang kemari hanya untuk menjalankan misi.
Bima mengusap wajah dan raut mukanya tampak khawatir. “Apa Viona akan baik-baik saja? bagaimana kalau dia malah semakin membenciku?” tanyanya.
“Hei… justru kita di sini sedang mencari tahu. jika dia tak baik-baik saja maka itu angin segar bagimu, tapi kalau sebaliknya, tak ada harapan lagi, Tuan."
“Aku hanya takut rencana kita malah melukainya.” Bima mendesah resah.
Hana tergelak kencang hingga terbatuk. “Dasar bucin! Tapi kurasa dia terganggu setelah melihat kita saling merangkul tadi, kita tunggu saja, apakah akan ada reaksi berikutnya.”
“Ya ampun sepertinya umpan kita mulai dimakan. Viona berjalan kemari. Cepat berakting dan pura-pura tak melihatnya!”
Hana berbisik pada Bima. Dengan cepat mengambil stik golf dan memosisikan diri di depan tubuh Bima.
“A-aku… aku harus gimana?” Bima malah panik sendiri.
“Ayo cepat pura-pura ajari aku bermain golf! Cepat!” Hana setengah melotot karena Bima malah dilanda demam panggung. Bima segera menuruti perintah Hana, memeluk dari belakang dan ikut membantu mengayunkan stik seperti orang yang tengah mengajari golf.
Viona yang melihat pemandangan itu mengepalkan tangan dengan wajah cemberut.