
Sudah empat hari Viona berada di puncak. Ia lebih banyak diam dan hanya berbicara seperlunya saja kepada Bima. Malam ini Viona teringat akan ponselnya, ia segera membongkar tasnya, mengambil benda tersebut dan menyalakannya. Puluhan bahkan ratusan pesan langsung masuk berdenting tanpa henti, juga log panggilan yang begitu banyak tertera di bar notifikasi ponsel.
Dibagian paling atas tertera pesan dari orang tuanya. Jemarinya begulir mengusap layar hendak membuka pesan teratas dari ibunya. Bima yang baru saja masuk ke kamar langsung naik pitam kala mengetahui istrinya menyalakan ponsel.
Belum sempat Viona membaca pesan yang dibukanya, ponsel tersebut sudah direbut paksa dari tangannya. Bima membantingnya sekuat tenaga ke lantai hingga ponsel tersebut rusak parah, lalu Bima membentak dan menunjuk-nunjuk wajah Viona sembari berkata kasar.
“Dasar bodoh! Kamu ingin aku ditangkap polisi dan mendekam dipenjara hah? nomor poselmu juga ponselku sudah pasti dilacak oleh polisi. Dengan menyalakannya sama saja kamu memberi tahu mereka di mana letak keberadaan kita!” bentaknya murka hingga suaranya memekakkan telinga. Ekspresinya mengeras dengan rahang mengetat dikuasai amarah.
Viona tersentak kaget. Semakin ke sini emosi Bima semakin naik turun tak terkendali, kadang dia lembut penuh perhatian disertai ungkapan penyesalan, tetapi sesaat kemudian bisa tiba-tiba saja melonjak murka.
Kali ini Viona harus kembali menghadapi suaminya yang mengamuk tak terkendali. Efek buruk kecanduannya makin hari semakin parah, bahkan makanan pun hanya ditelan beberapa suap saja, karena yang memenuhi kepalanya hanyalah obat laknatnya, Bima sangat menginginkannya, sekarang juga.
“Maaf, Mas. Aku hanya ingin tahu kabar orang tuaku,” lirih Viona dengan suara tercekat di tenggorokan. Dia berusaha menahan isakannya yang mendesak ingin menyembur keluar, jika dia menangis sudah pasti kemarahan Bima akan semakin menjadi.
Tubuh Bima yang tinggi tegap kini tampak kurus, matanya memerah efek dari tak mampu tertidur nyenyak. Wajah tampannya semakin tirus, jambang yang mulai panjang di rahangnya pun dibiarkan tak terurus. Obat sialan itu sungguh menyiksanya, sungguh-sungguh menyiksa, bahkan seluruh keluarganya pun ikut tersiksa terseret dalam kubangan nista yang dibuatnya.
“Jangan diulangi! Kecuali kamu ingin Ayah anakmu ini menjadi narapidana. Bukankah kamu tak ingin Nara diolok-olok nantinya? Jadi, sebaikanya patuhlah padaku!”
“Iya, Mas. Takkan kuulangi.” Viona mengangguk patuh.
Melihat Viona yang seperti itu, iblis di dalam diri Bima kini berbisik memprovokasi. Bagaimana kalau ia menggunakan Viona untuk mencarikannya barang kesukaanya? Dengan menjadikan Nara sebagai tameng sudah pasti istrinya itu akan menuruti semua keinginannya bukan? Akal sehatnya benar-benar telah terkubur jauh, yang bergulir di otaknya hanya barang laknat yang meracuninya. Kilatan setan menyambar-nyambar di matanya.
“JIka benar kamu takkan mengulanginya, sekarang coba buktikan padaku kesungguhanmu itu!” ujar Bima menekankan kata-katanya.
“Maksud Mas?”
Bima meraup Nara yang sedang terlelap terbaring di ranjang ke pangkuannya. “Carikan aku barang kesukaanku secepatnya. tak peduli bagaimana caranya, atau aku akan membawa kabur Nara bersamaku,” ancamnya.
Viona gemetar ketakutan, ia semakin tak mengenali suaminya. Hatinya menjerit dan meraung, mengapa takdir menyeretnya dalam pusaran dunia mengerikan yang tak pernah terbayang olehnya. Dan juga mengapa bayi kecilnya harus ikut terombang ambing dalam badai dahsyat ini, membuat jeritan kalbunya bertambah pilu dan perih.
“Baik, akan kudapatkan untukmu.”