Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Sibuk



Viona bergegas ke butik setelah Sita meneleponnya, hingga melupakan niatannya membuat janji bertemu dengan Juna lantaran masalah penting mendesak di butik yang haru segera di tanganinya. Memarkirkan mobilnya dengan cepat, Viona segera turun dan setengah berlari masuk ke butik utamanya.


“Sudah kamu siapkan semua berkasnya?” tanya Viona pada Sita dengan napas tersengal karena berusaha datang secepat kilat.


“Sudah Bu, hanya saja influencer juga penyelenggara yang mendukung acara peluncuran produk kali ini mengubah jam pertemuan menjadi dua jam lebih cepat, karena jadwal mereka hari ini sangat padat. Kita beruntung karena mereka memilih VN Fashion menjadi klien prioritas yang pertama ditemui.” Sita menjelaskan secara terperinci sambil mengimbangi langkah Viona memasuki ruangannya.


“Jangan lupa juga bawa contoh produk yang akan dipamerkan. Selain melaui acara peluncuran secara langsung, kita juga membutuhkan banyak media sosial sebagai sarana promosi secara berkala, mencari pasar yang tepat sasaran dengan produk kita, target kali ini berfokus untuk kalangan menengah ke atas. Aku ingin menyajikan produk terbaik eksklusif dengan harga yang terjangkau bagi semua kalangan."


“Semuanya sudah disiapkan penyelenggara, jadi kita tinggal memercayakannya, kita hanya harus berdiskusi dengan mereka ingin seperti apa dan bagaimana produk dipromosikan. Jadwal pertemuan sekitar empat puluh lima menit lagi. Mereka meminta bertemu di Cafe. Gourmet, seperti biasanya.”


“Oke, bereskan semua yang akan dibawa dalam sepuluh menit, setelahnya kita berangkat,” titah Viona sembari serius mengambil setumpuk kertas.


“Baik Bu.”


*****


“Nenek….”


Suara Nara membelah keheningan rumah Rima dan Abdul, bocah itu berlarian masih dengan menggendong tas nya masuk ke dalam rumah diikuti Bik Yati di belakangnya.


“Eh cucu nenek, tuan putriku yang cantik sudah datang.” Rima membuka tangannya dan Nara langsung melompat ke arah sang nenek.


“Tumben datang ke sini nggak ngabarin dulu?”


“Nara pengen ketemu pumpkin, ikan punya Nara yang ada di kolamnya kakek, jadinya tadi minta Bik Yati sama pak sopir anterin ke sini ,” celoteh bocah itu dengan lucunya.


“Saya tadi sudah menelepon Bundanya, dan menyampaikan kalau Nara ingin main ke sini sepulang sekolah.” Bik Yati menimpali menambahkan.


Nara beringsut turun dari gendongan Rima, sudah tak sabar ingin melihat ikan koi yang dinamainya pumpkin itu dan salah seorang pelayan mendampingi Nara ke kolam taman belakang rumah.


Rima menangkap raut tak biasa dari wajah Bik Yati, tampak sangat serius tak seperi biasa.


“Ayo, kita bicara di atas.


*****


Seharian ini Viona benar-benar disibukkan dengan masalah butik, belum lagi beberapa pelanggan VIP datang ke tempatnya dan ingin langsung dilayani olehnya. Salah satunya adalah ibu wali kota yang baru saja undur diri setelah memborong setumpuk pakaian dari butiknya.


“Akh… punggungku pegal rasanya.” Viona menyandarkan diri di sofa empuk yang terdapat di dalam ruangannya.


“Bu.” Sita masuk ke dalam ruangan tergopoh-gopoh nyaris berjingkrak.


“Ya, ada apa? Kenapa kamu heboh banget sih?” Viona mengernyit samar.


“Ini Bu, ini… barusan saya dapat telepon dari Pak Yoga, Pemilik situs salah satu online shop ternama itu. Sebulan yang lalu kita sempat mengajukan kerja sama, barusan beliau mengatakan tertarik dengan produk kita dan ingin bertemu Anda sore ini di Restoran Purnawarman.” Mata Sita berbinar senang dan itu menular pada Viona.


“Yang bener kamu?” Viona langsung menegakkan punggungnya yang asalnya bersandar di sofa.


“Iya Bu. Dia bilang sekitar satu jam lagi akan tiba di sana,” sahutnya antusias.


“Akhirnya, Ini kesempatan bagus. Kita berangkat sebentar lagi, jangan biarkan beliau menunggu, lebih baik kita yang menunggunya.” Viona yang asalnya merasa lelah karena seharian ini jadwalnya super padat, seketika menjadi bersemangat kembali.


“Tapi Bu, kalau saya ikut, bagaimana dengan orang-orang dari konveksi yang juga akan datang sore ini?” Sita tampak kebingungan.


“Oh iya, aku lupa. Biar aku sendiri saja yang menemuinya, kamu tangani urusan di sini.”