
“Aduh….” Anak itu memekik kecil.
Bima yang berada beberapa meter di belakang Adrian mempercepat langkahnya ketika melihat sang asisten terjungkal. Namun, perhatiannya kini teralih ke arah anak perempuan cantik dan lucu berkuncir dua yang terjatuh dekat Adrian, ia tak mempedulikan lagi asistennya yang tengah berjuang meraba-raba lantai mencari kaca matanya yang terpental.
Bima menghampiri dan langsung bersimpuh dengan satu lutut bertumpu di lantai di depan anak itu.“Gadis kecil. Ada yang sakit?” Bima bertanya dan membantu anak itu bangun.
“Nggak.” Nara menggeleng. “Ternyata bener kata Bunda. Nara jadi kuat karena tadi pagi minum susu murni sampai habis,” celotehnya menggemaskan.
Bima tersenyum merekah. Anak ini sepertinya seumuran dengan anaknya, Nara.
Tunggu? Apa tadi anak ini menyebut dirinya sendiri Nara? Aku tak mungkin salah dengar kan? Tapi kalau dilihat dengan teliti wajahnya memang familiar, sangat mirip dengan anak yang ada di galeri foto ibu. Dan mata itu… itu mata indah Viona, dan senyumnya mirip, mirip denganku, ucap Bima dalam hati.
“Si-siapa namamu gadis kecil?” tanya Bima lagi ingin memastikan sesuatu.
Nara tampak berpikir dan menatap Bima penuh antisispasi. Biasanya anak ini tak mudah diajak bicara oleh orang yang baru ditemuinya, tetapi entah kenapa kali ini Nara merasa bahwa orang asing yang di hadapannya berbeda.
“Namaku Nara. Narayana Putri Prasetyo. Kata bu guru Nara harus hapal nama lengkap, kan sekarang udah sekolah kelas A,” jawabnya riang sambil tersenyum senang.
Bima terkesiap mendengar nama itu, nama yang diberikannya untuk buah hatinya dengan Viona. Tatapannya menyendu, lututnya terasa lemas. Saat ia hendak merengkuh si gadis kecil ke dalam pelukannya terdengar suara seorang wanita menginterupsi.
“Nara!” panggil Viona dari kejauhan, suaranya sedikit meninggi saat memanggil anaknya, sarat akan kecemasan.
Viona panik dan meminta Juna berpencar mencari, hingga akhirnya dia menemukan sang anak dekat toko boneka, dari kejauhan terlihat sedang berbincang dengan seorang lelaki. Viona semakin cemas dan mempercepat langkahnya karena takut jika Nara menjadi korban sindikat penculikan anak.
Nara menoleh begitu mendengar suara ibunya. Ia berbalik dan berlari menuju Viona. “Bundaaaa.” Tak lama datanglah Juna yang juga berlari terengah-engah menyusul di belakang.
“Nara, sudah Bunda bilang jangan ke mana-mana!” Viona langsung meraup Nara ke dalam gendongannya, nada suaranya sedikit geram lantaran dilanda rasa cemas yang hebat, takut terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya. Ia belum menyadari lelaki yang tadi berbincang dengan Nara adalah Bima, jarak mereka kira-kira sepuluh meter.
Viona, Nara dan juga Juna belum menyadari seorang lelaki terus memaku pandangan ke arah mereka dan melangkah mendekat, raut wajahnya luar biasa menyedihkan. Pemandangan yang sungguh mengiris hatinya, harusnya dia yang berada di samping Viona dan Nara, jika saja dulu dia bertaubat lebih awal, mungkin semua ini tak harus dialaminya.
“Nara udah nggak sabar pengen ke toko boneka, tadi waktu lewat Nara lihat ada boneka beruang yang bagus, terus Nara jatoh gara-gara lari-larian, terus ditolongin Om itu.” Nara mengarahkan telunjuknya ke arah Bima yang berjalan makin mendekat dengan langkah gontai.
Bima merasa hatinya diremas kuat oleh seribu tangan tak kasat mata berkuku tajam, terasa luar biasa nyeri juga perih tak terperi. Ternyata begini rasanya, kala si buah hati memanggilnya dengan sebutan om, bukan ayah.
Viona juga tak kalah terkejutnya, tak menyangka Nara akan bertemu ayah kandungnya dalam situasi yang tak terduga, lalu tiba-tiba Nara meronta dan berkata,” Bunda, Nara mau digendongnya sama Papi,” ucapnya sambil menyondongkan tubuh ke arah Juna yang berdiri di samping Viona.
Degh….
Bima merasa hancur luluh lantah seketika. Nara memanggil lelaki lain dengan sebutan Papi, tetapi justru dirinya dipanggil dengan sebutan untuk orang asing oleh darah dagingnya sendiri.