
Sedari pagi Bima tak mampu berkonsetrasi pada pekerjaannya. Pikirannya terus berkecamuk mencari solusi bagaimana caranya meyakinkan Abdul, ditambah lagi sejak semalam hingga kini ponsel Viona tak bisa dihubungi membuat keresahan semakin membelenggunya.
Ia beranjak dari kursi, meyambar jasnya dan bermaksud turun ke basemen gedung kantornya sebelum Adrian yang baru keluar dari lift menghadangnya.
“Pak, Anda mau ke mana?”
“Adrian, tolong tangani urusan kantor, aku ada keperluan mendesak.” Bima hendak melewati Adrian, tetapi sekertarisnya itu menghalangi.
“Pak, hari ini Anda sudah punya janji yang sangat penting, kita punya janji makan siang bisnis dengan mitra baru dari Eropa yang hendak mengimpor teh produksi Sinar Abadi Grup. Kita sudah mengatur jadwal pertemuan ini susah payah, saya tak bisa menanganinya sendiri karena kehadiran Anda sangat diperlukan,” jelas Adrian sambil menjegal jalan bos-nya.
Bima mendesah frustrasi, inginya dia segera melesat ke butik saat ini juga, pikirannya sejak tadi terus saja tertuju pada Viona, bagaimana dia bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya di saat suasana hatinya dipenuhi kegundahan. Namun, apa yang dikatakan Adrian memang benar, dia tak bisa seenaknya membatakkan pertemuan bisnis yang sudah terjadwal, terlebih lagi mitranya datang jauh-jauh dari luar negeri.
Di tengah kekalutannya Bima harus tetap professional seperti biasanya, mengenyampingkan dulu masalah pribadinya selama dua jam ke depan dan harus berusaha fokus akan pekerjaanya.
“Saya mohon Pak, pertemuan ini sangat krusial bagi perusahaan kita dalam mewujudkan kemajuan Sinar Abadi Grup yang ingin menembus pasar Eropa sejak lama,” Adrian kembali bersuara mengingatkan, ia bahkan setengah memaksa lantaran tak ingin kesempatan yang sudah lama dinanti dilewatkan bos-nya begitu saja.
Bima mengusap wajahnya dan menghela napas panjang. “Oke. Kapan jadwal bertemu mereka?”
“Tiga puluh menit lagi, di Restoran Hotel Hilton.”
“Kita berangkat sekarang.”
“Baik, Pak.”
“Selamat Pak, perjanjian kerja samanya berjalan sukses.” Adrian mengoceh senang sambil merapikan dokumen ke dalam map dan berujar bangga pada sang bos.
Bima menagggapinya dengan senyum tipis kemudian menyesap kopinya. “Kinerja terampilmu juga berperan penting, kutambahakan bonus di pembayaran gajimu bulan depan.”
“Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih. Tapi maaf Pak, saya permisi ke toilet dulu sebentar, saking nervousnya saya sampai ingin terkencing-kencing sejak tadi.” Adrian tertawa sungkan dan malu.
“Ya sudah sana, jangan lama-lama.”
Bima menyandarkan dirinya dan kembali mencoba menghubungi ponsel Viona, tetapi hasilnya tetap nihil, bahkan pesannya sejak semalam masih berstatus ceklis satu tak kunjung terkirim. “Kamu, nggak apa-apa kan, Vi?” gumamnya sambil mendesah berat.
Terdengar nama Viona disebut dari pembicaraan orang yang tempat duduknya tak jauh darinya. Radar di telinga Bima langsung menangkap sinyal tak biasa. Menajamkan pendengarannya ingin tahu pembahasan yang melibatkan nama Viona, apakah yang mereka bicarakan adalah Viona yang sama?
“Jadi, kamu tak bertemu Viona di butiknya tadi?” tanya Marina pada asistennya. Marina yang menginap di Hotel Hilton kini tengah bersantap siang di restoran yang sama di mana Bima berada, bahkan posisi kursi mereka tak terlalu jauh sehingga Bima bisa mendengar percakapan mereka.
"Tidak Nyonya, pekerja di sana mengatakan bahwa pemiliknya mulai hari ini sampai seminggu ke depan tidak akan datang ke butik karena sedang mempersiapkan acara penting," sahut si asisten wanita berambut pendek itu.
"Seminggu ke depan? acara penting? Tapi rencana pertunangan masih dua minggu lagi kan?" cecarnya penasaran.
"Saya pun tidak tahu acara apa Nyonya, mereka hanya mengatakan itu saja."