Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Nomor Ponsel



Selepas Pandu keluar ruangan, Juna membuka jendela dan menyalakan sebatang rokok, menyesap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskannya penuh beban hingga asapnya menggulung di depannya.


Cintanya untuk Viona juga kasih sayangnya untuk Nara memanglah tulus dari hati terdalamnya. Namun, seiring berjalannya waktu obsesi ikut andil di sana. Status janda Viona membuat keinginan untuk memiliki semakin kuat, sehingga kenyataan yang terpampang nyata bahwa Viona tak pernah mempunyai perasaan yang sama dengannya diterjangnya mentah-mentah.


Sudah beberapa tahun ini Juna mencoba mengetuk pintu hati Viona, tetapi pintu itu terkunci rapat. Juna sebetulnya sangat tahu, seseorang Viona sembunyikan dibalik pintu itu. Ruang kalbu Viona memang penuh luka namun rasa cinta selalu bersemayam untuk penghuninya.


Ketika Viona memutuskan untuk mencoba menerimanya, Juna serasa dilambungkan ke langit ke tujuh. Namun, ketika harapannya baru saja bersemi, si penghuni ruang terkunci itu muncul lagi di hadapan Viona.


Berbagai ketakutan muncul di benak Juna lantaran tahu siapa pemilik hati Viona. Dari situlah obsesi dan ambisinya mulai tak terkendali, takut keputusan Viona untuk memulai hubungan bersamanya goyah dan berubah dengan kembalinya Bima di tengah-tengah mereka. Walaupun pernah melukai Viona, tetapi Bima bukanlah sosok yang bisa disingkirkan begitu saja karena lelaki itu adalah ayah biologisnya Nara.


Cinta memang berbahaya, membuat seorang Arjuna yang asalnya tulus menjadi ambisius.


*****


Jam sebelas siang Bima keluar dari gedung perusahaannya dan meminta Adrian untuk menangani urusannya di kantor dalam dua jam kedepan. Ia hendak ke sekolah Nara, senyum dan celotehan Nara membuatnya rindu setengah mati ingin bertemu kembali dengan buah hatinya.


Sedan hitam mengkilap berhenti di depan gerbang sekolah Nara, berbarengan dengan BMW warna kuning yang juga baru saja tiba. Bima turun dari sedan mewahnya dengan setelan formal dan juga kaca mata hitamnya yang sengaja dipakainya untuk menghalau silau matahari saat berkendara. Lalu dari mobil kuning turunlah sosok wanita cantik yang sama sekali tak disangkanya, ternyata itu adalah Viona, yang tampak anggun dengan dress selutut warna peach bermotif bunga-bunga.


Bima membuka kacamata hitamnya dan sedikit terkejut, setahunya Viona tak bisa mengemudi karena takut mengendarai kendaraan, tetapi kini mantan istrinya itu membawa mobil sendiri tanpa sopir.


Raut wajah Viona berubah datar saat melihat kehadiran Bima di sana, meskipun dalam hati ia mengakui bahwa Bima semakin bertambah tampan dan menawan di usia matangnya yang sekarang, tetapi rasa perih dari luka itu masih terasa di hatinya bercampur baur tak selaras dengan rasa rindunya pada orang yang sama.


“Mas, mau apa ke sini?” tanya Viona ketus.


Bima mngusap tengkuknya sendiri kemudian mengulas senyum. “Aku, aku ke sini ingin bertemu Anakku,” sahutnya.


“Maaf tak meminta izinmu dulu, karena aku tak punya nomor ponselmu.”


Memang benar Bima merasa tak enak hati. Viona memergokinya mencuri-curi waktu untuk bertemu Nara tanpa meminta izin dahulu, tetapi tentang alasan nomor ponsel memang terkandung modus di dalamnya, ia ingin Viona memberikan nomornya secara sukarela padanya bukan dengan paksaan.


“Hemm,” jawab Viona singkat.


“Sejak kapan?”


“Bukan urusanmu, Mas!” Viona mendelik tak suka.


“Jadi bagaimana tentang nomor ponsel? Bagaimanapaun juga aku punya hak untuk menemui anakku, tapi kedepannya aku akan melakukannya atas izin darimu, untuk itu kita butuh berkomunikasi bukan?”


“Apa Mas bermaksud mengambil Nara dariku? Jangan harap!” Tangan Viona mengepal.


“Kenapa kamu berpikir sejauh itu, tentu saja aku takkan melakukannya. Aku hanya ingin bertemu dengan Nara, itu saja. itupun jika kamu mengizinkan.”


“Om Beruaaang…..”


Suara Nara mengalihkan perhatian Bima dan Viona, tampaklah Nara yang berlari ke arah mereka dengan Bik Yati yang menegekor di belakangnya.


Nara begitu senang melihat Bima berada di sana. Sebetulnya sejak kemarin bocah pintar itu diam-diam memerhatikan wajah lelaki ini dengan saksama, sangat mirip dengan orang yang ada di foto di rumah Nenek Annisa dan juga foto yang terselip di jurnal bundanya, dan entah kenapa Nara sangat menyukai orang ini.


Bima berjongkok menyambut gadis kecilnya yang semakin mendekat. Nara berhenti tepat di depan Bima.


“Om Beruang lagi apa di sini? apa Om Beruang ini Ayah temanya Nara?” tanya bocah itu dengan tatapan mata polosnya.


*****


Cuma mau ingetin, jangan lupa bayar parkir biar author makin semangat ngetiknya 😳😳.


Tarif parkir: favorit, like, komentar dan vote seikhlasnya 😄💕