Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Hilang



Dengan tangan saling meremat, Nia datang ke gedung perusahaan Sinar Abadi Grup sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri memastikan dirinya tidak dibuntuti. Ia setengah berlari masuk dan berhenti di depan meja resepsionis dengan napas tersengal.


Ia meminta bertemu dengan Direktur atau sekertarisnya dan mengatakan ada hal darurat yang harus disampaikannya secara pribadi. Si resepsionis di lobi tentu saja tidak serta memberi izin dan memercayai perkataan Nia begitu saja meskipun gadis rapuh itu terus memohon. Bertemu dengan direktur tanpa membuat janji terlebih dahulu bukanlah hal mudah kecuali untuk keluarga dan orang-orang terdekat.


Nia terlibat adu mulut hingga memelas. Dan perhatiannya teralih kala melihat Adrian bersama dua karyawan melenggang hendak keluar dari kantor. Tanpa pikir panjang, Nia berlari menghadang jalan Adrian yang membuatnya hampir diseret satpam karena ulah nekatnya itu.


Adrian mengenali sosok Nia lantaran pernah bertemu beberapa kali saat penanda tanganan kerja sama dulu. Nia meronta meminta dengan sangat pada satpam untuk dilepaskan. Dan sedikit berteriak memohon ingin berbicara pada Adrian.


“Pak Adrian, saya harus bicara dengan Anda. Ada hal darurat, ini tentang istri direktur.” mohonnya dengan nada lemah juga wajah yang sedikit pucat.


Adrian bergeming, menatap lurus pada gadis kurus yang dipegangi satpam. Setelah memerhatikan dengan saksama ia akhirnya menyuruh satpam untuk melepaskan Nia. Mendengar kata "sesuatu tentang istri direktur" cukup membuat Adrian terganggu. Ia lalu meminta Nia mengikutinya ke arah sofa yang terdapat di sudut lobi.


“Bicaralah. Ada apa hal penting apa?” tanya Adrian singkat.


“Be-begini, Pak Adrian. Saya nekat datang ke sini dan mempertaruhkan keselamatan hidup saya untuk memberitahu Anda bahwa Pak Yoga … Pak Yoga berencana menculik istri Direktur juga berniat mencelakainya," jelas Nia pelan.


“Apa!” Adrian memekik kaget. Namun, sesaat kemudian dia kembali menormalkan air mukanya dan tidak serta merta langsung percaya akan ucapan Nia. Jangan- jangan gadis ini hanya membual seperti bos-nya.


“Lantas, apakah aku harus percaya? Kamu tiba-tiba datang dan menyampaikan hal semacam ini padaku. Bagaimana kalau ternyata kamu itu sebenarnya suruhannya Pak Yoga yang berniat memprovokasi direktur kami?" ujar Adrian sangsi.


“Saya paham, pasti sulit mempercayai saya. Tapi apa yang saya katakan semuanya adalah fakta."


Nia mulai menceritakan panjang lebar tentang apa yang diketahuinya. Dia mulai masa bodo jika video syurnya merebak. Nia sudah lelah jiwa dan raga, cukuplah mungkin nantinya ia menanggung malu dan orang-orang mencapnya jalang, daripada berakhir di penjara jika dirinya mendiamkan rencana jahat Yoga karena polisi pasti akan menganggapnya satu komplotan.


Ia harus punya keberanian untuk bisa lepas dari jeratan yang dibelitkan Yoga dan setidaknya berbuat hal benar satu kali saja dalam hidupnya yang kini penuh noda sebelum menjemput kehancurannya. Orang tuanya mungkin takkan pernah menerimanya lagi, tetapi Nia sudah tak sanggup lagi menanggung semuanya.


Nia bahkan bergidik ngeri saat menguping semalam tentang keinginan bejat Yoga yang berniat merusak istri Bima. Cukuplah dia dan beberapa wanita lainnya yang terlanjur menderita dan merasakan kebengisan dari kebejatan Yoga, jangan ada korban lain lagi.


“Besok, kalian harus bisa menculik istrinya Bima bagaimanapun caranya. Akan kuminta tebusan dalam jumlah fantastis agar aku bisa kabur ke luar negeri secepatnya setelahnya, dan tentu saja kalian juga akan mendapat bagian yang besar. Juga kita bisa mencicipi sedikit saja si cantik galak itu jika Bima bergerak lambat, sekalian bersenang-senang. Wanita itu juga salah satu penyebab yang membuatku seperti sekarang ini. Ah, ada yang berdenyut dalam diriku padahal baru membayangkannya aja.” Yoga terkekeh menjijikkan sebelum menyambung kalimatnya.


“Situasi di sini makin menghimpitku. Aku tak mau kabur dengan uang sedikit, lagi pula untuk menyuap berbagai pihak agar bisa meloloskanku keluar negeri juga butuh dana besar. Pihak bank juga perusahaan-perusahaan sedang menuntut kejelasan uang mereka, sudah pasti aku sedang dalam pengawasan.”


“Tapi Bos, setahu kami sekarang ini istrinya selalu dikawal ke manapun pergi.”


“Ya cari cara lah bodoh! Aku membayar kalian untuk bekerja. Pakai otak kalian! Bukan malah bertanya padaku. Ini uang muka, dan sisanya nanti setelah misi penculikan berhasil.” Yoga melempar segepok uang ke atas meja. “Lakukan dengan benar!”


Itulah percakapan Yoga semalam dengan para preman yang terus terngiang di telinganya. Nia secepat mungkin menjelaskannya karena diburu waktu dan segera berpamitan. Semoga dengan informasi yang diberikannya dapat menggagalkan rencana Yoga dan menyelamatkan istri Bima.


“Anda harus segera memberitahu Pak Bima untuk menghentikan rencana Pak yoga. Saya tak bisa berlama-lama.” Nia undur diri setengah berlari dari sana.


Adrian yang asalnya tidak begitu percaya mulai terusik. Apalagi ia menangkap ekspresi ketulusan juga ketakutan di wajah gadis rapuh itu. Adrian segera naik ke lantai di mana ruangan Bima berada, ia langsung berlari begitu pintu lift terbuka dan menerjang pintu direktur tanpa permisi membuat Bima terperanjat juga keheranan akan gelagat sekertarisnya itu.


Tanpa basa basi Adrian langsung menyemburkan informasi yang didapatnya beberapa saat yang lalu serinci mungkin. Bima menjatuhkan pulpen yang dipegangnya setelah mendengar penuturan Adrian.


Matanya membulat seketika dengan degupan jantung yang mulai liar menyesakkan dada bertepatan dengan ponselnya yang berdering, tertera nama Bik Yati di sana.


“Halo. Viona ada di situ kan?” sambar Bima tak sabaran


“Maaf Tuan, Nyonya … nyonya tiba-tiba hilang di area kolam renang. Sudah lebih dari satu jam yang lalu Nyonya Viona tidak kembali lagi dari toilet. Kami sudah mencoba mencarinya, tapi tak kunjung menemukannya. Sekarang, sekali lagi para pengawal dan pengelola tengah menggeledah dan menyisir seluruh area kolam renang juga tempat parkir untuk memastikan.” Suara Bik Yati di seberang telepon terdengar panik gemetaran.


“Ap-apa? Vi-Viona hilang?”


Seluruh tubuh Bima lemas seperti dilolosi tulang belulangnya setelah mendengar penuturan Bik Yati. Adrian juga ikut tercengang dengan mata membola. Ternyata yang disampaikan Nia bukanlah isapan jempol belaka.


Seketika pikiran Bima gelap berkabut. Istrinya yang tengah hamil hilang dan dipastikan pelakunya adalah Yoga. Wanita yang mengandung anaknya diculik membuatnya hampir gila saat ini juga. Ia juga tak bisa menyalahkan pengawal, karena Viona sendiri yang meminta tak ingin dikawal selama berada di area kolam renang.


“Bik Yati, tolong jaga Nara seketat mungkin. Segera pulang dan tetaplah di rumah. Biarkan para pengawal tinggal di rumah juga untuk menambah penjagaan. Aku yang akan mencari Viona." Bima menutup panggilan telepon dengan tangan gemetar. Kecemasan dan ketakutan menyerbunya tanpa ampun.


“Adrian, hubungi polisi sekarang juga!”


Belum juga selesai Adrian menekan nomor telepon polisi. Ponsel Adrian berbunyi menampilkan kiriman gambar di sana. Ia terkesiap dan segera memberikan ponselnya pada Bima. Kiriman gambarnya menampakkan Viona yang meringkuk di kasur dalam keadaan tangan terikat dan sepertinya pingsan.


Adrian, katakan pada atasanmu untuk datang sendiri dengan membawa sejumlah uang yang kuminta jika ingin istrinya selamat, datanglah ke alamat ini. Jangan berani memenggil polisi jika istrinya ingin tetap utuh. Sebaiknya segera, jika ditunda lebih lama lagi maka setiap jamnya kain yang melekat pada istrinya akan kulepas satu persatu. Yoga.


“Brengsek! Aku akan memotong tangannya jika berani menyentuh Viona! Adrian, siapkan uang yang diminta si bangsat itu, cepat! Aku akan pergi sendiri, sekarang juga!”


“Tapi, Pak. Itu berbahaya," cegah Adrian yang juga ikut panik.


Bima mencengkeram kerah kemeja Adrian setengah menariknya. “Jangan membantah! Aku sudah hampir gila. Istriku sedang hamil dan diculik! Cepat lakukan perintahku!” teriak Bima dengan suara meninggi sarat akan ketakutan dan keputus asaan.