
Pagi berikutnya Viona menolak bercinta selepas sarapan meskipun Bima tak henti merayunya mengajak bercumbu memergunakan waktu yang tersisa sebelum penerbangan. Ia menegaskan pada suami manjanya tak ingin terlambat lagi dan melewatkan jadwal kepulangan mereka ke Bandung.
Selama perjalanan pulang yang dilakukan Viona di dalam pesawat adalah tidur sepuas-puasnya. Dirinya bagaikan ponsel yang baterainya terkuras habis. Seharian kemarin Bima terus menggempurnya, meskipun sudah diimbangi dengan mengkonsumsi suplemen vitamin agar staminannya prima, tetap saja tubuhnya butuh diisi ulang dengan cara diistirahatkan dalam lelap.
Viona juga sedikit meriang. Efek seringnya diguyur air melaksanakan mandi wajib setiap kali hendak shalat, juga jarangnya pakaian melekat dengan benar di badannya lantaran Bima terus saja melucutinya.
Tubuhnya terasa remuk redam, tetapi ia tak merasa keberatan sama sekali. Senyuman tak henti tersungging, curahan jutaan tetes hujan cinta dari lelakinya yang dipersembahkan hanya untuknya membuat rasa bahagia berkali-kali lipat membuncah-buncah di dada. Wanita cantik berbulu mata lentik itu tidur nyenyak bergelung dipelukan penjaga hatinya. Ia terlelap begitu pulas laksana rusa mati yang memasrahkan diri dalam lingkupan singa gagah.
*****
Nara menyambut kepulangan ayah bundanya dengan riang gembira. Sejak bundanya menelepon sang nenek sesaat begitu tiba di bandara, bocah itu menunggu di halaman depan rumah Rima dan Abdul sambil sesekali melongok ke arah jalan dengan tak sabaran. Ia berjingkrak senang kala kedua orang tuanya muncul turun dari mobil dan langsung melompat ke gendongan sang ayah. Mengecup sayang pipi Viona juga Bima secara bergantian.
“Nara kangen Ayah sama Bunda. Mana oleh-oleh dedek bayinya?” cicitnya sembari menatap kedua orang tuanya dengan bola mata jernihnya yang bergulir berkilauan.
Viona mengusap sayang rambut anaknya. "Dedeknya masih bersiap-siap biar cakep, kan harus cakep kalau mau ketemu kakak secantik Nara.”
“Oh iya, Nara kan memang cantik,” ujarnya menggemaskan sambil memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan seraya tersenyum senang. “Ya udah bilangin sama dedeknya, siap-siap dulu sampai cakep tapi gak boleh lama-lama.”
“Nanti biar Ayah yang bilang sama dedeknya. Iya kan Yah?” Viona bertanya pada sang suami sambil melipat bibir mengulum senyum, kemudian berjinjit mendekatkan wajah ke telinga Bima.
“Kan Ayah yang sering jenguk ke dalam sana,” bisik Viona menggoda, berkata sepelan mungkin agar Nara tak sampai mendengarnya.
Bima tersenyum lebar dan mencubit hidung bangir Viona.“Siap, Bunda. Nanti Ayah sampaikan pesan kakak Nara yang cantik.” Bima mengecup pipi putrinya gemas.
“Kenapa ngobrol di garasi? Ayo masuk. Kalian pasti capek.” Suara Rima dari ambang pintu menginterupsi mereka. Di raut wajahnya tercetak jelas rona bahagia. Bagaimana tidak, putri yang dilahirkannya kini selalu tersenyum merekah kadang juga merona, tampak begitu hidup.
“Iya Bu,” sahut keduanya. Bima merangkul pinggang Viona dengan Nara tetap di gendongannya dan masuk ke dalam rumah bersama-sama.
“Vi, ibu sudah memasak makanan kesukaanmu juga Bima. kita makan siang sama-sama. Mumpung hari sabtu begini ayah juga ada di rumah.
Semua menuju meja makan. Bima kembali teringat momen kali pertamanya makan bersama di meja yang sama. Terutama tentang menu sup kambing, juga bagaimana ibu mertuanya dulu sering melontarkan kata candaan pada dirinya juga Viona yang berstatus pengantin baru kala itu. Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan dan mengenang dalam senyuman.
Abdul ikut bergabung di meja. Mereka bersantap bersama dalam suasana gembira yang tercipta, ditambah celotehan cucu cantiknya yang selalu mampu mencairkan suasana, kendati Abdul tak banyak bicara dan hanya mengulas senyum. Matanya lebih sering terfokus pada putri semata wayangnya.
Mendesah lega dalam diam, sepertinya menerima Bima kembali mempersunting putrinya adalah keputusan yang tepat, walaupun masih terselip secercah luka akibat rasa kecewa yang dulu sempat menghantam hatinya yang kini hanya tinggal berupa bekas. Senyum juga tawa bahagia Viona seumpama obat kalbu bagi Abdul, Vionanya, permata hatinya.
Satu jam selepas makan bersama, Nara mulai terkantuk-kantuk karena memang sudah memasuki waktu tidur siangnya. Bima dan Viona membawanya ke kamar Viona di lantai dua, menemani Nara yang terus menempel pada keduanya hingga bocah lucu itu terlelap.
Ia kemudian menyapukan mata ke seluruh kamar lalu beralih menatap Viona yang juga tengah memaku pandangan kepadanya, bibirnya mengurai tawa hingga menampakkan deretan gigi putihnya.
“Kenapa Mas tertawa? Ada yang lucu?” Kening Viona mengernyit tak mengerti dengan reaksi suaminya yang tiba-tiba.
Bima bangun, berpindah posisi berbaring ke belakang tubuh Viona dan melingkarkan lengan ke perut Viona. “Aku teringat kejadian malam pengantin kita dulu,” sahutnya terkekeh dengan sisa-sisa gelaknya.
“Kejadian apa?” imbuh Viona masih dalam raut wajah penuh tanya. Ia pun menoleh menatap lelakinya.
“Masih ingatkah? Malam itu, di kamar ini, kamu langsung pingsan saat kucium untuk yang pertama kalinya.” Bima terkekeh dalam binar mata penuh rona bahagia.
Viona ikut tergelak. Wajahnya langsung memerah kemudian melayangkan pukulan kecil ke lengan suaminya.
“Ish… jangan membahasnya! Aku malu!” pekiknya.
“Tapi itu adalah kejadian terlucu yang pernah terjadi dalam hidupku.” Bima menjawab sambil kembali melanjutkan tawa.
“Itu adalah kali pertama aku dicium laki-laki, mana kutahu cara mengatur napas saat bibir dibungkam menggunakan bibir juga. Akhirnya aku menahan napas saja karena tak tahu apa yang harus kulakukan!” dengusnya galak, padahal dihatinya berteriak malu.
“Itu juga adalah kali pertamaku.”
“Cih… pasti bohong! Buktinya Mas langsung lihai saja mencicipi bibir,” sergah Viona tak percaya.
“Hei… itu karena sebelum menikah aku mempelajarinya dari film-film seperti yang pernah dikadokan Ibel untukmu. Jadi setidaknya aku tak ikut pingsan saat pertama kali mencumbuimu.” Bima berucap pelan ke dekat telinga Viona tanpa malu sedikitpun, sedangkan yang mendengarnya malah belingsatan.
“Haish kenapa harus menonton film semacam itu segala!”
“Tentu saja supaya terlatih memesraimu. Lagipula aku menontonnya untuk belajar bagaimana cara memberi nafkah batin untuk istriku. Bukankah kamu sudah membuktikannya juga, hmm? Atau mungkin mau mencoba lagi di kamar ini, mengganti momen lama kita dengan baik dan benar?” godanya dalam bisikan pelan diiringi seringai jahil.
Viona mengambil guling dan menimpuk wajah Bima. “Jangan berisik! Nanti Nara bangun!” serunya galak yang disambut rangkulan yang semakin mengerat.
Bima menahan tawanya supaya tidak terbahak yang bisa menyebabkan berisik. Istrinya ini begitu menggemaskan, masih saja salah tingkah jika membahas hal-hal intim. Begitulah wanitanya, istrinya, kekasih hatinya.
“Sebaiknya kita juga tidur, kamu pasti masih lelah kan akibat serangan tanpa henti dari Pak Tani ini," ujarnya terkekeh. "Semoga benih yang kutabur lekas membuahkan hasil.” Bima mengelus lembut permukaan perut Viona.
“Semoga, Mas. Aku pun menantikannya.”