Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Rumah Nara



Di basemen mall, Juna sempat bersitegang dengan Bima dan sedikit memaksa hendak membawa serta bungkusan boneka bersamanya. Bima menolak dan berbisik mengingatkan bahwa Juna tak punya hak melarangnya mendekati darah dagingnya sendiri.


Suasana mulai memanas, Viona mendesahkan napasnya bimbang, khawatir terjadi baku hantam di hadapan anaknya. Kemudian suara si kecil Nara kembali menginterupsi para lelaki yang saling melempar tatapan tajam. Gadis kecil itu merajuk meminta segera pulang lantaran sudah tak sabar ingin bermain dengan boneka barunya, mau tak mau Juna mengalah meskipun rasanya tak rela.


Mobil mereka melaju beriringan hingga sampailah di kediaman Viona. Nara langsung turun dengan cepat dari mobil yang dikendarai Juna, berlari ke teras dan membuka pintu rumah lebar-lebar.


“Ayo bawa masuk Om,” pinta Nara tak sabar pada Bima yang juga baru turun sambil memangku bungkusan besar itu.


Viona menyelipkan jemari menyugar rambutnya dan memejamkan mata sejenak lalu memijat pelipisnya. Wanita bertubuh mungil itu tadinya tidak akan membiarkan Bima masuk dan hendak mengambil alih boneka begitu mereka sampai di depan rumah. Namun, anaknya mendahuluinya dan kini justru malah mengundang Bima untuk masuk ke dalam rumah mereka.


Raut wajah Juna makin tak suka, ia menyela masuk terlebih dahulu dan melirik Bima dengan sudut mata menghunuskan tatapan permusuhan. Dia mengenyakkan diri duduk di ruang keluarga yang terlihat jelas dari ruang tamu, sengaja memanas-manasi Bima ingin menujukkan kedekatannya dengan si pemilik rumah dan juga ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah sering berada di sini. Bima berekspresi kecut kemudian kembali tersenyum manis saat fokusnya tertuju kepada Nara.


“Ayo, simpan di sini Om.” Nara menepuk-nepuk kursi ruang tamu meminta Bima menaruh bungkusan boneka di sana.


Bima yang berdiri di ambang pintu masih ragu untuk masuk lantaran Viona belum mempersilakan, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Viona juga anaknya, untuk itu Bima berusaha menghormati privasi Viona dengan tidak serta merta masuk ke dalam.


“Masuklah,” ucap Viona datar.


Bima melangkah masuk, matanya menjelajahi seluruh ruangan, walaupun rumah itu tak begitu besar, tetapi terasa nyaman. Ia meletakkan bungkusan boneka di kursi yang di tunjuk Nara, lalu duduk di samping anaknya itu.


“Nara pengen buka bonekanya sekarang, boleh?” tanyanya pada Bima.


“Buka aja, kan memang punya Nara,” sahut Bima lembut sambil mengusap kepala anaknya.


“Kalau gitu, Om pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi, Nara.”


Bima bermaksud beranjak pergi meskipun masih ingin tinggal, ditambah ia merasa dongkol menyaksikan tingkah Juna yang seperti sengaja ingin menyulut emosinya. Akan tetapi melihat raut wajah Viona yang tampak tak nyaman, Bima mengontrol diri untuk tak serakah. hari ini dia sudah cukup bahagia, mantan istrinya masih membiarkannya berinteraksi selangkah lebih dekat dengan putrinya.


Bik Yati membawa secangkir teh hangat di atas nampan, saat memasuki ruang tamu hendak menyajikannya dia terperanjat seperti melihat hantu. Wanita paruh baya itu terkejut melihat keberadaan Bima di sana, ia mengenalnya karena Bik Yati sudah cukup lama bekerja pada keluarga Abdul juga Rima.


“Den Bi-Bima, di mi-minum dulu tehnya.” Bik Yati tergeragap.


Nara mengerutkan keningnya saat Bik Yati berkata seperti itu. “Bibi, ini namanya Om Beruang,” protes Nara.


“Oh I-iya Nona kecil.”


“Lama tak jumpa Bik,” sapa Bima.


“I-Iya Den. Kalau begitu Bibi ke belakang dulu.”


*****


Halo my beloved readers.


Kali ini author akan mengadakan giveaway. Dua komentar yang menarik dan unik akan mendapatkan pulsa senilai 25rb per orang.


Periode giveaway terhitung sejak tanggal 15 Januari. Pengumuman pemenang tanggal 15 Februari 2021


dalam kurun waktu itu nanti akan dipilih dua komentar terbaik sebagai pemenang. Ayo tuliskan komentar terbaikmu sebanyak-banyaknya.


Regards


Senjahari_ID24