Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Gagal Lagi



Sesil menuju dapur dengan langkah ringan dan riang, bahkan bagian-bagian tubuhnya ikut meremang sudah tak sabar ingin segera kembali merasakan dan menikmati sentuhan Bima yang memabukkan.


Ia membuat secangkir teh dan membubuhkan obat yang diberikan Reva ke dalamnya. Setelah tehnya siap dia kembali ke ruang tamu dan menyajikannya untuk Bima.


"Ini tehnya. Minumlah selagi menunggu montir datang." Sesil meletakkan cangkir yang dibawanya, kemudian melirik Bima dengan mata berbinar.


"Nanti saja. Aku biasa meminum tehku jika suhunya sudah hangat, sepertinya itu masih panas." Bima mengarahkan pandangannya dan menggerakkan dagunya ke arah cangkir yang masih mengepulkan uap panasnya.


"Ahh begitu ... i-iya baiklah," desah Sesil kecewa. "Apa perlu kukipasi?" tawar Sesil setengah memaksa karena ingin agar Bima segera meminum tehnya.


"Tidak perlu," tolak Bima dingin.


Bima duduk di sofa panjang dan Sesil mengambil tempat duduk di sebelahnya. Wanita itu berusaha merapat, tetapi Bima terus bergeser menjauh.


"Bima, apakah kamu tidak ingin menyapa anakmu?" tanya Sesil dengan wajah memelas.


Bima menatapnya dengan ekspresi datar kemudian mengusap kasar wajahnya sendiri disertai embusan napas berat.


"Kemarilah," pinta Bima masih dengan ekspresi yang sama sejak tadi. Bagaimanapun juga anaknya di dalam sana tak berdosa sama sekali dan berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya, batinnya.


Dengan senyum merekah, Sesil menggeser posisinya semakin mendekat. Ragu-ragu Bima meletakkan tangannya di perut Sesil dan mengusapnya perlahan.


Sebuah rasa menjalar tanpa disuruh di segumpal daging yang bersemayam di tubuh Sesil. Wanita itu makin terperosok dalam kebohongannya sendiri dan niatan awalnya untuk menguras harta Bima mulai terkikis sedikit demi sedikit.


Tiba-tiba wanita itu merasa kehilangan ketika Bima menarik tangannya, inginnya terus tetap begitu dan memiliki Bima di sisinya.


Tangan Bima terulur mengambil cangkir teh yang tadi disajikan Sesil, membuat wanita di hadapannya makin gembira luar biasa karena rencananya sebentar lagi akan terlaksana. Ketika cangkir itu hampir menyentuh bibirnya, ponsel di saku celananya berdering nyaring sehingga Bima meletakkan kembali cangkir tersebut.


"Iya, Sayang," sahut Bima lembut karena yang menghubunginya adalah Viona. Sesil yang mendengar sebutan sayang Bima untuk Viona merasa cemburu luar biasa.


"Mas, bisa pulang sekarang? Aku ... aku sudah di rumah sakit. Sepertinya anak kita akan segera lahir."


"Apa? melahirkan!" Bima tersentak dan langsung berdiri. "Aku akan pulang sekarang juga, tunggu aku datang."


Bima salah tingkah dan kebingungan sebelum nalarnya akhirnya menguasainya kembali. "Aku akan segera sampai."


"Kamu mau pulang pakai apa? Dan bagaimana dengan mobilmu." Sesil berusaha menahan kepergian Bima, merasa tak rela jika rencananya yang hampir berhasil kali ini harus gagal lagi.


"Tentang mobilku biar nanti para montir yang membawanya pulang." Bima bergegas keluar dari rumah dengan Sesil mengekori di belakangnya.


"Tapi Bim, Bima!"


Sesil berteriak sedangkan Bima tak peduli seolah tuli dan segera memesan ojek online dari ponselnya. Tak butuh waktu lama ojek pesanannya sudah datang, Bima bergegas pergi dari sana meninggalkan Sesil yang mengepalkan tinju karena rencananya yang hampir berhasil harus berantakan.


"Takkan lama lagi aku akan benar-benar membuatmu menjadi milikku, tunggu saja Bima!" desisnya frustrasi penuh amarah.