
Pesawat yang Bima dan Viona tumpangi tiba di Bandara Ngurah Rai Bali sekitar pukul sebelas siang. Mereka pergi berdua saja tanpa Nara karena Bima pergi ke Bali untuk bekerja bukan murni berlibur. Putri cantiknya awalnya merengek ingin ikut pergi, setelah dibujuk perihal adik, Nara langsung mengangguk tanpa ragu memperbolehkan orang tuanya pergi tanpa dirinya. Nara ingin segera mempunyai adik seperti beberapa teman sekolahnya.
Hari ini Viona mengenakan pakaian yang lebih santai, celana jeans dengan atasan t-shirt dilengkapi cardigan. Dalam balutan busana santai Viona tampak seperti berusia dua puluhan, padahal kini ia sudah menginjak di angka 30. Tubuh langsing dan mungilnya berpadu selaras dengan rupa cantiknya yang semakin lama bertambah menawan, apalagi kini senyuman selalu menghiasi membingkai di wajahnya.
Lelaki yang menggandeng Viona posesif pun tak kalah mencuri perhatian, tampak berwibawa berbalut pesona matangnya di manapun berada. Bima juga menanggalkan pakaian formalnya, kali ini dia memakai celana jeans dipadu kaos polo hitam, tak lupa kacamata hitam dan jam tangan mahal bertengger melengkapi tampilannya hari ini. Aura kepemimpinan memanglah selalu menguar enggan terlepas dari seorang Bima, terlebih lagi sekarang raut wajahnya selalu hangat dan ramah makin menambah pesonanya.
Dua sejoli itu berjalan bersisian begitu turun dari pesawat, melangkah di landasan dengan elegannya, tampak seperti dua model papan atas yang sedang syuting iklan komersial. Banyak mata yang mencuri pandang. Viona dan Bima memang diciptakan untuk bersama, begitu serasi dari segala aspek saat berdampingan.
Rangkulannya mengetat saat beberapa laki-laki melirik pada istri cantiknya. Bima setengah mendengus kesal, membuka kacamata hitamnya dan melemparkan tatapan mengintimidasi seraya merapatkan tubuh Viona padanya dirinya.
Kekehan ringan berderai meluncur dari mulut Viona menampakkan deretan gigi putihnya yang begitu kontras dengan bibir merahnya. Ia mengelus lembut bahu sang suami kala menyadari tatapan Bima seperti hendak membumi hanguskan siapapun yang mengarahkan pandangan penuh minat padanya. Viona tahu, lelaki tercintanya tengah cemburu.
Adrian dan beberapa staf ikut pergi di perjalanan bisnis kali ini, mereka menyeret koper yang berisi barang bawaan atasannya, juga menenteng tas milik mereka pribadi serta tas lainnya yang berisi barang-barang penting untuk keperluan seminar. Mereka berjalan di belakang, tahu diri dengan mengambil jarak cukup jauh tak ingin mengganggu kebersamaan Bima dan Viona yang baru kembali bersemi.
Semuanya menuju hotel yang telah dipesan. Mereka menginap di hotel bintang lima yang memiliki fasilitas terbaik. Bima memesan kamar presiden suit dengan view yang langsung menghadap ke laut, sedangkan Adrian dan para staf yang ikut serta menempati kamar yang letaknya berada satu lantai di bawahnya.
Viona membanting tubuh di ranjang saat sudah berada di kamar yang akan mereka tempati untuk menginap beberapa hari ke depan. Bima memilih membuka pintu balkon. Begitu pintu terbuka, ia langsung disambut embusan angin laut menyapa menerpa wajah tampannya berbalur aroma laut yang khas terbawa dalam setiap semilirnya, dilengkapi deburan ombak yang menyapa indera pendengarannya, juga birunya laut yang begitu indah memanjakan mata.
Merdunya suara ombak yang menerjang bibir pantai menarik perhatian Viona. Ia menoleh lalu bangun dan mendekati Bima, kemudian menelusupkan kedua tangannya memeluk tubuh kokoh itu, menyandarkan kepala di punggug lebar favoritnya dan menghidu aroma menyenangkan yang menguar dari lelaki tercintanya.
“I love you,” desah Viona setulus hati berbalut pemujaan dengan mata terpejam.
Keindahan pantai yang mengisi manik mata Bima bertambah indah berkali-kali lipat indahnya saat suara merdu Viona mengungkap rasa cinta untuknya. Alunan merdunya mengalahkan simfoni dari musik rangkaian para maestro orkestra dunia. Ia mengelus lengan Viona yang memeluknya, senyuman mengembang begitu saja tanpa diperintah.
“Jangan memancingku, sayang. Atau aku akan melucuti semua kain ditubuhmu sekarang juga. Kamu tahu? Suara merdumu terdengar seperti ajakan menggairahkan. Kalau tak ingat ada pertemuan setelah makan siang ini, aku pasti takkan menahan diri untuk membuatmu kelelahan di ranjang,” ucapnya dengan nada sedikit mesum.
“Dih, Mas ini merusak suasana romantis! Kenapa otaknya kesitu terus sih!” Viona bersungut-sungut dan hendak melepas pelukannya, tetapi Bima menahan lengannya kemudian tergelak renyah.
“Aku tak munafik, honey. Berdekatan denganmu seumpama uji nyali bagiku. Kamu pasti tahu kalau aku mencintaimu hingga hampir meledak rasanya saking penuhnya cawan madu rasaku untukmu. Dan cinta juga hasratku padamu berpadu menjadi satu tak terpisahkan. Bahkan sekarang dia mulai bereaksi dan meronta karena berdekatan denganmu.” Bima menaikkan alis penuh arti dalam senyumnya, menikmati wajah Viona yang bersemburat merah, lalu mengecup sekilas bibir ranum yang menjadi candunya.
“Katakan pada dia yang meronta. Baru begini aja udah bereaksi, dasar murahan!” Viona memukul pelan sisi dada Bima dan melipat bibir menahan gelaknya.
Bima terbahak-bahak meledakkan tawa. “Dia mengatakan padaku tak keberatan sama sekali menjadi murahan hanya untukmu seorang,” jawabnya, lalu menenggelamkan Viona ke dalam pelukannya.
Mereka saling meresapi semburan cinta yang membuncah-buncah di dada. Berpelukan erat sambil menikmati panorama pantai Bali yang eksotis. Setelah puas memanjakan mata mereka shalat dzuhur bersama, lalu turun ke restoran untuk makan siang, bersegera mengejar waktu pertemuan bisnis untuk persiapan seminar esok hari.
“Beristirahatlah, atau kalau mau berjalan-jalan ajak saja salah satu stafku yang tak ikut denganku. Sengaja kubawa dua orang staf wanita untuk untuk menemanimu saat aku bekerja di sini. Jangan pergi sendiri, aku takut ada yang menculik istri cantikku yang hanya ada satu-satunya di dunia.” Bima berpesan dengan nada serius sebelum berangkat ke tempat pertemuan yang letaknya tak terlalu jauh dari hotel.
“Hei, dasar posesif, memangnya aku anak kecil! Istrimu ini bisa bisa menjaga diri dengan baik, sayang.” Viona terkekeh, sementara tangannya sibuk mengikat dasi sang suami.
“Pokoknya nggak boleh sendirian, aku takkan tenang, oke.” Bima setengah memaksa berbalut kecemasan.
“Iya deh iya. Bekerjalah dengan tenang. Lagipula aku sedang tak ingin berjalan-jalan, masih lelah. Sepertinya untuk hari ini aku mau istirahat saja atau mungkin turun ke bawah ke tempat spa untuk merelaksasi tubuh.”
“Hmm… kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Jangan berdalih takut mengganggu pekerjaanku.”
Viona mengangguk, kemudian menyudahi membantu Bima berpakaian setelah sentuhan terakhir memakaikan jas dengan rapi. Viona mengantar Bima sampai ke lobi kemudian berjinjit mengecup pipi Bima penuh sayang. “Selamat bekerja suamiku.”
“Aku berangkat.” Bima mengecup kening Viona dan kemudian tanpa diduga Bima juga mengecup bibirnya padahal di sana ada Adrian, para staf juga orang-orang yang berlalu lalang menyaksikan. Adrian dan yang lainnya langsung membuang pandangan, mereka kikuk dan salah tingkah disajikan adegan live pimpinannya yang dimabuk asmara.
Bima segera masuk ke dalam mobil dan melambai saat kendaraan melaju. Sementara Viona meraba pipinya yang memanas dan memerah lantaran belum begitu terbiasa dengan perlakuan Bima yang kini sering memesrainya di depan umum.