
Juna memejamkan mata sambil bersandar di kursi kebesarannya, memijat pangkal hidungnya sendiri efek dari isi kepalanya yang semrawut.
Setelah kejadian mencium paksa di rumah Viona kemarin, Viona mengatakan meminta waktu untuk menenangkan diri. Tadi pagi Juna menelepon mencoba membujuk ingin bertemu kembali dengan alasan mengantar Nara ke sekolah, tetapi Viona melarangnya datang dan malah meminta tak bertemu dulu untuk sementara waktu.
“Semuanya ini gara-gara si brengsek Bima yang tiba-tiba muncul lagi. Dasar keparat sialan!”
Juna melemparkan gelas kopi di tangannya hingga hancur berkeping-keping berceceran di lantai, asbak kristal yang ada di meja pun tak luput menjadi sasaran kemarahannya. Dadanya naik turun, sorot matanya menggelap dan giginya gemeletuk diserbu amarah. Juna memutar kursinya menghadap kaca besar yang menampakkan pemandangan hiruk pikuknya kota Bandung, mencoba meredam emosi yang sejak kemarin berkobar tiada henti.
“Harusnya aku sedikit lebih cepat membuat Viona terikat denganku saat si brengsek itu masih di dalam jeruji besi. Tak peduli meskipun kutahu dia tak mencintaiku, yang pasti Viona harus menjadi milikku!” Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih.
"Viona bodoh! Masih saja mencintai manusia tercela seperti Bima!" umpatnya berang.
Juna menaruh hati pada Viona sejak lama, namun lama-kelamaan cinta terpendamnya mengakar menjadi obsesi kala Viona menjadi janda. Semakin ke sini obsesinya semakin gila, dia kerap kali kehilangan kendali atas dirinya ketika Viona berada di dekatnya.
Ia seutuhnya lelaki normal, yang mempunyai hasrat juga gairah. Bohong jika dirinya tak bereaksi kala tak sengaja menyentuh kulit halus dan mencium aroma tubuh Viona yang memabukkan di hidungnya. Darah kelelakian Juna selalu bergolak ketika berdekatan dengan wanita bertubuh mungil itu.
“Kali ini takkan kubiarkan dia lepas lagi dari gengamanku, susah payah kuberusaha mendekatinya beberapa tahun ini. Aku harus lebih sering membuat Viona merasa bersalah dan merasa harus membalas budi atas semua yang pernah kulakukan untuknya. Juga aku harus mengambil hati Nara lebih sering jangan sampai dia lebih dekat dengan Bima. Akan kugunakan cara apapun agar Viona menjadi milikku seutuhnya!" gumamnya penuh tekad.
Pandu si sekertaris Juna mengetuk pintu dan masuk ke dalam dengan setumpuk dokumen di tangan, dia terperanjat kaget kala mendapati ruangan bosnya seperti kapal pecah.
“Ya ampun Bos!” pekiknya.
“M-maaf Bos, saya cuma kaget. Ruangan Anda tiba-tiba seperti arena kuda lumping,” celetuknya sambil nyengir kuda.
Juna mendengus, lalu matanya tertuju pada tumpukkan map yang dibawa si sekertaris. “Bawa dokumennya kesini, dan panggilkan cleaning servis untuk membersihkan ruanganku, sekarang!”
“Baik Bos.” Pandu dengan cepat meletakkan tumpukkan dokumen ke atas meja dan segera berbalik badan hendak kembali ke mejanya yang terletak di luar ruangan Juna untuk memanggil cleaning servis.
“Tunggu.”
“Iya Bos?” langkah Pandu terhenti dan ia menoleh di ambang pintu lantaran Juna memanggilnya kembali.
“Carikan semua informasi tentang Sinar Abadi Grup, terutama yang bergerak di bidang properti juga perkebunan teh, dan juga cari info siapa saja pesaingnya,” perintah Juna.
Raut wajah Pandu tampak bingung. “Untuk apa Bos? Perusahaan kita bergerak dalam bidang ekspor-impor kain juga produksi kain. Kain tak sinkron dengan bidang-bidang yang dinaungi Sinar Abadi Grup, bisnis kita sama sekali tak ada hubungannya dengan properti apalagi teh.”
“Kau ini terlalau banyak mengoceh. Informasinya mau kupakai untuk apa itu terserah padaku. Cepat kerjakan!” geram Juna seraya menghunuskan tatapan tajam.
“Baiklah Bos,” sahut Pandu yang meninggalkan ruangan kemudian.
“Bima, akan kulakukan apapun agar Viona takkan pernah kembali padamu. Bila perlu kukembalikan kamu ke dalam penjara dan tidak usah keluar lagi seumur hidupmu hingga membusuk di sana!”