
Pemandangan di depannya terlihat amat menjengkelkan bagi Viona. Ia menghentikan langkah kira-kira dua puluh meter jauhnya dari pasangan yang menebarkan hawa panas di hatinya. Raut wajahnya sangat kentara memendam kekesalan, Viona seperti buku terbuka yang sangat mudah dibaca kala rasa tak menyenangkan mulai menggerogotinya.
“Mana stik-nya?”
Viona mengangkat telapak tangannya pada si caddy yang bertugas menemaninya, sedangkan pandangannya sedari tadi enggan lepas dari Bima dan Hana yang tampak mesra sambil sesekali tertawa bersama.
Viona bersiap pada posisi, mencoba fokus pada bola yang hendak dipukulnya dan menahan diri agar tak tergoda untuk melirik ke arah di mana mantan suaminya berada.
“Fiuhhh.” Viona membuang napasnya kasar.
“Fokus pada bolamu Viona!” dengusnya pada dirinya sendiri.
Setelah menarik dan membuang napas secara teratur Viona mulai berkonsentrasi pada bolanya, dia masih meyakini bahwa rasa tak nyaman yang menggelitiki kalbunya hanya dari efek cuaca dan juga kurangnya berolahraga, bukan rasa cemburu.
Netra cantiknya menatap bola putih yang akan dipukulnya. Semakin lama dipandang, bola itu malah membiaskan bayangan Hana dan juga Bima yang tengah tertawa bersama sambil merangkul satu sama lain. Viona menggertakkan giginya geram, mengayunkan tongkat di tangan sekuat tenaga melampiaskan rasa kesalnya pada bola kecil tak berdosa.
“Pukulan yang bagus Nyonya,” puji si caddy yang dikuncir ekor kuda sembari bertepuk tangan.
Viona tersenyum puas dan makin bersemangat untuk memukul bola selanjutnya sebagai ajang pelampiasan. Wanita cantik itu kembali fokus, mengeratkan pegangannya pada stik golf nyaris meremasnya seperti tengah menghancurkan musuh.
Ia kembali mengayunkan kedua tangannya, saking geramnya kali ini tongkat yang dipegangnya ikut terpelanting jauh hingga patah menyebabkan bunyi berderak yang cukup nyaring.
Viona ikut terlonjak kaget akan perbuatannya sendiri hingga mundur beberapa langkah. Suara gaduh itu juga tertangkap di telinga Bima yang sedang berpura-pura tak menyadarai keberadaan Viona di sekitarnya dan ia menoleh seketika.
Bima melepaskan rangkulannya dari Hana, ia cemas dan hendak berlari menghambur pada wanita yang selalu mengisi sanubarinya. Hana buru-buru menahan Bima dan menyuruhnya tetap tenang terkendali.
“Eits, Kakak! Ingat, kita sedang dalam misi!” Hana dibuat gemas oleh laki-laki ini. Bima benar-benar cinta mati pada Viona.
“Ck… ck ck. Mengatur siasat denganmu ternyata lebih sulit daripada berkoordinasi dengan anak TK,” sambungnya lagi sambil berdecak.
“Jadi aku harus bagaimana?” Bima tampak kebingungan.
“Ayo, kita ke sana bersama. Ingat, tenangkan ekspresi wajahmu jangan panik begitu. Viona Cuma mematahkan stik golf, bukan mau melahirkan!”
“Kenapa Vi?” Bima berusaha menetralkan nada suaranya agar terdengar biasa saja.
Viona menoleh. “Ah… i-itu. Mungkin karena aku sudah lama tak bermain golf, jadi tanganku kaku dan tongkatnya tak sengaja terlempar hingga patah,” ujarnya malu seraya mengangsurkan tangannya dari bahu hingga siku.
“Aku pun sama, sudah lama tak bermain. Tapi karena ada Mas Bima yang mengajari jadi aku tak terlalu kesulitan,” timpal Hana dengan nada gembira, membuat Viona iri setengah mati.
“Oh iya, bagaimana kalau Mas ajari Viona bermain golf juga? Kebetulan aku mau ke toilet dulu, perutku mulas. Daah….”
Hana mencari alasan untuk memberi mereka ruang dan waktu sejenak. Melakukan trik Tarik ulur supaya Viona mampu menelaah perasaanya sendiri. Dari pengamatan Hana, sejak tadi mereka bertemu di dekat restoran, bahasa tubuh Viona memancarkan aura tak suka melihat Bima berdekatan intim dengan wanita lain.
“Mau… kuajari?” tawar Bima canggung.
“Nggak usah Mas, nanti ngerepotin,” Viona seolah menolak namun hanya setengah hati.
“Sama sekali nggak ngerepotin. Ayo, mulai.”
“I-iya,” Viona tergeragap.
Bima memosisikan diri di belakang tubuh mungil mantan istrinya. Jantung Viona berdebar tak karuan saat dada bidang Bima merapat dengan punggungnya, kemudian bersama-sama memegang tongkat untuk memukul bola dan luapan rasa tak biasa menyeruak hebat tak terkira.
“Pegang kuat tapi jangan terlalu erat, ayunkan dengan perasaan, jangan terlalu kencang,” jelas Bima yang sedikit menundukkan tubuhnya, membuat Viona berdesir tak karuan karena wajah tampan Bima nyaris menempel di pelipisnya.
“I-iya Mas.” Viona melipat bibir berusaha menyembunyikan kegugupan juga senyum senangnya.
Hana memerhatikan dari kejauhan dan ia tertawa kecil. “Hhhh… mereka ini bodoh atau apa? sudah bukan remaja lagi tapi tak pandai mengungkapkan isi hati.”
*****
Jangan lupa bayar parkir ya my beloved readers 😳😳. Berupa like, komentar dan vote seikhlasnya, thank you 💕.