Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Aku Mencintaimu



Viona baru saja selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidur selutut berwarna putih berbahan lace. Ia duduk menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang sambil menunggu Bima yang tengah membuatkan susu hamil untuknya.


Terdengar bunyi derit pintu yang terbuka, Bima masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan beberapa keping biskuit.


"Hai ibu hamilku yang cantik, ayo minum dulu susunya, kubawakan juga beberapa keping biskuit. Kuperhatikan saat makan malam tadi kamu hanya menelan sedikit makanan, bahkan tidak sampai sepuluh sendok." Bima meletakkan nampan di atas nakas yang tepat berada di sisi tempat tidur.


"Ughh ... suamiku ini manis sekali." Viona mencubit hidung mancung suaminya gemas.


"Kamu tahu? Apa yang kamu lakukan barusan membangunkan sisi lain dalam diriku. Jangan mengalihkan fokusku, atau aku akan kehilangan kendali dan membuatmu kelelahan," ucap Bima sambil mengulum senyumnya dan mengacak rambut Viona.


"Ayo makan dulu biskuitnya, ini biskuit rasa cokelat kesukaanmu bukan?" Bima mengambil piring kecil berisi kepingan biskuit dan memberikannya ke pangkuan Viona.


"Aku tidak pernah bermaksud menggoda, itu hanya perasaan Mas saja. Atau mungkin suamiku ini memang tipe yang mudah sekali tergoda," sahut Viona sambil terkikik geli.


"Tapi dari mana Mas tahu aku suka biskuit cokelat?" sambungnya lagi seraya mengambil sekeping biskuit dan memasukannya ke dalam mulut kemudian mengunyahnya. Rasa lezat dari biskuit yang lumer langsung membuat indera pengecapnya berpesta pora. Biskuit cokelat yang dicicipinya kali ini sangatlah lezat, bahkan tanpa sadar Viona terus menerus menyantap kepingan-kepingan biskuit berikutnya hingga habis tak tersisa, dan tak lupa meneguk susu hangatnya sampai isi gelasnya tandas.


"Ehm, itu ... itu tadi sore aku menelepon ibumu dan bertanya tentang makanan kesukaanmu. Aku sudah punya semua daftar makanan favoritmu, agar lain kali jika kita pergi makan diluar lagi, aku bisa memilihkan makananmu dengan benar," tutur Bima canggung, sambil mengusap-usap tengkuknya sendiri.


"I-itu karena aku malu jika bertanya langsung padamu. Sebagai suamimu aku bahkan tidak tahu hal-hal kecil tentangmu, tapi justru sahabatmu lebih memahami tentang dirimu daripada aku," jelasnya diiringi dengan embusan napas kasar, jelas terlihat Bima sedang dilanda cemburu.


Viona tertawa kecil menampakan deretan gigi putihnya, ia menangkup kedua sisi wajah Bima dan mengecup bibirnya sekilas.


"Jadi mas cemburu sama Juna?" tanya Viona sambil terkekeh pelan. "Dia hanya sahabatku, mungkin benar Juna memang tahu banyak tentangku, tapi kami hanyalah teman tidak lebih. Terima kasih, karena Mas telah berusaha memahamiku, aku sangat bahagia." Mata Viona berbinar mencerminkan apa yang dirasakan hatinya kini.


Keheningan membentang di dalam kamar itu, menyaksikan dua pasang mata yang saling menatap dalam penuh arti.


"Sebelumnya aku mungkin tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa karena tak pernah mengalami. Tapi rasa nyaman saat bersamamu juga benci melihatmu akrab dengan lelaki lain apakah mungkin ini yang disebut dengan cinta? Sikapku di awal pernikahan pasti telah banyak melukaimu, tapi kini, aku sangat takut kehilanganmu dan ingin selalu bersamamu sepanjang waktu. Maka dari itu izinkan aku untuk mengatakan ini walaupun mungkin sudah sangat terlambat."


Tangan Bima bergerak menggenggam dengan lembut punggung tangan Viona yang tengah menangkup wajahnya.


"Viona Rasyid, istriku, aku mencintaimu."