Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Ingin berhenti



Siang ini adalah jadwal Reva mengantarkan pesanan Bima ke kantornya, tetapi semenjak beberapa bulan yang lalu Bima sudah tidak ingin ditemani saat memakai barang haram tersebut, ia akan meminta Reva untuk segera pulang setelah pesanannya sampai.


Bima berusaha menahan gejolak di dalam dirinya. Ia kembali gelisah, tubuhnya yang sudah kecanduan mulai meronta meminta jatah obatnya kembali. Bima menunggu dengan gusar, bahkan melemparkan pena mahal yang sedang dipegangnya dan menjambak rambutnya frustasi.


Tok ... tok ... tok.


Adrian mengetuk pintu ruangan Bima dan memberitahukan bahwa Reva sudah tiba. Beberapa waktu terakhir ini hampir seminggu sekali Reva datang ke kantor, otomatis Adrian menyimpulkan bahwa Reva adalah tamu spesial bosnya walaupun apa yang ada di benaknya berbanding terbalik dengan kenyataan sebenarnya.


Adrian hanya berpikir bahwa Reva adalah simpanan Direktur. Melihat dari penampilan Reva yang cantik nan aduhai Adrian sangat yakin bahwa dugaannya benar adanya.


Bima segera mengunci pintu dan mempersilakan Reva untuk duduk di sofa. Reva duduk menyilangkan kakinya dengan sengaja sehingga rok pendeknya yang ketat sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulusnya.


Bima yang duduk berhadapan dengan Reva menatap wanita itu penuh antisipasi dan hanya memutar bola matanya malas karena yang diinginkannya sekarang adalah barang pesanannya bukan si pembawa barang.


"Mana pesananku?" pinta Bima dengan wajah datar dan dinginnya, tidak seperti biasanya yang selalu menyambut Reva dengan antusias.


"Hei, Tuan Bima yang terhormat ada apa denganmu? Aku ini baru saja sampai jadi bersantailah dulu, setidaknya berikan aku yang kehausan ini segelas minuman. Apakah kamu lupa bahwa aku mengambil resiko tinggi dengan berangkat kesini sendiri? Semuanya kulakukan hanya demi mengantar barang pesananmu dengan aman agar tidak ada yang curiga padaku dan juga padamu," jawab Reva yang kemungkinan membuka tasnya, mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.


"Aku rasa bayaran yang kuberikan sudah lebih dari setimpal dengan risiko yang kamu ambil. Saat ini aku sedang sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk berbasa basi. Jadi cepatlah, mana pesananku!" Suara Bima naik satu oktaf dengan tatapan dingin yang menusuk pada Reva.


Bukan tanpa alasan Bima jengkel pada Reva, itu karena semakin ke sini Reva semakin memasang harga yang fantastis untuk barang yang diinginkannya, dan juga ia mulai merasa Reva mempersulitnya untuk mendapatkan pesanannya itu.


Bima pernah menghubungi orang lain yang juga berprofesi sama seperti Reva dengan maksud agar bisa menghindar dari cengkraman Reva yang semakin mengetatkan ikatannya pada Bima. Namun ternyata, orang-orang itu justru berada di bawah kendali Reva sehingga tidak ada satu pun yang menyanggupi akan permintaan Bima. Sudah dipastikan jika Reva memboikot maka mereka tidak akan mendapatkan barang secuil pun untuk dijual.


"ini adalah barang yang kamu inginkan. Aku juga ingin memberikan informasi penting padamu, jangan mencoba untuk memesan barang spesial kesukaanmu itu pada orang lain karena mereka semua berada di bawah kendaliku. Perlu diketahui, barang yang kamu pesan adalah jenis terbaik, khusus hanya aku yang memegang dan tidak pernah kubiarkan penjual lain memasarkannya mengingat harganya yang merogoh kocek sangat dalam." Reva menyerahkan sebuah amplop yang sudah pasti isinya adalah barang haram tersebut.


Bima mengambilnya dengan cepat dan menyimpannya kedalam saku celananya.


Reva mengernyitkan keningnya, ia tampak tidak suka dengan kata-kata yang dilontarkan Bima barusan.


"Apa maksudmu? Kenapa kamu ingin mengurangi konsumsimu?" tanya Reva penuh selidik.


"Aku ingin mencoba berhenti, aku tidak ingin terus-menerus di perbudak oleh barang ini," sahut Bima yang menyandarkan dirinya di sofa dengan mata terpejam dan jemarinya memijat pangkal hidungnya.


"Ta-tapi kenapa begitu mendadak, apa barang yang kubawa tidak sesuai seleramu?" Reva mengawasi raut wajah Bima.


Bima mengembuskan napasnya kasar. "Bukan begitu. Aku memang mempunyai niatan untuk berhenti, kuharap kamu mengerti," pungkasnya ingin segera menutup percakapan. Bima lalu mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Reva segera keluar dari ruangannya.


Reva melangkah meninggalkan ruangan itu dan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, jika Bima berniat untuk kembali berhenti mengkonsumsi obat terlarang tersebut maka ia akan kehilangan tambang emas terbesarnya, lalu apa kabar dengan kehidupan mewahnya? Karena selama ini Bima adalah satu-satunya konsumen yang paling loyal dalam masalah uang.


Reva melangkahkan kakinya tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, bahkan Reva tidak menghiraukan Adrian yang memberi hormat saat ia keluar dari ruangan Bima. Namun, di tengah-tengah rasa marahnya tiba-tiba Reva menipiskan bibir. Sebuah seringai jahat terbit di wajahnya disertai sorot mata mengerikan, ia masih memiliki kartu as untuk memeras uang Bima, jika Bima tiba-tiba memutuskan berhenti dari ketergantungannya.


File video Bima yang tengah memakai barang laknat itu dan juga adegan mesumnya bersama temannya sewaktu di apartemen hari itu masih tersimpan rapi di tangannya. Bima tidak menyadari bahwa hari itu Reva dengan sengaja merekam tindak-tanduknya untuk berjaga-jaga jika hal yang ditakutkannya ini terjadi, dengan begitu video itu bisa dijadikan sebagai alat untuk memeras uang Bima tanpa perlu ditukar dengan barang laknat tersebut.


Sepeninggal Reva, Bima mencicipinya sambil menyendiri, setidaknya jika ia lepas kendali maka kejadian seperti waktu di apartemen Reva tidak akan terulang lagi, meskipun Bima seorang pecandu obat-obatan terlarang tetapi ia tidak pernah ingin meniduri wanita lain selain istrinya. Dia selalu menjaga dirinya dari hal itu semenjak masih melajang, karena **** bebas hanya akan mengantarkannya semakin terperosok ke dalam jurang yang makin dalam.


Sebelum memakainya Bima akan akan berpesan pada Adrian sekertarisnya agar tidak ada yang berani menggangu selama beberapa jam ke depan. Ia akan mengunci pintu ruangannya lalu masuk ke ruangan khusus yang terdapat di dalamnya agar leluasa untuk menikmati obat laknat itu.


Bima nampak duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di dinding ruangan khusus itu. Akhir-akhir ini setiap kali selesai mencicipi selalu terbersit rasa penyesalan yang mengganjal di hatinya, rasa itu semakin hari semakin bertambah besar dan juga menusuk hingga ke dasar kalbunya, bercokol di relung sanubari terdalamnya menciptakan rasa nyeri yang tak pernah dirasakan sebelumnya.


Bima sadar betul bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Ia masih tetap mengkonsumsinya hanya untuk meredakan reaksi tubuhnya yang sudah kecanduan dan benar-benar sulit dikendalikan, bahkan Bima tidak bisa berkonsentrasi dengan baik dalam menyelesaikan pekerjaannya jika reaksi itu kembali menderanya, membuatnya terkadang tak mampu mengendalikan emosinya yang tiba-tiba meledak meluap-luap tanpa alasan di mana saja.