Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Oli Mesin



“Tapi itu menandakan bahwa aku masihlah lelaki normal bukan?” Bima berkilah masih dengan tawa ringannya sambil tetap fokus pada jalanan menuju rumah Viona.


“Ehm… ehm.” Viona hanya menanggapinya dengan berdehem padahal tenggorokannya tak gatal. Ia membuang pandangan ke luar jendela, wajahnya sepenuhnya memanas dilanda rasa canggung luar biasa dengan pembahasan menjurus ini.


“Asal kamu tahu, reaksi itu terjadi padaku hanya saat berdekatan denganmu saja. Tapi jika aku tak bereaksi itu adalah masalah besar. Bagaimana kita bisa memberi adik untuk Nara nanti, hmm?” ujarnya santai, tak peduli dengan Viona yang sudah salah tingkah.


“Ish… Mas! berhenti membahas hal semacam itu! Kenapa sekarang Mas jadi mesum!” gerutunya kesal lantaran merasa malu terus menerus digoda.


“Mungkin aku begini karena mesinku sudah berkarat efek terlalu lama menganggur,” jawabnya asal.


Viona melebarkan mata melotot pada Bima disusul sebuah tinju ke lengan atas Bima. “Bisa diem nggak!” serunya galak. Wajah Viona cemberut masam dengan pipi merona merah.


“Kenapa aku harus diam sayang?”


“Hih… aku malu tau nggak!” Viona menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya dan membanting punggung ke sandaran kursi.


Bima tergelak kencang, sejak dulu Viona memang selalu sepolos itu. Padahal sekarang ini dia adalah wanita yang sudah pernah menikah dan juga sudah mempunyai anak, akan tetapi jika membahas hal-hal intim, otomatis Viona akan merona malu seperti biasanya.


“Iya deh maaf.” Bima mengusap kepala Viona sekilas, sejak kemarin rona bahagia tercetak jelas di wajah tampannya.


“Jangan diulangi!” ujar Viona masih dengan bibir mengerucut.


“Iya, gak akan kuulangi sekali, paling juga puluhan kali.” Bima terus saja iseng menjahili wanita yang duduk di sebelahnya.


“Coba ingat-ingat. Kemarin Mas salah makan atau bagaimana? kalau berkarat minum saja oli mesin!” dengus Viona jengkel.


“Tentu saja itu memang harus, hanya saja oli yang cocok denganku bukan sembarang merek. Hanya satu merek saja yaitu Vi-o-na.”


“Erghhh….” Viona kembali meninju bahu Bima.


Sepanjang perjalanan Bima terus saja menggoda Viona. Awalnya wanita mungil itu merasa jengkel karena malu, tetapi pada akhirnya mereka pun tertawa bersama.


*****


Nara menghambur keluar begitu mendengar deru mesin mobil berhenti di halaman rumah. Ia makin berjingkrak senang kala melihat yang datang adalah kedua orang tuanya, bukan cuma sang bunda.


“Ayaaah... gendong.” Nara melompat-lompat riang sambil mengulurkan kedua tangannya.


Mereka memasuki rumah. Langkah Bima terhenti di ambang pintu ruang tamu kala mendapati Rima ada di dalam. Jujur saja ia masih merasa canggung bertemu dengan Rima.


Viona juga merasa seperti kepergok selingkuh, ia sedikit kaget karena ibunya ada di dalam, menundukkan pandangan ke lantai dengan tangan meremas paper bag berisi makanan.


“B-Bu. Ka-kapan datang?” Viona tergeragap.


“Tadi sore,” sahut Rima singkat.


“Selamat malam Tante, bagaimana kabarnya?” Bima menyapa sopan.


“Kabar baik.”


Rima menatap bergantian pada Bima, Viona juga Nara. Apa yang dikatakan Bik Yati bukanlah isapan jempol belaka. Ketiganya tampak saling membutuhkan satu sama lain. Kini ia juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaiman Nara yang langsung menempel pada Bima dengan wajah cerahnya, begitu bahagia bergelayut di gendongan sang ayah.


Tatapan Rima melembut seraya mengulas senyum. “Apa yang kalian bawa?” tanyanya ramah.


“Kami membeli beberapa menu untuk makan malam karena ingin makan bersama Nara di rumah,” jawab Viona masih dengan wajah tegangnya.


“Kebetulan sekali, Ibu juga belum makan malam. Tadi Ibu juga bawa sop buntut kesukaanmu dari rumah, bisa disajikan sebagi pelengkap hidangan yang kalian beli, jadi kita bisa makan bersama.”


“Eh, i-iya Bu. Aku ke ruang makan dulu untuk menyiapkan makan malam kita.” Viona sedikit merasa lega karena ibunya tak mengusir Bima., ia bergegas ke ruang makan dengan paper bag di tangan.


“Ayo masuk Bim,” ucap Rima karena sejak tadi Bima masih berdiri di ambang pintu.


“Iya Tante.”


“Kenapa panggil Tante, panggil saja Ibu seperti dulu. Apakah aku sudah tak layak dipanggil Ibu olehmu?” Rima menatap dalam dan sendu pada Bima. Bagaimanapun juga Bima pernah menjadi bagian dari keluarganya.


“Sama sekali bukan begitu. Hanya saja saya merasa tak pantas.” Bima menelan ludahnya susah payah efek dari tenggorokannya yang tercekat.


“Bagiku kamu tetap anakku. Jadi jangan jadikan Ibu seperti orang asing.”


Sudut hati Bima dilanda haru hebat menyeruak seiring sudut matanya yang ikut menggenang, tak menyangka bahwa Rima masih mau menganggapnya anak setelah apa yang dilakukannya pada Viona dulu. “Terima kasih, Bu. Terima kasih.”