
“Dua hari lagi kita sudah bisa pindah ke rumah lama. Semuanya sudah hampir selesai, tinggal ada beberapa tanaman pelengkap untuk menghias taman yang belum datang semua,” ucap Bima yang baru saja selesai mandi sepulang bekerja.
Waktu menunjukkan pukul Sembilan malam. Bima sampai di rumah lebih lambat dari biasanya karena selepas pekerjaan di kantor selesai ia datang meninjau rumah lamanya, memeriksa semua detailnya agar dapat ditinggali dengan nyaman oleh keluarga kecilnya.
Bima duduk di kursi meja rias Viona menghadap cermin. Hanya memakai celana joger tanpa atasan menampakkan tubuh bagian atasnya dengan otot-otot yang terbentuk pas tak berlebihan, begitu menggiurkan menggoda. Sedangkan istri cantiknya berdiri di belakangnya tengah menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil.
“Mas, bolehkah sebelum dipindahi, aku ingin mengadakan pengajian syukuran dulu di rumah lama kita. Tak perlu mengundang orang luar, cukup keluarga besar saja. Memanjatkan do’a bersama dalam rasa syukur atas segala nikmat dan anugerah yang telah Allah beri, dan semoga rumah yang ditinggali membawa keberkahan dalam mengarungi mahligai rumah tangga kita,” pinta Viona di sela-sela kegiatannya mengeringkan rambut Bima.
“Tentu saja, lakukan sesuai keinginanmu apapun itu. Terlebih lagi niatanmu demi kebaikan kita semua. Kamu lah Nyonya di rumah itu, yang berhak mengatur segala sesuatu di dalamnya. Rumah itu memang untukmu, tempat untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Dan sebetulnya rumah lama kita sudah kuganti hak kepemilikannya atas namamu, jadi aku hanya menumpang di sana, Nyonya.” Bima terkekeh sambil memandangi Viona melalui cermin.
Viona menghentikan kegiatannya. Ia juga ikut membalas tatapan ke arah cermin. Rasa haru juga gembira berpadu cinta semakin meluap-luap menari indah di dalam dada. Bima benar-benar berusaha memantaskan dan memperbaiki diri untuk menjadi suami yang seharusnya. Ia memeluk dari belakang dan menopangkan dagunya di pundak telanjang Bima.
“Makasih banyak, Mas. Atas semua yang sudah Mas lakukan untukku juga Nara. Sejujurnya aku tak pernah mengharapkan tentang kepemilikan rumah. Yang kuinginkan hanyalah kita selalu bersama dalam upaya saling mengingatkan dan memperbaiki diri, mengarungi bahtera rumah tangga saling mengayomi satu sama lain,” sahut Viona lalu mengecup pipi Bima penuh sayang.
“Sudah seharusnya kepala rumah tangga melakukan hal ini. Memberimu rumah adalah kewajibanku meskipun kutahu kamu juga lebih dari mampu. Tapi sebagai suami, kamu dan Nara adalah tanggung jawabku. Inginnya aku memintamu berdiam di rumah saja, nafkah lahir yang kamu inginkan berapapun nominalnya akan kupenuhi. Tapi aku tahu, membuat sketsa dan merancang busana bukan hanya sekadar pekerjaan untukmu, tapi juga semangat hidupmu. Aku takkan melarangnya. Aku percaya, kamu bisa membagi waktu dengan baik antara merancang dan juga rumah tangga kita.” Bima berkata sambil mengelus-elus lembut lengan Viona yang memeluknya.
“Mas memang yang terbaik. Makasih sudah sangat mengerti aku.” Viona makin mengeratkan pelukannya dan menempelkan pipinya di pundak Bima.
“Ehm… kalau begitu, aku menginginkan ucapan terima kasih spesial darimu, sayang?” ujarnya serak dengan nada penuh arti kemudian mengulum senyum.
“Apakah aku harus membuat surat resmi tertulis dan kuupload di media sosial? Atau aku harus membangun monumen sebagai ungkapan rasa terima kasihku untukmu, suamiku?” Viona balas menggoda, berkata sambil meniupkan napas hangatnya pelan ke telinga Bima, membuat lelakinya itu meremang dan menggeram berat.
Bima mengecup tangan Viona gemas kemudian berbalik hingga posisinya kini berhadapan. Bima melingkarkan tangannya di pinggang ramping Viona dan mengenyahkan jarak di antara mereka.
“Jika benar ingin berterimakasih, aku ingin kamu memimpin penyiraman ladang malam ini, hmm.” Bima memasang wajah memelas penuh harap juga permohonan ingin dihangatkan.
Wajah Viona merona seraya menggigit bibir. Untuk sesaat berpikir, ia memang bukanlah ahli dalam urusan ranjang, biasanya selalu Bima yang lebih dulu memulai dan memimpin. Tapi apa salahnya bukan mencobanya demi menyenangkan suami? Ia tampak ragu, tetapi kemudian mengangguk malu seraya tertunduk menyembunyikan wajah merahnya.
Bima tersenyum senang kemudian menggendong Viona seperti koala dan membawanya duduk di tepi ranjang.
“Aku milikmu, honey. Lakukan apapun yang kamu suka.” Bima menaruh kedua lengannya di belakang tubuhnya bertumpu di kasur. Memberi isyarat pada sang istri yang duduk di pangkuannya untuk memulai ritual bercocok tanam.
Dengan gerakan malu-malu Viona mulai melancarkan aksinya. Membelai dada bidang Bima yang sudah tak berpenghalang. Bima memejamkan mata menikmati sentuhan seringan bulu dari tangan halus yang membelai kulitnya, menciptakan desiran hebat menyengat ke sekujur tubuhnya dan membangkitkan gairahnya hingga napasnya kacau seketika.
Viona mengerahkan segala kemampuannya untuk memesrai dan memanjakan suaminya. Desahan jantan Bima tak terbendung sarat akan pemujaan pada wanitanya, meskipun Viona masih bergerak kaku dalam memimpin untuk yang pertama kalinya.
Awalnya Viona bergerak malu-malu, tetapi kemudian berubah menjadi lebih bersemangat kala erangan Bima menyulut gairahnya. Bima masih bertahan berdiam diri kendati tangannya sudah gatal ingin menyentuh Viona di mana-mana. Malam ini ia ingin membiarkan dirinya dikuasai istri tercintanya di arena panas ranjang mereka.
Lama-kelamaan petahanan Bima jebol juga, ia membalik posisi sehinga kini dirinya mengungkung di atas melingkupi tubuh mungil Viona. Dengan deru napas memburu dia mengambil alih permainan, keduanya sama-sama dilanda gelora yang makin membumbung tinggi, saling terengah bersahutan dalam peleburan penyatuan jiwa dan raga.