
Tubuh Viona benar-benar lemas. Semua makanan yang ditelannya terkuras habis dimuntahkan kembali. Kerongkongannya panas, ulu hatinya juga nyeri, disertai peluh bermanik di dahi juga wajah yang memucat.
"Sebaiknya kita ke dokter sekarang juga." Bima berkata dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan lagi, mengusap keringat di dahi Viona menggunakan sapu tangan yang selalu dibawanya.
"Nggak usah, Mas. Kayaknya cuma masuk angin biasa. Mungkin karena suhu AC restoran terlalu rendah," jawab Viona di sela-sela langkahnya. "Nanti dioles kayu putih sama minum teh jahe juga pasti baikan."
Bima hendak meraup Viona ke dalam gendongannya, tetapi istrinya itu meminta dipapah saja kembali ke kursi mereka, tidak ingin menjadi pusat perhatian para pengunjung restoran.
"Kamu kenapa, Vi?" Juna terkejut melihat Viona pucat pasi.
"Aku nggak apa-apa, cuma masuk angin," jelasnya pelan seraya mendaratkan bokong di kursi sembari meringis-ringis.
"Viona mendadak kurang sehat, sepertinya kami harus pamit pulang lebih awal. Maaf sekali, Juna," ucap Bima merasa tak enak hati karena harus pulang sebelum waktunya ketika makan malam baru saja dimulai.
"Iya tenang saja, sebaiknya Viona segera dibawa pulang agar bisa beristirahat. Semoga lekas sembuh kembali, Vi."
"Sorry banget ya, Jun."
Bima, Viona dan Nara bergegas meninggalkan restoran. Nara yang tadi sedang mengunyah makanan pun menaruh peralatan makannya kala melihat bundanya pucat dan lemas, bahkan langsung mengangguk setuju saat diajak pulang. Seolah paham akan kondisi bundanya yang sedang kurang baik.
"Kita mampir dulu ke rumah sakit ya, aku khawatir muntah-muntahmu bukan cuma karena masuk angin," bujuk Bima di tengah-tengah perjalanan pulang sambil tetap fokus pada kemudi. Melihat Viona yang sejak tadi bersandar lemah dengan mata terpejam membuatnya cemas tak karuan.
"Aku pengen langsung pulang aja, Mas. Please, aku kangen baju bolaku," pinta Viona lirih.
Di saat Bima tengah bimbang, Viona malah sibuk memikirkan baju bolanya. Ia ingin segera pulang dan memakainya. Baru membayangkannya saja rasa mualnya berangsur-angsur berkurang.
Bima membantu Viona berganti pakaian dengan salah satu baju bola sesuai keinginan istrinya itu, lalu mengoleskan kayu putih di sekitar punggung dan perut. Tak lama kemudian teh jahe yang diminta sudah siap diantar ke kamar oleh salah satu pelayan bersamaan dengan Nara yang juga masuk ke kamar orang tuanya setelah selesai berganti pakaian dan menggosok gigi. Bocah itu ikut khawatir, naik ke tempat tidur lalu berbaring di sebelah Viona dan mengusap-usap sayang rambut sang bunda.
"Bunda jangan sakit, ayo bobo. Ini beruang dokter Nara bawa biar Bunda cepat sembuh," ujarnya dengan nada bicara lucunya yang menggemaskan.
"Makasih Anak Bunda." Viona mencium pipi Nara dan tersenyum senang.
"Istirahatlah, sayang. Jika beberapa jam ke depan kondisimu tak kunjung membaik, kita ke rumah sakit dan tak boleh menolak," pinta Bima tidak ingin dibantah sambil memijat lembut kaki Viona.
Viona mengangguk dengan seulas senyum lemah. Beberapa saat kemudian ia merasa lebih baik dan terayu rasa kantuk, hingga akhirnya tertidur dengan Nara yang juga ikut terlelap di sebelahnya.
Dipandanginya dua orang yang teramat berharga baginya. Istri dan juga anaknya. Bima sedikit lega, meskipun belum merasa tenang sepenuhnya akan kondisi Viona. Ia membungkuk mengecup satu-persatu para bidadarinya kemudian menyelimutinya.
Bima beranjak ke kamar mandi untuk berganti pakaian juga bersih-bersih seperti mencuci wajah dan mengggosok gigi. Membuka salah satu lemari yang tertanam di dekat wastafel untuk mengambil pasta gigi baru. Gerakan tangannya terhenti, Bima termenung dengan tatapan lurus mengunci pada benda yang berjejer di samping kemasan-kemasan kotak persegi panjang berisi pasta gigi baru.
Sejenak Bima bergelut dengan pikirannya, kemudian matanya membulat dan ia membeku di sana. Sejak pindah pembalut-pembalut yang tersimpan tak berkurang sedikit pun. Kalau diingat-ingat, Viona memang belum pernah libur dalam melayaninya setelah mereka menikah kembali, kecuali jika keduanya kelelahan mereka hanya akan terlelap sambil berpelukan saja tanpa kegiatan bergelora. Pembalut yang utuh itu menandakan sesuatu bukan? Berarti selama dua bulan ini Viona belum mendapatkan tamu bulanannya.
Raut wajahnya yang asalnya kusut dan murung kini berubah semringah, bolehkah ia langsung menyimpulkan bahwa kini benihnya sedang bertumbuh di ladang Viona? Juga tingkah aneh istrinya belakangan ini mungkinkah karena efek ngidam? Dulu saat Viona mengandung Nara ia tak begitu memperhatikan dengan benar, bahkan lebih banyak tak peduli karena efek kecanduannya. Sehingga kini ia benar-benar lambat memahami dan menyadarinya.
Perasaannya senang tak menentu, ia bahkan nyaris mencuci muka menggunakan pasta gigi bukan facial wash. Senyuman lebar terbit begitu saja. Bima ingin memanggil dokter ke rumahnya sekarang juga, tetapi jika dipanggil ke rumah peralatan yang dibawa pasti terbatas. Akhirnya ia memutuskan besok pagi akan membawa Viona ke rumah sakit ibu dan anak terbaik yang terdapat di kota Bandung untuk memastikan dugaannya.
Setelah selesai dengan ritual bersih-bersihnya, Bima bergabung ke tempat tidur dan memeluk Viona dengan Posisi Viona di tengah ranjang diapit antara dirinya dan Nara. Tangan Bima bergulir mengelus-elus perut rata Viona penuh sayang. Mengecup pelipisnya lama dalam senyuman yang enggan surut, lalu ikut memejamkan mata dalam luapan hati bahagia.