
“Tolong carikan semua info tentang Viona secara detail sekarang juga!” titah Marina pada sang asisten tepat setelah dirinya melempar diri masuk ke dalam mobil di basemen.
“Baik Nyonya.” Sang asisten mengangguk patuh. “Nyonya, apakah kita akan langsung kembali hari ini atau mau menginap dulu di Bandung dan pulang esok hari?”
“Pesankan kamar di hotel terbaik, aku akan berada di sini selama beberapa hari ke depan untuk mengawasi putraku yang keras kepala itu.”
*****
“Pandu, kira-kira kapan bos-mu kembali dari luar kota? Ada hal penting yang harus kubicarakan.”
Viona sedang berada di perusahaannya Juna, dia datang untuk mengurusi masalah kain juga hendak bertanya tentang jadwal Juna yang beberapa hari terakhir cukup sulit dihubungi, padahal Viona ingin secepatnya menyelesaikan masalah pembatalan pertunangan.
“S-saya juga ti-tidak tahu kapan Pak Juna pulang ke Bandung, jadwalnya masih sangatlah padat. A-ada yang bisa saya bantu mungkin?” tawar Pandu yang malah tergeragap menjawab pertanyaan Viona.
Terhadap orang lain, Pandu mungkin bisa berbohong mulus tanpa cela, tetapi saat yang bertanya adalah Viona, entah kenapa Pandu gugup setengah mati. Dia seperti terkena sindrom nervous kala harus berhadapan dengan wanita beraura bersinar secantik Viona.
Viona menghela napas panjang, terdengar desah putus asa di dalamnya. “Biar nanti kusampaikan sendiri, ini hal yang sangat penting. Maksih Pandu, atas informasinya.”
“I-iya, sama-sama.”
****"
Viona turun dari mobilnya dan berjalan gontai memasuki butik. Ia tampak lesu tak bergairah, bahkan hal berbeda di ruangannya pun belum disadarinya.
Mata indahnya membuka, terlonjak kaget karena sebuah lengan kekar mendekapnya dari belakang. Ia menengadah, tersenyum senang kala melihat wajah pemilik lengan yang sedang memerangkapnya. Pandangannya juga menyapu seisi ruangan, puluhan buket mawar putih berjejer rapi menghiasi ruang kerjanya.
“Sudah makan siang?” tanya Bima di atas kepala Viona.
“Belum, aku tak berselera.” Viona bersandar manja ingin menyerap kenyamanan dari lelaki yang memeluknya. “Kapan Mas datang?”
“Lima belas menit yang lalu. Lantas, sesiangan ini pergi ke mana saja? Kukira tadi kamu pergi makan siang di luar karena saat aku sampai kamu tak ada di tempat, padahal aku ingin mengajakmu kencan," keluhnya sambil mengeratkan pelukannya.
“Aku datang ke perusahaan Juna. Ada sedikit masalah tentang pemesanan kain juga tadinya ingin bertemu dengannya. Tapi sampai saat ini Juna masih belum pulang, aku tak ingin menunda lagi untuk menyudahi masalah ini agar satu persatu bisa terselesaikan secepatnya.”
“Haruskah kita menyusulnya? Kemana dia pergi?” Bima sedikit memiringkan kepalanya hingga hidung mancungnya menyentuh pipi Viona.
Viona terkekeh ringan. “Jika menyusulnya, kita lebih terlihat seperti penagih utang! Kita tunggu sampai dia kembali, biasanya Juna tak pernah terlalu lama bepergian meninggalkan perusahaannya.”
“Semoga dia segera kembali dan mengerti akan keputusanmu. Jujur saja, aku pun kadang tak sampai hati jika terlalu keras padanya, mengingat dia sudah baik padamu dan juga Nara selama aku tak ada. Dari lubuk hatiku aku berterimakasih padanya, tapi jika menyangkut tentang memilikimu aku akan selalu egois hingga aku mati. Kamu dan Nara adalah sumber detak jantungku, tanpa kalian aku laksana tubuh tanpa jiwa.” Bima menyerukkan wajahnya di leher Viona, hingga embusan napasnya menyapu permukaan kulit Viona di sana, begitu hangat dan nyaman.
“Tetaplah begitu, egoislah untuk memilikiku kembali.” Viona mengangsurkan tangannya membelai sayang kepala Bima.
Di suasana yang begitu romantis dan syahdu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang berasal dari perut Viona.
Bima menegakkan tubuh sambil tertawa kecil. “Ayo, kita makan siang dulu, lambungmu tengah bedemo, harus segera di tertibkan.”