Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Roti Gosong



Bima memutuskan untuk bangun lebih dulu. Ia turun dari tempat tidur dengan gerakan sehalus mungkin agar tidak mengusik tidur lelap Viona, diselimutinya kembali istrinya itu sebatas dagu sebelum beranjak keluar dari sana.


Bima duduk di ruang makan, jemarinya mengotak-atik ponselnya. Ia sedang mencari tutorial membuat sarapan sederhana. Ini adalah pertama kalinya Bima punya keinginan untuk memasak, ia begitu antusias melihat tahap demi tahap proses pembuatan menu sarapan dari tayangan video yang sedang ditontonnya.


Setelah beberapa saat berlalu, Bima menaruh ponselnya di meja, kemudian mencari bahan-bahan yang akan dimasaknya sesuai dengan resep yang dilihatnya di video tadi.


Rupanya Bima bermaksud membuat sandwich sederhana dengan isian telur ceplok, keju slice, daun selada, irisan mentimun, irisan tomat dan mayonaise. Setelah semua bahan terkumpul di meja, Bima memakai apron dan memutar ulang tutorial membuat sandwich yang dilihatnya tadi.


*****


Viona menggeliatkan tubuhnya. Tidurnya yang begitu nyenyak membuatnya merasa puas beristirahat dan segar saat terbangun. Ia meraba-raba ke sebelahnya dan membuka mata lalu menjelajahkan pandangan, ternyata matahari sudah naik dan suaminya sepertinya sudah bangun terlebih dahulu.


Viona melihat jam di dinding. Dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tepat. Ini sudah hampir lewat waktu sarapan dan ia teringat belum menyiapkan makanan untuk Bima. Rencananya setelah shalat subuh tadi, Viona bermaksud memasak sarapan, tetapi karena kelelahan ia lebih tergoda untuk kembali tidur dan bergelung didekapan hangat suaminya yang mengajaknya untuk beristirahat sejenak.


Wajahnya terasa panas, semburat merah tampak samar di tulang pipinya. Viona menangkupkan telapak tangannya sendiri di kedua sisi wajahnya dengan senyum merekah. Walaupun bukan yang pertama kalinya, namun karena sikap Bima yang berubah melembut padanya membuat keintiman di antara mereka terasa berkali-kali lipat lebih indah, lebih bergelora dari sebelumnya. Membuat Viona merona begitu saja jika mengingat bagaimana Bima yang sekarang memperlakukannya dengan sangat mesra di atas ranjang.


Viona menurunkan kaki dari tempat tidur. Saat telapak kakinya hampir menyentuh lantai tercium aroma gosong yang mampir di indera penciumannya, Viona mengendus-endus dan mengikuti dari mana aroma gosong itu berasal, ia membuka pintu kamar dan aroma itu semakin menguat.


Terdengar bunyi dentingan peralatan masak yang begitu gaduh seperti sedang ada kekacauan yang terjadi dari arah dapur. Viona melangkah tergesa-gesa dengan tetap berhati-hati karena dirinya sedang hamil besar saat ini.


Saat masuk ke dapur dilihatnya Bima sedang ketakutan terciprat minyak. Bima bermaksud membuat telur ceplok, tetapi karena wajan dan minyak di dalamnya suhunya sudah terlalu panas maka saat telur dimasukan ke dalamnya terciptalah cipratan dan juga bunyi gaduh yang membuat Bima kalang kabut. Belum lagi ia terlambat memeriksa pemanggang roti, sehingga mengakibatkan roti yang dipanggangnya kini telah gosong dan menguarkan aromanya hingga keseluruh penjuru ruangan di rumah itu tanpa terkecuali.


Viona terkikik geli, melihat suaminya ketakutan dengan kegiatan memasak yang tengah dilakukannya, bahkan pelipis Bima tampak berpeluh dengan raut wajah panik menyaksikan minyak panas berloncatan keluar dari wajan yang sebagian telah mengenai tangannya.


Viona menghampiri dan memeluk Bima dari belakang. "Mas, lagi bikin apa?"


Bima tersentak kaget lalu mematikan kompor. Ia membalikkan badannya dan memegang kedua sisi bahu Viona. "Kenapa sudah bangun, hmm? Ehm ... ak-aku ingin membuat sarapan untuk kita berdua. Ini adalah pertama kalinya aku turun ke dapur, tadinya ingin membuat kejutan tapi sepertinya yang kulakukan hanyalah membuat kekacauan," Bima berujar rendah dan sedikit memalingkan wajahnya agar Viona tidak melihat bahwa dirinya sedang diserang rasa malu saat ini.


Viona tertawa lebar kemudian ia berjinjit dan mengecup pipi Bima. "Terima kasih, suamiku. Aku terharu," cicit Viona lembut.


Bima tersenyum masam merasa kecewa pada dirinya sendiri. "Tapi sepertinya tidak ada yang layak untuk dimakan, maaf ya."


"Sudah, nggak apa-apa, Mas. Walaupun tidak bisa dimakan tapi aku terharu karena suamiku mencoba memasak untuk memberikan kejutan padaku, aku sangat bahagia," sahut Viona dengan mata berbinar.


.


"Aku akan setia menunggu, hingga saat itu tiba. Sekarang biarkan aku mengambil alih, tunggulah di meja makan, aku akan membuat sarapan dengan cepat."


*****


Setelah selesai sarapan Bima baru ingat akan janjinya mengundang Juna makan siang bersama. Bima mencari Viona ke taman untuk membicarakan hal ini karena biasanya setelah sarapan di hari libur Viona lebih sering menghabiskan waktunya bersama bunga-bungaan yang ditanamnya.


"Vi," panggilnya pada sang istri.


"Eh iya, Mas. Ada apa?" Viona menaruh semprotan air yang dipegangnya dan menghampiri suaminya.


"Hari ini, kita makan siang di luar saja ya Sekalian aku ada janji mengundang seorang teman untuk makan bersama, dan aku ingin kamu ikut menemaniku." Bima menuntun Viona untuk duduk di kursi taman.


"Kenapa tidak diundang ke rumah saja? Biar nanti aku yang memasak hidangannya," usul Viona.


"Aku tidak ingin kamu kelelahan, juga para asisten rumah tangga kita sedang cuti. Kamu pasti kerepotan kalau harus menyiapkan hidangan seorang diri, jadi kita makan di luar saja ya. Pilih restoran yang kamu inginkan," pinta Bima dengan nada membujuk.


"Memangnya Mas mau ngundang siapa sih, sepertinya orang penting?" Viona penasaran dan dahinya ikut berkerut samar.


"Ehm ... sebenarnya begini. Dua hari yang lalu sepulang kerja aku tidak sengaja menyerempet mobil orang karena fokusku agak buyar waktu itu. Dia tidak mau aku mengganti rugi, jadi sebagai permintaan maaf aku mengundangnya untuk makan siang bersama," tutur Bima menjelaskan dengan hati-hati agar Viona tidak terkejut.


"Apa? Menyerempet!" Viona memekik kaget. "Ke- kenapa baru menceritakannya padaku sekarang! Bagian mana yang terluka? Coba kuperiksa."


Viona bangkit dari duduknya dan memeriksa tubuh Bima. Menolehkan pipi Bima ke kanan dan ke kiri serta memutar-mutarkan tubuh jangkungnya, memindai dengan saksama keseluruhan tubuh suaminya. Terlihat raut khawatir yang tercetak jelas di wajah cantiknya.


Bima tergelak, lalu meraih tangan Viona untuk menghentikan kegiatan yang dilakukan istrinya itu. "Aku nggak apa-apa, kamu lihat sendiri aku baik-baik saja bukan? Jangan cemas lagi."


Bima mengacak rambut Viona. Senyumnya merebak, hatinya semakin menghangat ketika menyadari bahwa istrinya ternyata sangat mencemaskannya.


"Lagi pula, jika aku terluka kamu pasti akan mengetahuinya dengan mudah, bukankah semalam kita bahkan tidak memerlukan pakaian untuk beberapa jam? Dan kamu juga pasti melihat dengan jelas, tidak ada sedikit pun yang terluka dari diriku," sambung Bima dengan nada menggoda yang tak disembunyikan, membuat yang mendengarnya langsung merasakan hawa panas di wajah.