
Gaun tidur selutut warna merah marun dengan model tali spaghetti melekat begitu pas di tubuh Viona. Tubuhnya tetap langsing meski sudah pernah melahirkan, hanya kini lebih menonjol berisi di bagian-bagian yang seharusnya, menciptakan lekukan indah seksi dari siluet tubuhnya.
Selagi menunggu Bima mandi, Viona mematut dirinya di depan cermin. Mengaplikasikan toner juga krim malam di wajah mulusnya, menyisir rambut panjangnya lalu disisihkan di sebelah pundak. Dilanjutkan memakai wewangian yang dibelinya dua hari sebelum acara pernikahan, minyak wangi yang menurut iklannya konon katanya disukai para suami. Ia benar-benar bersiap-siap semaksimal mungkin, mempersembahkan diri untuk lelaki tercintanya.
Viona terkikik geli. Meletakkan telapak tangannya di dada, merasakan detak jantungnya yang berloncatan kesana kemari tak beraturan. Semburat merah membias di wajah cantiknya, bahkan kini ia meraba pipinya sendiri yang tiba-tiba memanas kala mengingat malam ini adalah malam pengantinnya dengan Bima untuk yang kedua kalinya.
Berusaha mengenyahkan kegugupannya, Viona memilih menikmati pemandangan malam di luar sana melalui kaca besar tembus pandang tempat di mana tadi Bima berdiri. Jalanan tampak mulai lengang, kendaraan yang berlalu lalang berkurang, mungkin karena sekarang ini sudah menginjak waktu tengah malam.
Bima keluar dari kamar mandi hanya terbalut handuk yang melilit rendah di pinggangnya. Matanya langsung tertuju pada Viona yang sedang mengamati pemandangan menghadap kaca, istrinya itu masih larut melihat indahnya hamparan lampu berpadu langit gulita, sehingga belum menyadari bahwa Bima sudah berada di belakangnya.
Terkesiap, itulah yang dirasakan Viona kala lengan Bima menyelusup memeluknya dari belakang. Bima menopangkan dagu di puncak kepala Viona. Perpaduan yang begitu selaras, Viona yang mungil sepenuhnya terlingkupi oleh tubuh tinggi tegap Bima.
Aroma wangi sabun dan shampo yang menguar dari setiap pori lelakinya menggoda penciuman Viona. Ia merapatkan punggungnya dan bersandar manja di dada bidang menyenangkan yang dirindukannya.
“Sudahkah hari ini aku mengatakan bahwa aku menyayangimu?" desah Bima dengan mata memejam.
“Sudah,” sahut Viona seraya tersipu.
“Sudah jugakah aku mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu?” sambungnya lagi, kali ini Bima sedikit menunduk di sisi wajah Viona dan hidung mancungnya menyentuh pipi mulus Viona.
Viona sedikit menoleh, sehingga kini posisi wajah mereka berhadapan nyaris merapat, hanya berjarak setengah jengkal saja.
“Sudah, entah sudah berapa kali Mas mengatakannya hari ini.” Viona mengulum senyumnya, mata mereka bersirobok, sama-sama menguarkan semburan cinta yang menyeruak di dada.
Kecupan manis dan lembut mendarat di bibir Viona. “Aku akan mengatakannya setiap saat bahwa aku sangat mencintaimu hingga kamu bosan mendengarnya,” desis Bima tepat di depan bibir Viona.
“Katakan saja, aku takkan bosan mendengarnya.” Viona terkekeh kecil.
Bima memutar tubuh Viona agar berhadapan dengannya, lalu ia meletakkan telapak tangannya di kepala Viona, membaca do’a sebelum berjima dan meniupkannya di ubun-ubun istri tercinta.
Viona membuka mata kala tangan Bima turun mengelus pipinya bertepatan dengan pagutan di bibirnya. Bima menarik tubuh Viona merapat dengannya hingga tak ada jarak tersisa, menyelipkan bibirnya semakin dalam di kehangatan dan kemanisan mulut Viona, mencecap dan menyesapnya dengan ahli.
Memejamkan mata itulah yang kembali dilakukan Viona, ia terengah dan meraup napas sebanyak-banyaknya saat Bima menjeda sejenak pagutannya.
Tak berlangsung lama, Bima kembali menyergap bibirnya rakus terbalut rindu, cinta dan nafsu yang menyulut hasrat. Viona menyelipkan jemarinya di rambut Bima dan tanpa sadar sedikit menjambaknya, ciuman Bima yang ahli memanglah sealu memabukkan, bahkan kini terasa lebih dahsyat dari sebelumnya, dan jambakan Viona membuat gairah Bima makin berkobar hebat.
Diangkatnya tubuh Viona, Bima menggendongnya dan membawanya ke arah ranjang, otomatis Viona melingkarkan kakinya di tubuh Bima agar tak jatuh dan berpegangan kencang di bahu kekar itu, sementara bibir mereka terus bertautan enggan melepas satu sama lain.
Bima duduk di tepian ranjang besar bertaburan kelopak mawar merah dengan Viona di atas pangkuannya. Napas jantannya memburu di sela-sela pagutan panasnya, Bima lalu melepaskan bibir merekah yang basah itu dan mulai turun menyusuri leher jenjang Viona.
Dikecupinya leher jenjang itu dan menghidu aroma wanginya dalam-dalam, mencium dan menyesap di sana. Viona dan Bima sama-sama mengerang tersulut hasratnya. Sudah lama sekali mereka tak merasakan desir hebat gejolak ini.
Bibir panas Bima makin turun menyusuri tulang selangka dan menyapukan bibirnya seringan bulu menggoda di sana, tangannya bergerak menurunkan tali gaun model spaghetti itu tanpa menghentikan kecupan-kecupan basahnya, juga menyingkirkan penutup dada yang membungkus gunung kembar istrinya.
Tubuh bagian atas Viona kini terpampang sudah. Deru napas Bima makin tak beraturan, dan matanya menggelap dilanda gejolak gairah melahap indahnya ragawi sang istri.
Tangan Bima menyusuri punggung mulus dan halus Viona mengusap-usap lembut di sana, bibirnya mengecupi makin turun dan semakin menunduk hingga berlabuh di puncak bukit kembar Viona yang sudah tak berpenghalang.
Viona melenguh, perlakuan Bima memanjakan tubuhnya dalam sentuhan memabukkan membuat napasnya kacau, kepalanya pening dan kakinya lemas. Hasratnya semakin membumbung tinggi. Matanya sayu diselimuti gairah, meresapi setiap rasa nikmat yang menjalar dengan derasnya dicurahkan penuh cinta hanya untuknya.
Bima melepaskan bibirnya dari kelembutan kulit istri tercintanya, ia mendongak dan Viona menunduk. Napas keduanya berkejaran disertai dada kembang kempis. Viona meraba kedua sisi wajah Bima, kemudian lebih dulu menyambar bibir suaminya itu. Merapatkan tubuh satu sama lain yang telah sepenuhnya panas membara terbakar gairah yang berkobar.