
Bima melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, suara mesin mobil menderu membelah keheningan malam, jalanan sudah mulai sepi dari kendaraan yang berlalu lalang.
Walaupun Bima menyukai obat-obatan terlarang, tetapi selama ini dia tidak pernah sampai meniduri wanita lain selain istrinya. Baginya Viona adalah yang pertama dan satu-satunya, kecerobohannya kali ini membuat dia benar-benar merasa menyesal karena kehilangan kendali atas dirinya sendiri akibat mencicipi barang yang paling disukainya itu.
Dia bahkan memukul setir mobilnya berulang kali, mengusap wajahnya kasar dan menyugar rambutnya kesal.
Flashback off
Saat di kantor siang tadi, setelah selesai mencicipi ia kembali lupa diri, entah kenapa efek dari obat jenis baru ini mampu mengambil alih dirinya dan membuatnya sulit untuk mengendalikan tubuh dan pikirannya sendiri. Bima sudah lama mengkonsumsi obat-obatan semacam itu, tetapi baru kali ini efeknya tidak seperti biasanya.
Beruntung kejadian sewaktu di apartemen tidak terulang lagi di kantor, kali ini Bima mati-matian berusaha mengontrol dirinya walaupun sebenarnya ia hampir saja menerjang Reva yang dengan sengaja menggodanya tanpa henti.
Namun, Bima tidak bisa serta merta mendorong Reva untuk menjauh darinya, karena hanya Reva yang terpercaya di bidang ini untuk menyediakan dan membawakan obat-obatan itu dengan aman hingga sampai ke tangannya.
*****
Suara alarm dari ponsel di atas nakas dekat tempat tidur membangunkan Viona dari tidurnya. Bulu mata indahnya tampak bergerak-gerak, netranya perlahan terbuka, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Bima yang masih tertidur pulas dengan posisi memeluknya.
Seulas senyum terukir di wajah Viona, lalu tangannya berusaha menggapai-gapai ponsel di atas nakas dan mematikan alarm yang berbunyi dengan nyaringnya nyaris memekakkan telinga.
Dilihatnya jam di dinding. Jarum jam di sana menunjukkan pukul empat pagi. Dengan hati-hati ia melepaskan dekapan Bima, Viona turun dari tempat tidur dan menyelimuti suaminya kembali sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Suara gemericik air dari kamar mandi mengusik tidur lelap Bima, ia meraba-raba tempat tidur di sebelahnya lalu membuka matanya. Dilihatnya ternyata Viona sudah tidak ada di sana, Bima mendudukkan diri dan bersandar ke kepala ranjang.
Bima menguap dan mengucek matanya, lalu teringat bahwa kemarin ia menaruh barang yang dibelinya dari Reva ke dalam saku celana kerjanya. Dengan terburu-buru ia turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju keranjang cucian yang ada di sudut dekat pintu kamar mandi.
Bima mengacak-acak isi keranjang tersebut dengan cepat takut-takut Viona segera menyelesaikan kegiatan mandinya dan memergokinya, membuat semua pakaian kotor di dalamnya berhamburan dan berserakan di lantai. Saat melihat celana kerja yang dipakainya kemarin, ia langsung menyambar dan merogoh sakunya, bernapas lega karena barang itu masih berada di sana. Bima segera menyembunyikannya di atas lemari pakaian yang cukup tinggi sehingga Viona tidak mungkin bisa menjangkaunya.
Bima sangat takut jika sampai Viona tahu bahwa dirinya mengkonsumsi obat-obatan terlarang, kalau sampai Viona tahu dan menyampaikan kabar ini pada Annisa dan Malik, maka Bima harus bersiap-siap mengecewakan lagi kedua orang tuanya itu. Juga ia takut jika Viona meninggalkannya di saat kini benih-benih cinta mulai bertumbuh di hatinya.
*****
Aura kehangatan menguar dan menyeruak di dalam rumah itu. Viona kembali pada kebiasaannya yang dulu, menyiapkan segala kebutuhan Bima mulai dari pakaian hingga sepatunya yang telah disemirnya selepas shalat Subuh tadi.
Rona bahagia tak henti-hentinya menghiasi wajah cantiknya, sementara tangannya sibuk memilah-milah dasi yang sesuai agar cocok dipadu padankan dengan pakaian yang akan dikenakan suaminya hari ini.
Sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang, membuatnya sedikit tersentak kaget. Bima menaruh dagunya di pundak Viona dan menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut istrinya itu, dihirupnya dalam-dalam dengan mata terpejam. Tangan Viona bergerak menyentuh kepala Bima dan mengusapnya lembut.
Viona terkekeh pelan, sejak semalam Bima makin bersikap manis dan romantis terhadapnya, membuat hatinya membuncah bahagia. Seumpama ribuan kupu-kupu yang berterbangan kesana-kemari di dadanya, menciptakan rasa yang terjalin indah dan membawanya membumbung tinggi hingga ke angkasa.
"Mas, lebih suka dasi yang mana? Aku takut pilihanku tidak sesuai dengan seleramu," cicit Viona.
"Yang mana saja, apapun yang dipilihkan istriku aku menyukainya," sahut Bima.
Setelah mendengar jawaban Bima, Viona masih merasa tidak percaya. Biasanya Bima selalu protes dengan seleranya dalam memilihkan pakaian, tetapi kini yang didengarnya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Viona mengambil dasi berwarna biru navy bermotif garis diagonal senada agar sesuai dengan kemeja yang dipilihkannya untuk Bima hari ini.
"Bagaimana kalau yang ini," usul Viona.
Bima mengangguk. "Aku suka," sahutnya, kemudian mengecup ringan pipi Viona sekilas.
"Bantu aku berpakaian," pinta Bima dengan nada lembut.
Viona mengurai lengan Bima yang memeluknya dan membalikkan tubuh berhadapan dengan suaminya itu, senyumnya merekah indah bak bunga yang baru saja mekar di pagi hari. "Sesuai permintaanmu, suamiku."
Ini adalah pertama kalinya Bima memintanya, tentu saja dengan senang hati Viona membantunya berpakaian, dengan telaten ia memastikan suaminya berpakaian rapi agar penampilannya sempurna. Saat hendak memasangkan dasi, Viona agak kesulitan karena tinggi badan Bima yang berselisih jauh dengannya.
"Tunggu sebentar." Bima mengambil kursi kecil di atas lemari, sebuah kursi yang terbuat dari kayu dengan bantalan empuk di atasnya, ia meletakkannya tepat di hadapan Viona.
"Naiklah, agar tinggimu sejajar denganku." Kedua tangan Bima terulur pada Viona.
Viona melangkah dengan hati-hati dan naik ke kursi itu dengan dasi di tangannya. Bima segera memeluk pinggang Viona begitu istrinya itu sudah naik ke atas kursi, membuat tinggi mereka sejajar dan mata mereka saling beradu.
Viona tersipu, walaupun mereka sudah sering lebih intim dari posisi ini tapi tetap saja membuatnya merona. Ia berdehem untuk mengalihkan kegugupannya dan langsung menundukkan pandangan, tangannya dengan cepat dan cekatan memasangkan dasi yang tadi dipegangnya.
Bima mengamati wajah Viona yang sedang serius menyimpulkan dasi, ia baru menyadari bahwa ternyata istrinya itu memanglah sangat cantik. Dilihat dari dekat dengan cahaya mentari pagi yang menerangi kamar tersebut makin menambah kecantikan alami yang terpancar dari Viona.
Rambut hitam terurai, alis terbentuk sempurna tanpa perlu diukir lagi dengan pensil alis, hidung bangir, mata sayu dengan bulu matanya yang panjang hingga kadang tampak berbayang di bagian pipi bawah matanya saat Viona menundukkan pandangan. Bibirnya ranum dan juga sifatnya yang penyabar serta lembut makin menambah aura kecantikan yang terpancar dari seorang Viona.
Bagi Bima selama ini hanya obat-obatan terlarang yang lebih menarik di matanya lebih dari apapun, tetapi sekarang si wanita bertubuh mungil ini mulai mampu memporak-porandakan egonya dan sedikit demi sedikit mengubah pandangannya.
"Sudah selesai." Viona menepuk-nepuk sisi baju Bima dan terlihat begitu puas dengan hasil karya tangannya, Viona hendak turun dari kursinya namun Bima menahannya.
"Terima kasih," ucap Bima yang disusul kecupan di kening Viona.