Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Pengakuan



Viona mengembuskan napasnya pendek-pendek, berusaha mengontrol emosinya sembari mengatur kalimat yang hendak tersembur sejak tadi.


“Ini tentangmu Mas! Karena tadi aku bertemu polisi yang sedang mencari buronan kabur, mereka mencari buronan yang terlibat kasus narkoba dengan membawa selembar foto dan nama buronan itu adalah Bima Prasetyo. Jelaskan padaku! apakah semua itu benar? tentang dakwaan bahwa Mas adalah seorang pecandu narkoba dan sekarang menjadi buronan polisi?” viona melemparkan tatapan tajam dengan bibir gemetar.


Bima terkesiap dengan mata membeliak dipenuhi keterkejutan. Lidahnya kelu tak mampu berkata-kata. Hal yang paling ditakutinya akhirnya terkuak ke permukaaan sebelum ia sempat menghentikannya. Jika saja dia berhenti lebih awal memuja barang haram tersebut, mungkin hal semacam ini takkan terjadi.


“Jawab aku Mas! Jangan diam saja.” Diamnya Bima justru semakin membuat Viona terperosok dalam kubangan kepedihan dan kekecewaan, seolah suaminya yang tak kunjung memberi penjelasan mengiyakan bahwa semuanya memang benar dan nyata.


“Jadi semua itu benar? semua tuduhan itu benar?” teriak Viona dengan suara meninggi.


Dengan kaku dan ragu Bima akhirnya mengangguk, mengangkat kepalanya dan pandangannya bersirobok dengan Viona. Tatapan istrinya tampak terpukul berlumur kekecewaan sarat akan kepedihan, barulah saat ini penyesalan bertunas di dasar jiwanya yang bersemi sangat terlambat.


“Sejak kapan… sejak kapan Mas melahap barang haram itu? Mas tahu kan bahwa itu melanggar norma agama juga hukum!” Viona yang biasanya takut-takut mengutarakan pendapatnya kini berubah seratus delapan puluh derajat. Jiwanya yang biasanya seperti air tenang kini mengamuk dilanda badai hebat yang mengguncang seluruh dirinya.


“Sudah sejak lama,” desah Bima berat sembari menunduk.


Tubuh Viona merosot ke lantai, diiringi tangisannya yang pecah mengalun pilu memenuhi seluruh ruangan. Ia bahkan merasa tak mengenal siapa pria yang menikahinya, tak pernah terlintas bahwa suami juga ayah dari anaknya telah menyentuh barang semacam itu sejak lama.


“Anakku yang malang… anakku yang malang,” racau Viona sembari memukul-mukul dadanya yang sesak diiringi jutaan air mata berderai.


Hati Bima mencelos, apa yang dikatakan VIona sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya, perbuatan menyimpangnya ternyata bisa berimbas banyak kepada orang-orang di sekitarnya terutama istri dan anaknya. Dia pun merasa tak rela jika buah hatinya diolok-olok orang, tetapi nasi sudah menjadi bubur, andai saja waktu bisa diputar kembali maka ia pasti akan memaksa dirinya untuk tak menyentuh hal terlarang itu lagi.


Bima bangkit dari duduknya, bersimpuh bertumpu pada lututnya didekat Viona. “Maaf… maafkan aku Vi, membuatmu terseret dalam pusaran ini. Tapi aku sangat mencintai kalian dan tak ingin kehilangan anak dan istriku. Aku membutuhkanmu di sisiku.” Bima berkata lirih dengan tatapan sendu.


“Maafmu sekarang tidak bisa mengubah apapun. Kalau memang benar mencintai kami, harusnya sudah sejak lama Mas menjauhi barang haram itu!” Jeritnya kembali seraya terisak.


“Maafkan aku sayang, maafkan aku.” Bima hendak merengkuh VIona, tetapi istrinya itu berjengit menjauh.


“Jangan sentuh aku! Aku bahkan tak mengenal siapa suamiku sebenarnya.” Viona bangkit, berlari ke kamar di mana Nara tertidur dan membanting pintu dengan kencang. Mengunci diri kemudian menangis menumpahkan segala rasa sesak yang berkecamuk di dadanya sambil memeluk Nara.


“Sekarang kita harus bagaimana, Nak?" lirih Viona di sela-sela isak tangisnya.