
“Ayo, kita masuk.”
Bima menggamit tangan Viona yang masih memerhatikan sekeliling. Rumah tersebut tak terlampau besar dan berada di kawasan yang tidak terlalu ramai. Kliniknya sepertinya tutup karena sekarang adalah akhir pekan.
Kesan bersih menguar begitu kuat di sana, di dekat pintu masuk ke dalam rumah berjejer beberapa pot berisi tanaman beraneka ragam Aglonema indah yang menyambut.
“Ini rumah siapa Mas?” tanya Viona sesaat setelah Bima menekan bel.
Bima menanggapi pertanyaan Viona tanpa kata, hanya mengulas senyum tampannya dan mengeratkan genggamannya, membuat wanita cantik yang disebelahnya semakin penasaran.
Pintu terbuka. Dari dalam muncullah seorang pria berusia di atas lima puluhan, rambutnya sudah mulai memutih sebagian.
"Sudah datang rupanya, Ayo silakan masuk,” sambutnya ramah.
Bima mengajak Viona melangkah ke dalam dan duduk di kursi tamu yang terbuat dari akar kayu jati.
“Dokter Arsyad. Kenalkan, ini Viona,” ucap Bima sopan.
“Ternyata ini yang namanya Viona, cantik memesona. Pantas saja kamu cinta mati padanya,” sindir si dokter yang bernama Arsyad itu kepada Bima
Bima terkekeh dan mengangguk mengiyakan, sedang Viona tersipu dan menatap Bima penuh tanya, siapa gerangan orang ini? batinnya. Sepertinya Bima cukup akrab dengannya.
“Anda terlalu memuji,” sahut Viona berbasa basi.
“Bima banyak bercerita tentangmu. Kamu wanita hebat hebat Viona. Pasti butuh keberanian besar untuk melaporkan suamimu sendiri saat Bima menjadi buronan. Tapi berkat langkah beranimu itu Bima benar-benar mendapat pelajaran berharga, terlebih lagi saat menyadari bahwa akibat pengaruh buruk barang haramnya telah membuatnya melepasmu juga buah hatinya. Saat itulah menjadi titik balik Bima, dan akhirnya memahami mana yang terpenting dan yang paling dibutuhkan hidupnya, yaitu kamu dan juga putrimu bukan si obat yang memperbudaknya.” Dokter Arsyad menatap bangga pada Viona, ia juga baru tahu, bahwa wanita pemberani itu bertubuh mungil nan rapuh.
“Itu adalah pilihan terberat dan tersulit selama hidup saya. Melaporkan sendiri orang yang dicintai terasa amat menyakitkan, seumpama ribuan pedang dihujamkan bersamaan tepat di jantung. Tapi, tetap saya lakukan meskipun sakit. Karena jika benar mencintai seseorang dengan tulus, maka ingatkanlah dia saat berbuat kesalahan, dan ajarkan untuk bertanggung jawab akan perbuatannya. Itulah yang menguatkan saya, hanya berharap semoga orang yang saya cintai dapat menyadari kesalahannya, dan menjadi insan yang lebih baik lagi dalam menapaki hidup ke depannya meski pada kenyataannya banyak hal yang dikorbankan termasuk ikatan pernikahan kami yang putus tercerai-berai."
Ada getar tercekat dari setiap untaian kata yang Viona ungkapkan, tetapi berkat keberaniannya itulah, kini Bima menjadi manusia yang lebih baik lagi. Seperti pepatah, lebih baik minum jamu yang pahit namun nantinya bermanfaat menyehatkan bagi tubuh. Ketimbang meminum sirup yang rasanya manis, tetapi berefek buruk bagi ragamu di kemudian hari.
“Terima kasih, sayang. Berkat dirimu aku akhirnya merenungkan kesalahanku. Jika tidak, mungkin saat ini aku masih berada dalam kubangan nista yang sama.” Bima meremas tangan Viona yang berada digenggamannya, sorot mata penuh syukur terpancar dalam setiap binar netra teduhnya untuk si wanita hebat pemilik hatinya.
“Dan semua itu pastinya tak luput dari campur tangan Yang Mahakuasa. Saat itu aku memiliki keyakinan bahwa tindakanku benar kendati berat rasanya. Dan aku percaya, bahwa Mas pasti bisa menjadi insan yang lebih baik lagi untukku juga Nara,” balas Viona yang sama-sama bertukar pandang penuh syukur dengan lelaki satu-satunya penghuni ruang kalbunya.
Dokter Arsyad menatap keduanya penuh sukacita dan mengembuskan napas lega.
“Setelah pemulihan efek napza-nya membaik, Bima juga banyak belajar mengenai ilmu agama. Ingin mendekatkan diri pada Sang Pencipta juga ingin memperbaiki diri, bertaubat dalam sebenar-benarnya taubat. Juga banyak belajar terutama tentang kewajiban seorang suami juga ayah. Dengan harapan saat bebas nanti dia ingin menjadi sosok suami juga ayah yang seharusnya untuk keluarga kecilnya. Membangun asa dalam setiap do'anya, semoga kamu bisa menerimanya lagi. Bahkan setelah bebas pun Bima masih sering menemuiku untuk belajar memperdalam ilmu agama.”
“Terima kasih Dokter. Atas bimbingannya. Itu yang sangat saya harapkan dan do’kan setiap harinya. Berharap Mas Bima mendapat petunjuk dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga. Dan kabar gembiranya, saya sudah menerimanya lagi.” Viona tersenyum manis lalu menoleh pada Bima yang sejak tadi menatap berlumur rasa bangga juga cinta terhadapnya.
Mereka bertiga berbincang bertukar kata hingga tak terasa waktu sudah berlalu tiga puluh menit. Tak lupa Bima juga menyerahkan surat undangan kepada dokter tersebut. “Dok, kami akan menikah minggu depan, semoga Anda mempunyai waktu luang untuk menghadiri. Kedatangan Anda sangat berarti buat saya.”
“Syukur, Alhamdulillah. Doa’ku selalu menyertai kalian. Kupastikan datang ke hari bahagiamu. Semoga ikatan kalian langgeng hingga akhir hayat.”
“Terima kasih, Dok.”