
Kau kan slalu tersimpan di hatiku
Meski ragamu tak dapat kumiliki
Jiwaku kan slalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku
Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk bersamanya
Ku mencintainya
Sungguh mencintainya
Rasa ini sungguh tak wajar
Namun kuingin tetap bersama dia
Untuk selamanya ....
Bait demi bait lirik lagu "Cinta Terlarang" yang diputar dari radio tape menggema berulang di dalam mobil mewah berwarna merah itu. Saat ini Juna sedang dalam perjalanan pulang, ia menginjak remnya pelan untuk menghentikan laju mobilnya saat melihat lampu jalan berubah menjadi warna merah.
Juna tampak termenung, ia berpamitan terlebih dulu di tengah-tengah acara makan dengan dalih ada hal mendesak yang harus dilakukannya, padahal alasan sebenarnya adalah karena ia tak ingin berlama-lama menyaksikan kebersamaan antara Viona dan suaminya.
Juna segera menginjak pedal gas dan membelokkan mobilnya menuju ke arah daerah pantai, dia ingin pergi menenangkan diri barang sejenak, berharap suasana pantai dan irama deburan ombak mampu sedikit meringankan sesuatu yang menghimpit dadanya hingga hampir membuatnya merasa sesak.
Dua jam perjalanan akhirnya Juna tiba di tempat tujuan, hari sudah beranjak sore saat Juna tiba, nampak semburat-semburat warna keemasan mulai berbaur di cakrawala, seumpama alunan melodi yang telah bersiap mengiringi sang mentari untuk beristirahat ke peraduannya.
Pria itu berjalan dengan kaki telanjangnya dan duduk di tepi pantai, tangannya menggenggam kopi kalengan yang dibelinya di minimarket pom bensin tadi saat ia mengisi bahan bakar kereta besinya.
Ia merogoh saku celananya, mengambil sebungkus rokok yang juga dibelinya. Juna bukan perokok, tapi semenjak mengetahui bahwa sang dambaan hati telah menjadi milik orang lain pria itu mulai mencobanya untuk sekedar menyamarkan rasa cinta terlarangnya yang kian meledak-ledak, berharap sebungkus rokok dan secangkir kopi mampu mengalihkan sedikit rasa itu agar tidak terlalu menyiksa.
Angin laut menerpa menyapa wajah tampannya, matanya mengawasi ombak yang bergulung-gulung saling berkejaran dengan riang dan mesra saling memeluk satu sama lain, seolah mengejeknya yang hanya duduk sendirian dengan tampang menyedihkan. Sungguh ironi batinnya, panorama pantai yang indah dengan cuaca langit cerah, berpadu kontras dengan wajahnya yang sendu dan suram melebihi mendung kelabunya awan hujan.
Setiap desahan napasnya terdengar begitu berat, seolah dadanya ditimpa batu besar tak kasat mata, suasana pantai yang begitu syahdu malah membuatnya makin merindukan Viona.
Ia menengadah menatap langit, terbayang wajah cantik bermata sayu dengan senyuman terindah yang pernah dilihatnya. Juna tersenyum menipiskan bibirnya, di saat ia mencoba untuk sedikit saja membuang bayang-bayang Viona dari benaknya ternyata sama sekali tidak berhasil.
Sungguh rasa yang menyiksa, mencintai tanpa memiliki itu laksana ingin melindungi sekuntum bunga namun malah berakhir tertancap durinya.
Juna sudah bertekad untuk berusaha lebih keras melupakan rasa cintanya pada Viona. Ada pepatah lama yang mengatakan, jika patah hati karena seorang wanita maka obatnya adalah wanita juga. Dia berpikir, Mungkin mulai saat ini ia harus mencoba membuka hatinya untuk bunga-bunga lain di luar sana yang masih menunggu sang kumbang mendatanginya.
*****
Terimakasih yang tak terhingga pada semua my beloved readersku tersayang yang masih tetap setia mengikuti cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dukungan kalian jadi penyemangat buatku untuk terus menulis.
love you all 💕😘