
Air muka Viona kebingungan. Ia terheran-heran kala Bima membelokkan mobil ke arah lain dan kini berhenti di lobi sebuah rumah sakit.
Sejak pagi suaminya itu hanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila, dan kini diperjalanan berangkat ke butik tanpa berunding malah membawanya ke rumah sakit.
"Mas, mau ngapain kita di sini?" Viona membuka seat belt sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Tentu saja mau meriksa kamu." Bima juga ikut membuka seatbelt setelah mobil terparkir sempurna dan mesin dimatikan. Guratan gembira di wajah tampannya sulit sekali dikontrol, kedua sudut bibirnya terus saja ingin tertarik ke atas.
"Eh... kenapa aku? Kan udah kubilang kalau aku udah merasa baikan pagi ini. Duuh... masa cuma masuk angin pake ke rumah sakit segala," protes Viona. Ia merasa sang suami terlalu cemas berlebihan.
"Coba kamu perhatikan, ini rumah sakit apa?" tanya Bima dengan mata berbinar.
"Ini_" Viona menghentikan ucapannya lalu memerhatikan secara saksama, dan ia baru menyadari bahwasanya Bima membawanya ke rumah sakit ibu dan anak yang diklaim terbaik di kota Bandung.
"Ini... rumah sakit ibu dan anak?" ujar Viona masih tak mengerti, alisnya mengkerut menciptakan lipatan samar.
"Kamu merasa ada yang berbeda nggak dengan dirimu akhir-akhir ini?" Bima meraih tangan Viona dan meremasnya lembut.
"Yang berbeda? Aku merasa semuanya sama saja, hanya agak sering mood swing akhir-akhir ini juga cepat lelah dan rentan masuk angin. Hanya itu, dan kurasa bukanlah hal berbahaya," jawab Viona seadanya.
"Kapan kamu terakhir datang bulan?"
"Datang bulan?" Viona tampak berpikir. "Iya juga ya? Kenapa sampai lupa. Aku terakhir menstruasi itu sebelum kita menikah, dan saat pernikahan berlangsung aku baru selesai datang bulan sekitar empat hari." Viona mulai mengerti tentang isi kepala suaminya.
"Jadi itu berarti?" Bima menaikkan alis diiringi senyum manisnya, begitu antusias.
"Tunggu, maksud Mas apakah kemungkinan aku... aku hamil?" Mata indah Viona membulat. Bima mengangguk pelan lalu mengecup punggung tangan Viona mesra.
"Tapi benar juga, aku memang tak mendapat lagi tamu bulanan sejak pernikahan kita. Kenapa aku bisa sampai lupa sih!" Viona menggerutu menepuk jidatnya. Ia mendadak merasa tidak menentu, gembira sekaligus panik. "Jadi Mas membawaku ke sini untuk memastikan dugaan?"
"Tapi, bagaimana kalau tak sesuai harapan? Bagaimana kalau ternyata aku cuma terlambat datang bulan?" Viona kini malah merasa ragu juga kebingungan. Pasalnya ketika hamil Nara dulu ia benar-benar kerepotan dengan muntah hebat hingga membuatnya tak berdaya, sementara saat ini dia tidak mengalaminya, hanya tadi malam saja rasa mual menyambanginya dan itu tak seberapa, tidak seperti saat pertama kali hamil dulu.
"Maka dari itu kita harus memastikannya. Jangan terlalu banyak berpikir. Tentang hasilnya bagaimana itu bukan masalah. Jika belum berhasil berarti aku harus berusaha lebih giat lagi. Ayo, kita turun."
Dengan langkah enggan Viona turun dari mobil dan mengiyakan ajakan suaminya. Beruntung pasien yang mendaftar ke poli kandungan baru sedikit berhubung waktu masih pagi.
Setelah menunggu sekitar dua orang pasien yang lebih dulu datang selesai diperiksa, kini tibalah giliran Viona dipanggil. Bima begitu antusias, sedangkan Viona tampak cemas. Takut hasilnya tak sesuai dugaan sehingga mengecewakan sang suami.
Perawat yang mendampingi dokter mengukur tensi darah, kemudian dokter spesialis kandungan mengajak pasutri itu berbincang, meminta keterangan secukupnya sebelum memasuki prosedur pemeriksaan lebih lanjut.
Dokter meminta Viona menampung urin lalu memeriksanya. Setelahnya memintanya berbaring di ranjang pasien. Dokter mengoleskan gel dingin di permukaan perut Viona kira-kira di area sekitar pusar sedikit ke bawah, kemudian menggulirkan alat ultrasonografi di atas permukaan perut dengan mata fokus ke layar monitor.
Sejak tadi Bima tak melepaskan genggaman tangannya di tangan Viona. Telapak tangan dan kakinya terasa dingin efek gugup juga harap-harap cemas akan diagnosa dokter.
"Bagaimana... bagaimana keadaan istri saya, Dok? Bagaimana hasilnya?" Bima bertanya dengan nada menuntut juga cemas.
Dokter mengulas senyum dan menatap pasangan itu bergantian. "Selamat, Pak. Istri Anda positif hamil, usia kandungannya kira-kira sudah memasuki tujuh sampai delapan minggu. Ibu dan bayinya dalam keadaan sehat."
Viona mengerjap, begitu pula dengan Bima. Keduanya tercenung sambil bertukar pandang, hingga akhirnya raut syukur terpancar dari wajah keduanya.
"Alhamdulillah." Bima mengucapkan syukur cukup kencang, mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya kemudian beralih mencium kening Viona berlumuran cinta.
"Terima kasih, istriku. Terima kasih, telah memberiku hadiah terindah, sekali lagi." Bima berucap serak juga parau lantaran tenggorokannya tercekat rasa haru ibarat dijejali jutaan gumpalan air mata bahagia yang mendesak ingin menyembur keluar
"Jadi kita... akan punya bayi lagi?" Sudut mata Viona menggenang diiringi senyum terindah di wajah cantiknya. Bola mata cantiknya bergulir berkilauan menatap Bima masih mencari pembenaran akan berita yang tertangkap indera pendengarannya.
"Iya, sayang. Nara akan punya adik. Kamu kini tengah mengandung anakku, lagi. Anak kita," terang Bima yang balas menatap penuh sukacita.