Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Viona Nara



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Rambut panjang lurus sehalus sutera tergerai indah melambai-lambai, blouse warna merah marun dilengkapi blazer hitam membungkus tubuh langsingnya. Tas dan sepatu warna senada ikut berpartisispasi, kaki jenjang itu memasuki tempatnya mencurahkan ide sekaligus menyembuhkan jiwa dengan logo besar di depannya bertuliskan 'VN Fashion Collection.'


Bertambahnya usia juga cobaan hebat membuat Viona semakin menawan dan matang. Dua tahun terakhir ia kembali menggeluti bisnis sekaligus hobinya itu. Bukan hal mudah baginya untuk bangkit kembali, awal-awal pasca perceraiannya jiwanya kerap kali terguncang, bahkan sempat beberapa kali Viona nekat mendatangi rutan dengan membawa Nara yang masih bayi saat itu tanpa sepengetahuan Abdul, berharap jika melihat anaknya Bima akan luluh dan memutuskan untuk rujuk.


Semua dilakukannya demi Nara, Viona tetap ingin anaknya mendapatkan kasih sayang yang lengkap meskipun jujur dirinya merasa tak berharga di mata Bima. Akan tetapi semuanya sia-sia, kondisi Bima yang saat itu dalam masa-masa kecanduan hebat menolak bertemu siapapun. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, Viona sampai di ambang batasnya, dia lelah dan akhirnya menyerah.


“Sita, apakah persiapan dan ide peluncuran koleksi kali ini tetap terjaga kerahasiannya? kita harus menyimpan infonya rapat-rapat jangan sampai bocor keluar. Aku tak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, mereka yang mencuri desainku, tapi aku yang dituduh menjipak,” ucap Viona geram. Dia duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa setumpuk laporan penjualan bulanan, sedangkan Sita berdiri di seberang meja.


“Beres Bu, para pekerja toko ataupun pekerja di tempat konveksi tak ada yang mengetahui tentang hal ini. Hanya Ibu, Pak Arjuna, dan saya yang tahu,” sahut Sita mantap. Dia begitu bersemangat, peluncuran kali ini membuatnya berdebar-debar seperti tengah berperan sebagai agen rahasia di film-film.


“Duh, aku sudah tidak sabar menantikan momen dipamerkannya rancangan luar biasa Anda kali ini,” ucap sita antusias.


“Oke, Bos.” Sita keluar dari ruangan dan kembali mengurusi pekerjaannya sebagi manager butik.


Bisa berada di titik ini kembali bukanlah hal mudah bagi Viona, saat memutuskan untuk kembali membuka gerai-gerai butiknya, para pelanggannya disabotase oleh pesaing yang berkecimpung di bidang yang sama.


Berita tentang Bima yang menjadi narapidana santer beredar kala itu, membuat para pesaingnya sekan menemukan daging empuk dan berusaha menjatuhkan bisnisnya dengan menggunakan isu miring tersebut, bahkan pernah ada yang mencurigai dan menuduhnya sebagai pecandu narkoba juga, imbas dari perbuatan tercela mantan suaminya.


Banyak pelanggan tetapnya yang beralih ke butik lain, tetapi berkat dukungan penuh kedua orang tuanya juga orang-orang terdekatnya, Viona mampu berdiri lagi meskipun butuh usaha keras. Malik dan Annisa tak lepas tangan begitu saja meskipun Viona bukan lagi menantunya, mereka ikut memberi dukungan juga bertanggung jawab penuh pada Nara, mengunjungi secara berkala cucu tersayangnya.


Dukungan penuh juga dicurahkan dua teman terdekatnya, terutama Juna. Mengingat Ibel sudah menikah dan kini mempunyai bayi, otomatis Juna lah yang paling sering bersama Viona. Menemani dari saat-saat terpuruknya hingga sekarang mampu berbaur kembali dengan khalayak sambil mengangkat dagu percaya diri.


Viona mengganti nama brandnya sejak setahun lalu, yang asalnya Viona’s Fashion menjadi VN Fashion Collection, VN sendiri merupakan singkatan dari Viona dan Nara.


Dengan berbagai upaya, dedikasi dan kegigihannya di bidang yang dicintainya, para pelanggannya yang sempat berpaling kini kembali lagi padanya, bahkan mereka berduyun-duyun membawa serta keluarga juga teman-temannya untuk menjadi pelanggan butiknya. Namun, tidak serta merta Viona menjadi lengah, karena para pesaing bisnisnya tetap getol mencari celah kelemahan untuk menjatuhkannya kembali.


“Ehm… serius banget,” suara maskulin tak asing menginterupsi Viona yang tengah menunduk fokus. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Juna sudah berdiri di ambang pintu bersandar di kusen dengan kedua tangan masuk di saku celananya.