
Si ibu penjual menyajikan soto buatannya ke atas meja tepat di hadapan Viona, lalu ia melirik ke arah Juna yang duduk berseberangan dengan Viona.
"Lho, kenapa duduknya disitu? Duduk di samping istrinya aja biar tambah mesra, terus kan istrinya lagi hamil, seharusnya lebih diperhatikan," ucap si ibu itu sok tahu sambil terus berdiri ditempatnya tadi, kelihatannya si ibu penjual itu tidak akan beranjak sebelum Juna berpindah tempat duduk.
Juna mengusap tengkuknya, wajahnya tampak gelisah, lalu ia menatap ke arah Viona yang sepertinya sama-sama kebingungan karena terjebak dalam situasi yang membuat mereka canggung satu sama lain.
"Kok masih di situ aja, Dek," seru si ibu, membuat Juna semakin serba salah karena bingung harus bersikap bagaimana.
Melihat sikap si ibu penjual soto yang sepertinya tidak berniat untuk meninggalkan mereka, Juna bangkit dan berpindah mendudukkan dirinya tepat di samping Viona karena tidak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi yang tidak terduga ini.
Tempat duduknya berupa kursi dari kayu yang dibuat memanjang, bisa memuat untuk diduduki oleh dua orang dewasa, sehingga ketika duduk berdekatan otomatis tubuh mereka saling berdempetan.
"Nah kalau gini kan manis, duh ... kalian cocok sekali sih, istrinya sangat cantik dan suaminya ganteng." Si ibu penjual soto kegirangan melihat dua orang di hadapannya. "Semoga selalu harmonis dan langgeng ya," ujarnya, kemudian berlalu meninggalkan dua orang yang tengah berada dalam keadaan membingungkan.
Setelah si ibu itu agak menjauh, Juna sedikit menggeser tempat duduknya agar tidak terlalu berdempetan, ia tidak ingin membuat Viona merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka yang terpaksa dalam situasi yang mendesak.
"Vi, sorry." Juna menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Viona menoleh dan malah terkikik geli, ia sangat paham dengan maksud dari permintaan maaf lelaki itu.
"Justru aku yang minta maaf, karena kamu jadi terjebak dalam situasi yang membuatmu disalah pahami. Tapi itulah risikonya saat kamu mengajak pergi wanita hamil sepertiku." Viona menjulurkan lidahnya mengejek.
"Sebenarnya aku tidak keberatan disalah pahami seperti ini, entah kenapa aku malah menikmatinya, apakah mungkin otakku bermasalah?" tanyanya.
Viona tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Juna. "Mungkin bukan cuma otakmu tapi hatimu juga sepertinya ikut bermasalah, kurasa kamu kesepian, segeralah mencari pendamping, supaya hatimu tidak senyap lagi seperti kuburan."
"Vi, kamu itu kayak dukun, atau jangan-jangan kamu punya profesi lain selain desainer?" Arjuna memicingkan matanya pada Viona.
"Ih, enak saja, kau kira aku ini paranormal hah?" sahutnya galak.
Arjuna kembali terkekeh. "Vi, apa setelah menikah hati kita benar-benar tidak kesepian lagi? Apakah kamu juga merasakan itu?"
Viona terdiam, tangannya yang tengah mengaduk soto dengan sambal yang di tuang ke mangkuknya juga ikut berhenti. Dia memang telah menikah, tetapi apakah benar hatinya tidak kesepian lagi?
Sebaliknya, justru setelah menikah dengan Bima, hati Viona lebih sering meringis dan sunyi dibandingkan dengan saat ia masih melajang. Dulu ia memang belum pernah memiliki seseorang yang spesial, tetapi hatinya selalu terasa hangat penuh canda tawa, bebas tanpa beban, tidak seperti sekarang yang terasa begitu berat dan penuh noda.
"Syukurlah kalau kamu merasa begitu, aku ikut bahagia," ujar Juna sambil tersenyum getir.
*****
Seorang wanita cantik berperawakan tinggi berpenampilan glamor yang dibalut pakaian brand ternama, dilengkapi sepatu hak tinggi beserta kaca mata hitam yang bertengger begitu pas di wajahnya dan ditambah sebuah tas tangan mahal yang melengkapi tampilannya, melenggang melangkahkan kaki masuk ke lobi kantor milik Bima yang langsung disambut resepsionis.
"Selamat siang, Nyonya, ada yang bisa kami bantu?" tanya si resepsionis ramah dan sopan.
"Saya mau bertemu Pak Bima, kami sudah mempunyai janji sebelumnya. Katakan saja pada beliau Reva sudah datang," sahutnya elegan dengan nada penuh percaya diri yang kental.
"Tunggu sebentar, Nyonya." Si resepsionis meraih gagang telepon dan menghubungi sekertaris Bima untuk memastikan apakah benar wanita yang bernama Reva ini sudah mempunyai janji dengan atasannya. Tampak si resepsionis mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan dengan saksama suara di seberang sana, kemudian menaruh kembali gagang telepon ke tempatnya.
"Nyonya, silahkan naik ke lantai lima, anda bisa menggunakan lift khusus untuk para petinggi perusahaan yang terhubung langsung ke lantai ruangan Pak Bima berada. Liftnya terletak sebelah kanan ujung lorong ini dan di dekat tombolnya ada tulisan khusus eksekutif," jelas si resepsionis itu.
"Baiklah, terima kasih." Wanita itu segera berbalik badan dan menuju ke lift khusus yang dimaksud.
Si resepsionis itu saling berbisik dengan temannya karena baru kali ini mereka melihat wanita itu datang ke kantor, bahkan Adrian sang sekertaris pribadi atasannya itu berpesan agar wanita yang bernama Reva menggunakan lift khusus, setahu mereka hanya para petinggi perusahaan yang boleh menggunakannya, sepertinya wanita itu sangat spesial, atau mungkin salah satu investor baru perusahaan pikir mereka.
Reva sudah sampai di depan pintu lift yang dimaksud, ia melihat seorang satpam yang berjaga di sana. Si satpam segera berdiri dan memberi hormat, mungkin karena ini lift khusus maka dari itu diletakkan penjagaan khusus juga di sana, satpam itu membukakan pintu lift dan mempersilakannya masuk, sepertinya si satpam sudah diberi tahu juga tentang kedatangannya.
Reva tersenyum ramah dan segera beranjak masuk ke dalam lift, jemarinya menekan tombol angka lima dan benda kotak berlapis besi itu membawanya naik ke tempat yang dituju. Saat tulisan yang terletak di atas pintu sudah berubah ke angka lima benda persegi itu otomatis berhenti dan pintunya terbuka.
Reva keluar dari benda kotak yang membawanya tadi. Ia membuka kacamata hitamnya, mengedarkan pandangan dan matanya melihat sebuah ruangan dengan pintu besar bertuliskan ruang direktur. Di dekat pintu itu nampak satu set meja kerja dengan papan nama di mejanya dengan tulisan sekertaris yang tertera di sana, tampak duduk seorang pria muda di belakang meja tersebut yang tak lain adalah sekertaris Bima yaitu Adrian.
Reva segera menghampiri meja itu. "Pak Bima ada? Saya Reva, saya sudah sudah mempunyai janji bertemu dengan beliau," tuturnya pada Adrian.
Adrian segera berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat, "Pak Bima sudah menunggu kedatangan Anda. Silahkan langsung masuk saja, Nyonya," sahutnya dengan tangan yang menunjuk ke pintu besar itu dengan sopan.
Reva mengangguk dan tanpa basa-basi mendorong pintu besar tersebut lalu segera menutup pintu itu kembali setelah ia masuk kedalamnya. Bima yang sedang duduk di kursi kebesarannya secara refleks melihat ke arah pintu ketika mendengar suara deritan pintu yang terbuka, bibirnya tersenyum merekah dan matanya berbinar.
"Sejak tadi aku sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu." Bima bangkit dari kursinya dan menyambut hangat kedatangan Reva.
"Sesekali cobalah bersabar, Tuan Bima," sahut Reva dengan tawa kecilnya.