Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Tutup Gordennya!



Viona terbangun lebih dulu sebelum adzan subuh berkumandang. Sementara Bima dan Nara masih sama-sama tertidur pulas. Viona ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar lebih segar dilanjutkan mengambil air wudhu. Selesai berpakaian ia mengeluarkan mukena dan sajadah yang dibawanya, dihamparkannya sajadah tersebut lalu duduk di sana sembari menunggu waktu shalat tiba.


Selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat penghuni Bumi, Viona menghampiri ranjang. Sejak tadi suaminya itu masih tak terusik sedikit pun, Viona menepuk-nepuk bahunya membangunkan.


"Mas ... Mas Bima. Bangun, shalat subuh dulu." Viona berkata pelan dengan mendekatkan wajahnya ke telinga Bima.


"Emhh, sebentar lagi, Vi. Aku masih ngantuk," sahutnya malas dan malah menggapai-gapaikan tangannya mencari guling untuk dipeluk.


"Nanti keburu akhir. Ayo shalat dulu, nanti setelah itu Mas bisa menyambung tidur," titah Viona tegas tetapi tetap dengan nada riuh rendah. Bagaimanapun juga Bima adalah suaminya, imamnya. Sebagai istri dia harus tetap bersikap hormat, meskipun untuk mengingatkan dalam hal kebaikan.


Dengan gerakan berat dan lambat Bima memaksakan dirinya untuk bangun. Sejujurnya dia sangat malas, tetapi semenjak menikah dengan Viona, Bima sudah jarang melewatkan kewajiban lima waktunya karena istrinya itu tak bosan-bosannya mengingatkan.


Dulu, waktu sebelum menikah, Bima sering melalaikan kewajibannya itu, kecuali jika sedang berada di rumah orang tuanya. Pergaulan buruknya telah menjerumuskannya, membuatnya menjadi manusia rusak yang lebih sering lupa terhadap Sang Pencipta. Dengan langkah gontai Bima menuju ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan menunaikan shalat subuh.


"Mas, tidur lagi aja. Aku mau ke dapur menyiapkan sarapan untuk kita. Titip Nara ya, kalau dia bangun panggil saja aku," ucap Viona kepada Bima yang sedang duduk menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang setelah selesai shalat, dia masih memakai baju koko serta sarung bermotif kotak-kotak.


"Oke." Bima menjawab kemudian kembali berbaring dan memeluk bayi cantiknya ke dalam rengkuhannya.


*****


Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi, Viona sudah selesai memasak sarapan sederhana dan menyajikannya di meja, tak lupa ia juga memasukkan dan menyimpan belanjaan bahan makanan yang dibelinya kemarin ke dalam lemari pendingin.


Viona berlari-lari kecil ke bagian depan bangunan, membuka semua gorden serta jendela, mempersilakan udara segar untuk masuk diiringi hangatnya sinar mentari pagi yang ikut meramaikan.


Terdengar deritan pintu kamar yang dibuka membuat Viona menoleh ke arah sumber suara, rupanya Bima yang keluar dari sana, sudah tampak segar juga berganti pakaian memakai celana panjang santai serta kaos oblong.


"Mas, Nara belum bangun?" tanya Viona sembari melangkah mendekati.


"Belum, anak kita masih tidur," sahutnya sambil mengulas senyum.


Akan tetapi sesaat kemudian keningnya berkerut dalam ketika melihat sekeliling, matanya berkilat waspada berbalut rasa takut yang menjelma menjadi amarah.


"Kenapa gorden dan jendela depan kamu buka!" Tanpa disadarinya, secara impulsif Bima membentak Viona karena pengaruh rasa cemas serta ketakutannya tertangkap polisi.


Viona sedikit berjengit kaget dan menelan ludahnya dengan susah payah. Sudah lama Bima tidak berseru dengan nada tinggi lagi kepadanya. "Me-memangnya ke-kenapa Mas? aku hanya membuka gorden. Apakah... ad-ada yang sa-salah," jawabnya tergagap bercampur takut masih dipengaruhi keterkejutan karena bentakan Bima barusan.


Bima mengusap wajahnya kasar, merasa bersalah karena lepas kontrol dan melampiaskan sesuatu yang menghantuinya kepada Viona. Bima meraih kedua bahu istrinya dan meremasnya lembut.


"Ma-maaf, Vi. Aku tak bermaksud membentak, sungguh. Hanya saja ingin liburan kita tak diganggu siapapun, aku ingin kebersamaan kita di sini tak ada gangguan orang luar sedikitpun. Jadi sebaiknya gorden depan juga jendelanya ditutup lagi saja, kecuali gorden dan jendela ruangan santai di belakang, kuharap kamu bisa mengerti."


Bima berusaha mencari alasan, padahal sebenarnya dia memang sedang menyembunyikan diri sehingga ingin membuat seolah-olah bangunan itu tak berpenghuni jika dilihat dari depan.


"Ya sudah, aku tutup lagi. Mas ke ruang makan duluan saja, nanti aku menyusul," jawab Viona tanpa menaruh curiga dengan keanehan yang terjadi pada diri suaminya.


"Makasih sayang." Bima mengecup kening Viona dan segera berlalu ke ruang makan.